Opini  

Gempuran AI di Dunia Pendidikan: Ketika Buku Bukan Lagi Sumber Pengetahuan Tunggal

Opini oleh Maria Godeliva Nilam (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI,PENA1NTT.COM — Dulu ,kalau kita ingin pintar atau mencari suatu pengetahuan, kita harus pergi keperpustakaan atau toko-toko buku. Kita harus membuka buku setebal ratusan halaman,meringkas atau mencatat poin-poin pentingnya, dan memahaminya. Dulu buku adalah jendela dunia,dan guru adalah kunci pembukanya.Namun hari ini realitasnya sudah berubah buku sudah diganti dengan layar HP.

Gempuran AI telah mengubah segalanya.Cukup ketik satu pertayaan di ChatGPT, gemini, atau Meta AI, maka jawaban, rangkuman buku, bahkan skripsi lengkap bisa muncul hanya dalam kurung waktu 10 detik. Di sinilah pendidikan kita diuji. Ketika buku bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan,apakah sekolah masih relavan?

Realitanya,banyak siswa yang kini meninggalkan buku.Mengapa harus membaca buku setebal 300 halaman kalau AI bisa merangkumnya hanya menjadi 3 paragraf ? Mengapa harus pusing memikirkan ide esai kalau AI bisa membuatnya? Kemudian ini memang membantu, tetapi diam-diam membunu budaya literasi kita.

Menurut data Badan Pusat Statistik(BPS)secara nasional rata-rata tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia masih berada di angka 54,80 persen atau masuk kategori sedang. Data ini menjadi pengingat betapa petingnya penguatan budaya literasi ini bukan karena siswa tidak punya buku melainkan mereka merasa tidak butuh buku lagi.

Gempuran ini juga mengguncang para guru dan perpustakaan. Dulu guru adalah pusat informasi. Tapi sekarang, siswa bisa mendapatkan penjelasan yang lebih menarik, lebih lengkap, dan lebih sabar dari AI. Perpustakaan kampus yang dulu ramai,kini sepi.

Mahasiswa lebih memilih WIFI gratis daripada rak buku. Jika dulu tantangan pendidikan adalah keterbatasaan sumber,kini tantangannya justru adalah kebanjiran sumber yang tidak terfilter.

Lalu,dimana letak bahayanya?Bahayanya bukan pada AI-nya,tetapi pada cara kita menggunakannya. Informasi dari AI belum tentu benar,ia bisa berhalusinasi dan memberikan fakta palsu dengan sangat meyakinkan.

Siswa yang malas cek fakta akan menelan mentah-mentah informasi salah tersebut. Selain itu,pengetahuan dari buku lahir dari proses panjang,perenugan,dan pengalaman penulis. Sementara pengetahuan dari AI lahir dari rangkuman algoritma. Satu memberi kedalaman sedangkan satu hanya memberi kecepatan.

Kita tidak bisa menghentikan gempuran AI yang harus kita ubah adalah cara kita memandangan sumber pengetahuan.

Pertama,jadikan buku sebagai sumber kebijaksanaan,bukan hanya informasi. Informasi bisa dicari di AI,tapi kedalaman  berpikir,empati,dan imajinasi hanya bisa didapati dari membaca buk secara utuh.

Kedua,ajarkan siswa menjadi kurator pengetahuan. Di era banjir informasi,tugas terpenting bukanlah mencari informasi,tapi menyaringnya.Guru harus melatih siswa untuk membandingkan jawaban AI dengan isi buku,mengkritisi,dan memverifikasi.

Ketiga,hidupkan kembali perpustakaan dengan cara baru. Jangan paksa siswa kembali ke buku cetak 100%. Gabungkan misalnya,tugasnya adalah mencari topik di Al lalu bandingkan dengan apa yang dikatakan dalam buku di perpustakaan.

Pada akhirnya,gempuran AI bukanlah akhir dari buku. Justru ini adalah pengingat bahwa di saat semua orang bisa mendapatkan informasi dengan muda, mereka yang mau bersusah payah membaca buku secara mendalamlah yang akan tetap unggul. AI bisa memberi kita jawaban,tapi hanya buku dan guru yang bisa memberi kita pemahaman.

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *