Opini oleh Ceslaus Sutrisno Paputra (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Di banyak ruang kelas kita, nilai tinggi sering diartikan sebagai kemampuan mengingat. Siswa yang dapat mengulang isi buku dengan tepat dianggap pandai, sedangkan siswa yang bertanya “mengapa” kerap dianggap mengganggu jalannya pelajaran. Padahal, pendidikan yang hanya menuntut hafalan belum benar-benar memerdekakan.
Menghafal memang punya tempat. Rumus, kosakata, dan fakta dasar perlu dikuasai sebagai bekal. Masalah muncul ketika hafalan dijadikan tujuan akhir. Siswa lulus ujian, tetapi gagap saat harus menerapkan ilmunya pada persoalan nyata.
Hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca, numerasi, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD. Data tersebut mengisyaratkan bahwa kemampuan bernalar kita belum terlatih secara memadai.
Pendidikan yang memerdekakan berarti memberi ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, bertanya, dan menemukan sendiri makna dari apa yang dipelajari. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kebenaran, tetapi pendamping yang memantik rasa ingin tahu. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan harus menuntun tumbuhnya kodrat anak, bukan menyeragamkannya.
Kurikulum Merdeka sebenarnya telah membuka jalan melalui pembelajaran berbasis proyek dan diferensiasi. Namun, kurikulum yang baik tidak otomatis mengubah kebiasaan di kelas. Selama penilaian masih berfokus pada ujian tertulis berbasis hafalan, guru dan siswa akan tetap mengejar skor, bukan pemahaman. Karena itu, perubahan harus menyentuh cara menilai. Tugas analisis, diskusi, dan karya nyata perlu mendapat bobot yang layak.
Guru juga membutuhkan dukungan. Kita tidak dapat menuntut pembelajaran yang kreatif jika guru dibebani urusan administrasi yang menyita waktu, sementara pelatihan yang diterima jarang menyentuh praktik di kelas. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat perlu memandang guru sebagai mitra perubahan, bukan sekadar pelaksana kebijakan.
Orang tua pun memegang peran penting. Dukungan di rumah, misalnya dengan mengajak anak berdiskusi dan tidak hanya menanyakan nilai, akan menumbuhkan kebiasaan berpikir yang sama dengan yang dibangun di sekolah.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak yang diingat siswa, melainkan dari seberapa baik mereka berpikir, memilih, dan bertindak. Pendidikan yang memerdekakan melahirkan manusia yang tidak hanya tahu, tetapi juga mau dan mampu belajar sepanjang hayat.













