MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Guna mengoptimalisasi pelayanan kesehatan di masa pemulihan pascabencana, Posko Health Emergency Operation Center (HEOC) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai membekali para tenaga kesehatan (Nakes) dengan pelatihan dukungan psikososial.
Kegiatan ini digelar melalui kolaborasi bersama Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (UNTAR) Jakarta.
Pelatihan yang berlangsung di Posko HEOC Dinkes Manggarai tersebut menyasar para tenaga kesehatan dan staf dinas yang berada di garis depan pelayanan selama masa tanggap darurat.
Seluruh rangkaian kegiatan dipandu secara langsung oleh pakar psikologi UNTAR, Dr. Meiske Yunithree Suparman, M.Psi., Psikolog, bersama tim relawan.
Dalam sesi tersebut, Dr. Meiske memaparkan bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik dan infrastruktur, tetapi juga membawa tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kinerja para petugas.
Oleh karena itu, materi utama dalam pelatihan ini difokuskan pada penerapan Pertolongan Pertama Psikologis atau Psychological First Aid (PFA).
Melalui pelatihan PFA ini, para nakes dibekali keterampilan untuk mengenali gejala tekanan psikologis sejak dini, menjaga kesehatan mental pribadi agar terhindar dari kelelahan ekstrem (burnout), serta memberikan pendampingan awal yang empatik kepada warga terdampak tanpa mengabaikan batas kemampuan diri.
“Para tenaga kesehatan adalah tumpuan utama masyarakat saat krisis. Namun, mereka juga manusia biasa yang berpotensi mengalami kelelahan emosional atau burnout jika terus-menerus menyerap beban trauma tanpa mekanisme self-care yang tepat,” ujar Dr. Meiske.
Ia menambahkan, pembekalan PFA difokuskan untuk memperkuat kapasitas internal nakes agar mampu mengelola stres secara mandiri sekaligus membangun sistem saling dukung antarrekan kerja (peer support) demi mempertahankan daya tahan pelayanan di lapangan.
Menurutnya, kestabilan emosional petugas medis merupakan kunci penting dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan pelayanan kesehatan di lapangan.
Senada dengan hal tersebut, Juru Bicara Posko, Andi Jemahu, menegaskan bahwa perhatian terhadap kondisi mental nakes menjadi landasan utama dalam menjaga efektivitas seluruh layanan medis di wilayah terdampak gempa.
“Kami menyadari keberhasilan masa pemulihan pascagempa ini sangat bergantung pada kondisi fisik dan mental para petugas di lapangan. Jika garda terdepan kita mengalami tekanan psikologis berat, tentu efektivitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat juga akan terganggu,” tegas Andi.
Andi juga menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Psikologi UNTAR Jakarta, khususnya Dr. Meiske Yunithree Suparman dan tim relawan.
Kehadiran tim UNTAR dinilai memberi dorongan moral sekaligus memperkokoh kesiapan sistem kesehatan daerah dalam mengelola dampak psikososial bencana.
Melalui sinergi ini, pemulihan pascagempa di Kabupaten Manggarai diharapkan dapat berjalan secara menyeluruh.
Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada penyembuhan luka fisik dan perbaikan fasilitas medis, tetapi juga memberi ruang bagi pemulihan psikologis para petugas yang terus mengabdi di garis terdepan.













