Opini  

Pendidikan Bukan Sekadar Nilai di Atas Kertas

Opini oleh Maria Florentina Ceria (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI,PENA1NTT.COM — Sejak kecil, kita selalu diberi tahu bahwa sekolah itu penting. Orang tua menyuruh kita rajin belajar, guru menyuruh kita mengerjakan tugas, dan lingkungan sekitar seolah sepakat bahwa orang yang bersekolah tinggi pasti punya masa depan yang lebih baik.

Saya pun tumbuh dengan keyakinan itu. Namun, semakin lama saya menjalani dunia pendidikan, semakin sering muncul pertanyaan di kepala saya: sebenarnya pendidikan itu untuk apa? Apakah hanya untuk mendapatkan nilai bagus, ijazah, dan pekerjaan? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dari itu?

Lewat tulisan ini, saya ingin menyampaikan pendapat pribadi saya tentang pendidikan, berdasarkan apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya pikirkan selama ini.

Menurut saya, masalah pertama yang perlu kita akui bersama adalah kecenderungan kita menyamakan pendidikan dengan angka. Siswa dianggap pintar kalau nilainya tinggi, dan dianggap bodoh kalau nilainya rendah. Padahal, nilai hanyalah potret kecil dari proses belajar yang panjang.

Ada anak yang sulit menghafal rumus tetapi sangat pandai merawat teman yang sedang sedih. Ada juga anak yang nilai ujiannya biasa saja, tetapi sangat kreatif dan berani mencoba hal baru. Kalau semua itu tidak dihargai hanya karena tidak tertulis di rapor, saya khawatir sekolah justru mematikan hal-hal baik yang sebenarnya sedang tumbuh dalam diri anak.

Saya pernah melihat sendiri bagaimana tekanan nilai membuat orang belajar dengan cara yang keliru. Banyak teman saya belajar bukan karena ingin tahu, melainkan karena takut. Takut dimarahi, takut tidak lulus, takut dibandingkan dengan orang lain.

Akibatnya, belajar menjadi beban, bukan kegembiraan. Menjelang ujian, mereka menghafal semalaman, lalu seminggu kemudian lupa lagi hampir semuanya. Kalau pola seperti ini terus berulang, apa yang sebenarnya kita bawa pulang dari sekolah?

Menurut saya, pendidikan yang baik seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu, sehingga seseorang tetap mau belajar bahkan ketika tidak ada ujian yang menunggunya.

Hal kedua yang ingin saya bahas adalah peran guru. Saya percaya bahwa guru adalah jantung pendidikan. Sebagus apa pun kurikulum dan sebanyak apa pun fasilitas, semuanya akan kurang berarti kalau gurunya tidak mengajar dengan hati.

Saya masih ingat beberapa guru yang membekas dalam hidup saya, dan yang saya ingat bukan banyaknya materi yang mereka sampaikan, melainkan cara mereka memperlakukan kami. Mereka sabar mendengarkan, mau menjelaskan ulang tanpa membuat kami merasa malu, dan percaya bahwa kami bisa berkembang. Sikap seperti itu jauh lebih lama tinggal di ingatan dibandingkan rumus atau tanggal sejarah.

Sayangnya, tidak semua guru mendapat dukungan yang layak. Di banyak daerah, terutama daerah yang jauh dari pusat kota, guru harus mengajar dengan sarana yang terbatas dan penghasilan yang pas-pasan, bahkan ada yang harus menempuh jalan yang sulit setiap hari menuju sekolah. Kita sering menuntut guru untuk sempurna, tetapi lupa memperhatikan kesejahteraan dan pelatihan mereka.

Menurut saya, ini tidak adil. Kalau kita ingin kualitas pendidikan naik, memperhatikan guru harus menjadi prioritas, baik lewat pelatihan, penghargaan, maupun perbaikan kondisi kerja mereka. Guru yang dihargai akan lebih bersemangat menghargai muridnya.

Persoalan ketiga adalah kesenjangan pendidikan antara kota dan desa. Saya menyadari bahwa di banyak daerah di negeri ini, akses terhadap buku, internet, dan guru yang cukup masih menjadi barang mewah bagi sebagian anak. Ada anak yang harus berjalan jauh ke sekolah, ada yang belajar di ruang kelas yang atapnya bocor, ada pula yang harus berhenti sekolah karena harus membantu orang tua bekerja.

Mereka bukan kurang pintar atau kurang berusaha. Mereka hanya lahir di tempat yang kurang beruntung. Kalau kita jujur, itu bukan kesalahan mereka, dan sudah semestinya kita ikut merasa terpanggil untuk memperbaikinya.

Pendidikan seharusnya menjadi jalan yang adil bagi semua anak untuk memperbaiki hidupnya. Namun kenyataannya, kesenjangan ini bisa membuat anak dari keluarga kurang mampu semakin tertinggal, sehingga lingkaran kemiskinan sulit diputus.

Karena itu, menurut saya pemerataan pendidikan bukan sekadar program pemerintah, tetapi juga persoalan keadilan. Pembangunan gedung sekolah memang penting, tetapi tidak cukup. Yang dibutuhkan juga adalah guru yang mau bertahan, buku yang tersedia, dan dukungan bagi keluarga agar anak-anak mereka tetap bisa bersekolah tanpa dibebani biaya yang memberatkan.

Hal keempat yang menurut saya tidak boleh dilupakan adalah pembentukan karakter. Pendidikan yang hanya mengasah otak tanpa membentuk hati akan menghasilkan orang pintar yang belum tentu baik. Kita sudah sering melihat orang berpendidikan tinggi yang justru menyalahgunakan kepintarannya untuk menipu atau mengambil hak orang lain.

Karena itu, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat, dan kepedulian harus ditanamkan sejak awal, dan bukan hanya lewat nasihat, melainkan lewat teladan. Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang mereka dengar.

Dalam hal ini, keluarga mempunyai peran yang sangat besar. Sekolah tidak mungkin sendirian mendidik anak. Rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama. Saya sering melihat orang tua yang menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, lalu menyalahkan guru ketika anaknya bermasalah.

Padahal anak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan lingkungan sekitarnya. Kalau di rumah anak terbiasa melihat kejujuran, kerja keras, dan sikap saling menghargai, sekolah tinggal memperkuatnya. Tetapi kalau yang terjadi sebaliknya, guru akan bekerja dua kali lebih keras untuk hasil yang belum tentu sama.

Hal kelima adalah soal teknologi. Perkembangan teknologi membuat informasi begitu mudah didapat, dan itu menurut saya sebuah anugerah sekaligus tantangan. Kita bisa belajar apa saja lewat internet, bahkan dari orang-orang hebat di seluruh dunia.

Namun, kemudahan ini juga membuat banyak orang malas berpikir. Tugas dikerjakan dengan menyalin, jawaban dicari dengan cepat tanpa dipahami. Saya mengakui bahwa saya sendiri pun kadang tergoda untuk mengambil jalan pintas. Karena itu, kita perlu belajar memakai teknologi dengan bijak: sebagai alat bantu untuk memahami, bukan pengganti proses berpikir.

Teknologi juga tidak akan pernah bisa menggantikan hubungan antarmanusia dalam proses belajar. Layar sebaik apa pun tidak bisa menggantikan tatapan guru yang tahu bahwa muridnya sedang kesulitan, atau diskusi hangat di dalam kelas yang membuat gagasan saling bersambut.

Karena itu, saya kira masa depan pendidikan bukan soal memilih antara guru atau teknologi, tetapi bagaimana keduanya bisa saling melengkapi. Guru tetap menjadi pendamping utama, sementara teknologi membuka pintu pengetahuan yang lebih luas bagi anak-anak yang selama ini sulit menjangkaunya.

Saya juga merasa bahwa pendidikan kita perlu lebih dekat dengan kehidupan nyata. Tidak jarang siswa bertanya, untuk apa belajar ini, dan guru sendiri kesulitan menjawabnya. Pelajaran terasa jauh dari kenyataan sehari-hari.

Padahal, belajar akan jauh lebih bermakna kalau dikaitkan dengan lingkungan di sekitar anak, entah itu budaya setempat, persoalan di masyarakat, atau kemampuan hidup sederhana seperti mengelola uang, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Pendidikan yang relevan akan membuat anak merasa bahwa belajar itu berguna, bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan.

Sebagai seorang mahasiswa, saya juga merasa perlu bercermin. Kita sering mengeluhkan sistem, guru, atau fasilitas, tetapi lupa bertanya apakah kita sendiri sudah sungguh-sungguh belajar. Pendidikan memang tanggung jawab bersama, namun pada akhirnya kemauan belajar tetap ada pada diri masing-masing.

Tidak ada sistem yang sempurna, dan menunggu kondisi ideal hanya akan membuat kita jalan di tempat. Saya belajar bahwa perubahan sering dimulai dari hal-hal kecil: datang tepat waktu, membaca lebih banyak, berani bertanya, dan jujur dalam mengerjakan tugas.

Kalau boleh berharap, saya ingin melihat pendidikan yang memanusiakan manusia. Pendidikan di mana anak tidak merasa takut salah, karena kesalahan dipandang sebagai bagian dari belajar. Pendidikan di mana guru dihargai, murid didengar, dan orang tua ikut terlibat.

Pendidikan di mana anak dari desa maupun kota punya kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkannya. Mungkin terdengar terlalu ideal, tetapi menurut saya, cita-cita besar justru perlu kita pegang supaya kita tahu ke mana harus melangkah.

Pada akhirnya, bagi saya pendidikan bukan hanya soal duduk di bangku sekolah atau memegang ijazah. Pendidikan adalah proses menjadi manusia yang lebih berpikir, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama. Nilai dan gelar tetap penting, tetapi bukan tujuan akhir.

Kalau pendidikan berhasil, yang berubah bukan hanya masa depan seseorang, melainkan juga cara ia memandang dunia dan memperlakukan orang lain. Itulah yang menurut saya perlu terus kita perjuangkan, mulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *