Opini  

Urgensi Pendidikan Karakter di Era Digital

Opini oleh Adriano Pagun (Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan sering dipahami sebatas urusan nilai, peringkat, dan ijazah.

Padahal, tujuan pendidikan jauh lebih luas. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.

Artinya, pembentukan karakter merupakan inti pendidikan, bukan pelengkap.

Karakter menentukan cara seseorang bersikap saat tidak ada yang mengawasi. Lulusan dengan nilai tinggi belum tentu jujur ketika ujian.

Pegawai yang cerdas belum tentu disiplin dan amanah. Berbagai kasus korupsi, perundungan, dan kecurangan akademik menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa karakter justru berbahaya.

Oleh karena itu, sekolah dan kampus perlu menjadi tempat menanam nilai, bukan hanya menyampaikan materi.

Pertama, keluarga merupakan pendidik karakter yang pertama. Anak belajar kejujuran, kesantunan, dan tanggung jawab dari kebiasaan di rumah.

Orang tua yang memberi teladan akan lebih efektif daripada orang tua yang hanya memberi nasihat.

Kedua, sekolah dan perguruan tinggi berperan menguatkan nilai tersebut melalui pembiasaan. Guru dan dosen tidak cukup mengajarkan teori tentang kejujuran.

Mereka harus menegakkan aturan secara adil, menghargai proses, dan menolak segala bentuk plagiarisme.

Nilai karakter juga dapat disisipkan dalam diskusi, kerja kelompok, dan kegiatan organisasi.

Ketiga, masyarakat dan media ikut membentuk karakter generasi muda. Di era digital, anak muda terpapar berbagai konten setiap hari.

Tanpa bekal karakter yang kuat, mereka mudah terbawa arus kebencian, hoaks, dan gaya hidup instan. Pendidikan harus membekali mereka dengan kemampuan menyaring informasi dan berpikir kritis.

Meskipun demikian, pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada slogan. Selama ini, banyak lembaga memajang kata-kata mutiara di dinding, tetapi lalai menerapkannya dalam keseharian.

Karakter tumbuh dari keteladanan dan pembiasaan yang konsisten, bukan dari hafalan.

Dengan demikian, pendidikan berperan besar dalam membentuk karakter bangsa. Bangsa yang maju tidak hanya memiliki warga yang pandai, tetapi juga warga yang jujur, disiplin, dan peduli pada sesama.

Sudah saatnya kita menempatkan karakter sejajar dengan prestasi akademik dalam setiap proses belajar.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *