Opini  

Membangun Keseimbangan Pendidikan di Era Modern

Opini oleh Anjelina P. Ayu Nomor (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan adalah bagian yang terpenting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, kita dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan nilai-nilai yang dapat kita gunakan dalam kehidupan kita. Selama ini, kita hanya menganggap keberhasilan itu dilihat dari nilainya akademik saja.

Siswa dan mahasiswa yang mendapat nilai yang bagus dianggap lebih berhasil dibandingkan mereka yang mendapatkan nilai rendah. Padahal, pendidikan bukan tentang nilainya saja, tapi memiliki tujuan yang lebih luas. Pendidikan yang sesungguhnya itu mengajarkan kita berpikir, menghargai perbedaan, menumbuhkan kemampuan menyelesaikan masalah, serta terus belajar dan melangkah sepanjang hidup.

Nilai akademik bukan jadi satu-satunya ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan seseorang. Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing; ada siswa yang memiliki nilai akademik, ada juga siswa yang memiliki kemampuan di bidang non-akademik.

Perbedaan tersebut bukan menjadi alasan bagi kita untuk memandang seseorang lebih tinggi atau rendah berdasarkan nilai yang mereka dapat. Pendidikan membantu setiap orang untuk mengembangkan potensi atau kelebihan yang mereka miliki. Pendidikan juga bukan tentang nilainya saja, tapi tentang pembentukan karakter—bagaimana siswa tersebut belajar tentang kesopanan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.

Seseorang memiliki nilai yang tinggi, tetapi tidak memiliki karakter yang disiplin dan kejujuran, sama halnya tidak memiliki [pendidikan] yang seutuhnya. Sebaliknya, ketika seseorang memiliki nilai yang rendah, tetapi mereka memiliki karakter yang jujur dan disiplin maka ia memiliki nilai kemanusiaan yang utuh.

Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter. Pendidikan juga mempersiapkan seseorang untuk menghadapi kehidupan yang nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang [individu] tidak hanya menjawab soal ujian, tapi bagaimana ia bisa menyelesaikan masalah, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan bekerja sama. Kemampuan itu tidak dilihat dari angka yang ia peroleh, tapi bagaimana ia bersikap, bertanggung jawab, berpikir, dan memperlakukan orang lain.

Banyak dari kita terlalu fokus pada nilai akademik yang membuat kita menjadi depresi. Mereka merasa keberhasilan hanya dilihat dari mendapatkan nilai tinggi, sehingga belajar semata hanya untuk mendapatkan nilai.

Akibatnya, pemahaman materi, pengembangan potensi, dan proses belajar diabaikan. Peserta didik akan menjadi gagal dan putus asa ketika mendapatkan nilai rendah, meskipun sebenarnya mereka memiliki potensi yang belum mereka kembangkan. Pandangan seperti ini harus diubah supaya pendidikan bukan sekadar perlombaan mendapatkan nilai.

Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam perubahan pandangan ini. Guru bukan hanya memberikan materi, tapi harus memberikan bimbingan kepada peserta didik agar mereka bisa melihat potensi yang mereka miliki dan karakter yang baik.

Orang tua juga jangan hanya melihat dari nilai saja, mereka perlu memberikan apresiasi terhadap usaha, proses belajar, dan perkembangan kemampuan anak. Dukungan ini akan membuat seorang anak percaya diri serta terus belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.

Ketika anak memperoleh nilai rendah, orang tua harus mengetahui penyebabnya dan memberikan dukungan kepadanya, bukan malah membandingkan anaknya dengan orang lain dan memarahinya.

Kata yang sederhana, “tidak apa-apa, mari belajar lagi,” dapat memberikan dukungan yang jauh lebih baik daripada membandingkan anak. Anak juga perlu merasa dihargai, bukan karena prestasi yang baik, tapi karena usaha dan perkembangan dirinya. Pendidikan juga harus memberikan ruang untuk perkembangan keterampilan.

Karena manusia harus berinteraksi dengan orang lain, oleh karena itu, dalam pendidikan kita harus belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Pengalaman ini mungkin tidak akan mendapatkan nilai dalam rapor, tapi ini sebagai nilai yang penting dalam kehidupan peserta didik.

Di era yang sekarang mengalami perubahan, pendidikan harus membantu siswa dalam beradaptasi. Perkembangan teknologi membuat kita mudah mendapatkan informasi, tapi siswa juga harus mampu menyaring informasi yang benar dari hoaks, serta mencari tahu tentang keabsahan informasi tersebut. Mereka harus menggunakannya dengan bijak, penuh tanggung jawab, serta berpikir secara kritis sebelum menyebarkan informasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan harus menghadapi tantangan zaman yang nyata.

Pendidikan memiliki tujuan yang luas, seperti membantu manusia berkembang secara kritis. Pengetahuan harus seimbang dengan karakter, dan keterampilan harus seimbang dengan tanggung jawab. Jika pendidikan hanya dilihat dari nilai, seseorang akan menjadi pintar secara akademik, tapi belum mampu menghadapi persoalan atau masalah dalam kehidupan. Pendidikan juga berorientasi pada perkembangan manusia dan memperhatikan kemampuan yang dimiliki dalam mengenal dirinya sendiri.

Setiap orang memiliki kemampuan, kekurangan, dan cara belajarnya masing-masing. Ada seseorang yang memiliki pemahaman yang lambat, dan ketika seseorang mengenali dirinya sendiri, ia akan menemukan tujuan dan mengembangkan kemampuannya. Proses itu tidak dapat diukur hanya melalui ujian. Perkembangan kepercayaan diri, keberanian berbicara di depan banyak orang, kemampuan bekerja sama, dan ketahanan dalam menghadapi kegagalan adalah bagian dari keberhasilan pendidikan.

Selain itu, pendidikan harus memberikan kesadaran kepada manusia bahwa keberhasilan tidak datang dengan cepat. Pasti ada proses atau usaha yang lama, butuh kesabaran, ketekunan, dan kemauan untuk terus mencoba walau tantangan selalu datang. Ada petatah mengatakan, “Kegagalan bukanlah membuat kita putus asa dan menyerah, tapi itu sebagai pelajaran dan awal kesuksesan.”

Dalam kehidupan nyata, kita akan menghadapi berbagai persoalan yang mampu membentuk kita menjadi pribadi berkarakter kuat. Kita harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dan mengendalikan emosi.

Oleh karena itu, pendidikan harus mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Pendidikan sebagai tempat menemukan kemampuan yang terbaik dalam diri, serta harus menumbuhkan kecerdasan, karakter, dan rasa tanggung jawab.

Sekarang sudah waktunya kita memandang pendidikan secara mendalam dan luas. Anak yang mendapatkan nilai tinggi memang harus diberikan apresiasi, tapi anak yang mencoba lagi setelah gagal pun layak mendapatkan apresiasi.

Pendidikan bukan sekadar tentang nilai, melainkan bagaimana seseorang mencapai keberhasilan dan mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik, serta bagaimana pengetahuan membentuk cara ia berpikir.

Pendidikan juga tentang kemampuan seseorang membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Kehidupan manusia selalu berhubungan dengan orang lain; kita akan bergaul atau berinteraksi dengan orang yang memiliki latar belakang dan kebiasaan yang berbeda.

Oleh karena itu, siswa harus mampu menghargai setiap perbedaan dan memperlakukannya dengan baik. Kemampuan kita dalam menghargai orang lain bukanlah diukur dari nilai rapor, melainkan dibentuk dalam kehidupan atau interaksi sehari-hari.

Pada akhirnya, keberhasilan peserta didik tidak hanya diukur dari angka semata. Nilai memang penting, tetapi itu hanyalah bagian dari proses belajar, bukan jadi satu-satunya tujuan. Jadi, pendidikan membantu seseorang berkembang dengan baik—baik dalam aspek akademik, non-akademik, maupun kehidupan sosialnya. Pendidikan tidak sekadar mengajarkan seseorang menjadi pintar, tapi bagaimana ia bisa berguna bagi diri sendiri dan sesama dalam kehidupannya.

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *