MANGGARAI, PENA1NTT.COM– Dalam rangka memeriahkan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 dan Bulan Bahasa, SMAS St. Klaus Kuwu menggelar kegiatan Bincang Cerpen di Aula SMAS St. Klaus Kuwu, Senin (26/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata komitmen lembaga pendidikan dalam menumbuhkan minat baca, meningkatkan kemampuan literasi, serta mengembangkan kreativitas dan kecintaan peserta didik terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Kegiatan mengusung semangat Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa dengan tema “Merah Berani Muda Beraksi”. Tema tersebut menjadi ajakan bagi para peserta didik dan guru untuk membangun semangat keberanian, kreativitas, serta daya juang dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kepala SMAS St. Klaus Kuwu, RD. Urbanus Gara, dalam sambutannya menegaskan bahwa sastra tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berpikir, tetapi juga menyentuh dimensi rasa.
“Sastra tidak hanya mengolah pikiran, tapi juga mengolah rasa,” ujar RD. Urbanus.
Menurutnya, karya sastra dapat membantu seseorang melihat dan menganalisis berbagai persoalan kehidupan secara lebih objektif, termasuk persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk tidak melihat sastra sekadar sebagai karya tulisan, tetapi juga sebagai media untuk memahami realitas kehidupan dan membangun kepekaan terhadap lingkungan sekitar.
Berbagi Perspektif dan Pengalaman
Bincang cerpen tersebut menghadirkan tiga pemantik dengan latar belakang berbeda, yakni Rey Gregorius dari Klub Buku Petra, Frater Diki Ngamput, yang merupakan frater TOP, guru Kitab Suci sekaligus Kepala Asrama SMAS St. Klaus Kuwu, serta Lala Meko, salah satu siswi SMAS St. Klaus Kuwu.
Diskusi dipandu oleh Fridiani Nalimen sebagai host.
Kehadiran para pemantik dengan latar belakang yang berbeda memberikan warna tersendiri dalam diskusi. Para peserta tidak hanya diajak memahami karya sastra dari sisi isi, tetapi juga melihatnya melalui pengalaman, perspektif dan pemaknaan yang beragam.

Dalam pembahasan cerpen “Menggambar Seseorang”, peserta diajak menyelami isi cerita, memahami karakter tokoh, serta menemukan pesan dan makna yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para siswa untuk menyampaikan pendapat, mengasah kemampuan berpikir kritis, membangun keberanian berbicara, serta belajar menghargai perbedaan sudut pandang dalam memahami sebuah karya sastra.
Bincang cerpen tidak berhenti pada pembahasan sebuah karya. Kegiatan itu diarahkan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong siswa menjadikan budaya membaca dan menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Melalui interaksi antara pemantik dan peserta, para siswa diajak menyadari bahwa sastra dapat menjadi media untuk memahami kehidupan, mengenali pengalaman manusia, sekaligus mengembangkan kepekaan terhadap persoalan sosial di lingkungan sekitar.
Menjaga Persatuan dan Menghargai Keberagaman
Penyelenggaraan Bincang Cerpen juga sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga persatuan.
Di lingkungan pendidikan, kegiatan literasi seperti ini dinilai penting untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan berbahasa, tetapi juga daya pikir kritis, kreativitas dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui kegiatan tersebut, SMAS St. Klaus Kuwu berharap semangat literasi terus tumbuh dalam diri peserta didik.
Para siswa diharapkan semakin dekat dengan dunia baca dan tulis, berani menyampaikan gagasan, serta mampu menjadikan bahasa dan sastra sebagai sarana untuk belajar, berefleksi dan memahami kehidupan.
Semangat “Merah Berani Muda Beraksi” pun tidak hanya menjadi tema kegiatan, tetapi diharapkan dapat diwujudkan melalui keberanian generasi muda untuk membaca, berpikir, berkarya dan menyampaikan gagasan secara positif.













