Yubileum 800 Tahun Fransiskus Assisi: Mewartakan Damai dan Persaudaraan Sejati

Perayaan Misa Yubileum 800 Tahun Santo Fransiskus Asisi tingkat Paroki Karot, Keuskupan Ruteng, Kabupaten Manggarai pada Minggu (04/10/2026).

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Peringatan Yubileum 800 Tahun wafatnya (Transitus) Santo Fransiskus Assisi dijadikan panggung gugatan terhadap kecenderungan formal Gereja yang kerap terjebak dalam perayaan seremoni.

Di Paroki Santo Fransiskus Asisi Karot, Keuskupan Ruteng, Kabupaten Manggarai, perayaan delapan abad ini diarahkan sebagai otokritik atas ambisi manusia modern sekaligus panggilan mendesak untuk merawat persaudaraan di tengah kompleksitas tantangan zaman.

Perayaan Misa Kudus puncak tersebut dipimpin oleh Pastor Paroki Karot, Pater Bonevantura Y. Lelo, OFM dengan didampingi para imam konselebran, pada Minggu (04/10/2026).

Di hadapan ratusan umat, biarawan-biarawati, serta pengurus pastoral paroki, perayaan liturgis ini dikemas sebagai pijakan refleksi kritis atas eksistensi Gereja dan umat di tengah realitas sosial kekinian.

Konteks Sejarah dan Makna Yubileum 800 Tahun

Santo Fransiskus Assisi (1181–1226) merupakan pendiri Ordo Saudara-Saudara Hina Dina (Order of Friars Minor / OFM) yang dikenal secara global sebagai tokoh pembawa damai serta Santo Pelindung Ekologi.

Perayaan Yubileum 800 Tahun ini menandai delapan abad perjalanan sejarah sejak wafatnya (Transitus) Fransiskus Assisi pada tahun 1226 silam.

Perayaan ini dirayakan secara serentak oleh Gereja Katolik universal dan seluruh keluarga besar Fransiskan di berbagai belahan dunia.

Takhta Suci Vatikan melalui Penitensiaria Apostolik menetapkan Yubileum 800 Tahun ini sebagai tahun rahmat khusus, di mana umat yang memenuhi syarat-syarat rohani tertentu dapat memperoleh Indulgensi Penuh.

Perayaan ini sekaligus menjadi momentum memperbarui komitmen gerejani terhadap keadilan, perdamaian, dan perlindungan lingkungan hidup.

Refleksi Kebun Anggur dan Pergumulan Diri

Mengacu pada Perumpamaan Kebun Anggur, Pastor Paroki yang akrab disapa Pater Bovan ini menjelaskan bahwa kebun anggur melambangkan Allah sendiri, alam semesta yang membutuhkan perawatan penuh kasih, serta diri setiap pribadi yang dipanggil untuk menghasilkan buah manis berupa karya kasih dan kebaikan.

Dalam uraiannya, ia menerangkan bahwa Santo Fransiskus Assisi bukanlah sosok manusia tanpa cela.

Menurut pengamatannya, Fransiskus merupakan sosok biasa yang pernah memiliki ambisi pribadi, berhasrat menjadi pusat perhatian, serta mendambakan pengakuan sosial.

“Apakah Fransiskus seorang manusia super yang membuat dia patut dikenang selama 800 tahun ini? Jawabannya: Tidak,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa melalui pergumulan atas kerapuhan pribadi itulah Fransiskus menemukan jalan perjumpaan dengan kasih Allah, yang kemudian mengubah jalan hidupnya menjadi pembawa damai.

Pax et Bonum: Empat Pilar Relasi Damai

Lebih lanjut, Pater Bovan menguraikan bahwa kasih Allah yang dihayati Fransiskus bermula dari penyerahan diri Kristus yang menjadi manusia, wafat di salib, serta senantiasa menawarkan diri dalam Sakramen Ekaristi.

Menurutnya, titik balik penting terjadi saat Fransiskus memberanikan diri merangkul penderita kusta. Fransiskus memandang penderita kusta yang tersingkir sebagai wujud nyata dari Kristus yang tersalib.

Pengalaman tersebut dinilai berhasil mengubah Fransiskus dari pribadi yang berfokus pada ego menjadi sosok yang relasional.

Peristiwa ini melahirkan salam dan semangat Pax et Bonum (Damai dan Kebaikan), yang melandasi empat pilar relasi damai yang harmonis: relasi damai dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, serta dengan seluruh alam ciptaan.

“Merangkul orang kusta adalah titik saat Fransiskus meruntuhkan egonya. Salam Pax et Bonum merupakan komitmen hidup untuk berdamai dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan seluruh ciptaan,” ungkap Pater Bovan.

Komitmen Nyata Paroki Karot

Guna menerjemahkan panggilan perdamaian Yubileum 800 Tahun ini ke dalam tindakan konkret, pihak Paroki St. Fransiskus Asisi Karot terus menggiatkan berbagai program kerja pastoral paroki.

Seluruh program diwujudkan secara menyeluruh melalui penguatan persekutuan di tingkat komunitas basis, aksi sosial kemanusiaan, gerakan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta upaya aktif dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di tengah masyarakat Manggarai.

Dalam refleksi ini, seluruh umat juga diajak untuk menyadari bahwa Gereja dan umat Katolik masa kini dipanggil menjadi pembawa damai serta saudara bagi semua orang.

Kerapuhan manusiawi yang dimiliki hendaknya dijadikan pendorong untuk saling menerima dan merawat persaudaraan secara nyata.

“Iman Fransiskan harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Yubileum ini memanggil kita untuk hadir di tengah komunitas basis, menjaga kelestarian lingkungan, serta membela mereka yang membutuhkan pertolongan,” tambahnya.

Solidaritas Kemanusiaan untuk Korban Gempa Flores

Nilai persaudaraan dan belas kasih Fransiskan tersebut mengejawantah secara nyata dalam aksi tanggap bencana bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi di wilayah Flores.

Melalui Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integrity of Creation / JPIC) OFM Indonesia, para relawan kemanusiaan Fransiskan bergerak aktif menyalurkan bantuan serta mendampingi para korban di lokasi bencana.

“Persaudaraan Fransiskan tidak dibatasi oleh dinding gereja. Ketika saudara-saudari kita di Flores tertimpa bencana gempa, di situlah Kristus yang tersalib hadir dan memanggil kita untuk bertindak,” tuturnya.

Gerakan kemanusiaan yang diusung oleh JPIC OFM Indonesia ini difokuskan pada pendampingan psikososial, penyaluran logistik darurat, serta pemulihan kondisi masyarakat pascabencana.

Aksi ini menjadi penghayatan bahwa Yubileum 800 Tahun Fransiskan hadir secara langsung meringankan penderitaan warga yang sedang tertimpa musibah.

“Yubileum ini menjadi hampa jika kita berpangku tangan. Melalui kehadiran para relawan JPIC, kita ingin menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih dan pengharapan bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal,” tutupnya.

Perayaan Yubileum 800 Tahun Fransiskus Assisi di Paroki Karot ini pun menjadi penanda bahwa warta perdamaian tidak berhenti di altar gereja.

Di tengah peradaban modern yang rentan diwarnai individualisme, perjumpaan yang penuh belas kasih serta kepedulian pada sesama dan semesta tetap menjadi jalan utama dalam merawat persaudaraan sejati.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *