Opini  

Menagih Keadilan Akses Pendidikan di Daerah Terpencil

Opini oleh Maria Claudia Sastika Purnama (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Di Ruteng, banyak siswa sudah terbiasa belajar dengan ponsel. Namun, di desa-desa Manggarai yang berbukit, sebagian anak masih berjalan kaki berkilo-kilometer menuju sekolah, dan sebagian sekolah belum terjangkau sinyal. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum dinikmati semua anak secara adil.

Masa pembelajaran daring beberapa tahun lalu membuka mata kita. Di daerah terpencil, banyak siswa tertinggal karena tidak memiliki ponsel, kuota, atau sinyal yang memadai. Pelajaran tetap berjalan, tetapi tidak semua anak dapat mengikutinya.

Ada siswa yang harus mendaki bukit atau mencari tempat tinggi hanya untuk mendapatkan sinyal, sementara teman-temannya di kota belajar dengan nyaman dari rumah. Pengalaman itu mengingatkan kita bahwa pendidikan yang bermutu harus dimulai dari pemerataan akses.

Masalahnya tidak berhenti pada sinyal. Di beberapa sekolah pelosok, listrik belum stabil, buku pelajaran terbatas, dan ruang kelas kurang memadai. Dalam kondisi seperti itu, tuntutan agar siswa menguasai keterampilan abad ke-21 terasa jauh dari kenyataan. Bagaimana mungkin anak diminta mahir menggunakan teknologi jika sekolahnya belum memiliki perangkat dasar untuk belajar?

Persoalan lain ada pada guru. Banyak guru di pelosok mengajar dengan sarana terbatas, merangkap beberapa kelas, dan sebagian masih berstatus honorer dengan penghasilan yang kecil. Meskipun demikian, mereka tetap datang setiap pagi.

Pengabdian ini patut dihargai, tetapi penghargaan saja tidak cukup. Guru membutuhkan pelatihan, perhatian, dan kesejahteraan yang layak agar mampu mendampingi siswa menghadapi perubahan zaman.

Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Masyarakat Manggarai memiliki modal budaya yang kuat, misalnya tradisi lonto leok, yaitu duduk melingkar untuk bermusyawarah. Semangat berdiskusi dan bergotong royong ini dapat dihidupkan di sekolah.

Siswa tidak hanya dilatih menghafal, tetapi juga berani berpendapat, bekerja sama, dan memecahkan masalah di lingkungannya sendiri. Pendidikan yang berakar pada budaya setempat akan terasa lebih bermakna bagi anak-anak kita.

Selain itu, pendidikan sering diukur dari angka, seperti nilai ujian dan peringkat sekolah. Padahal, anak dari desa terpencil yang berhasil bersekolah dengan segala keterbatasannya telah menunjukkan ketekunan yang tidak tercatat dalam angka mana pun. Penilaian yang adil seharusnya melihat proses dan konteks, bukan hanya hasil akhir.

Teknologi sebenarnya dapat menjadi jembatan jika dimanfaatkan dengan tepat. Materi pelajaran dapat diunduh sekali saat sinyal tersedia, lalu dibagikan melalui perangkat sederhana. Guru juga dapat saling berbagi bahan ajar antarsekolah. Cara-cara kecil seperti ini tidak membutuhkan biaya besar, tetapi dampaknya terasa bagi siswa yang selama ini terabaikan.

Orang tua pun memegang peran penting. Sebagian orang tua di desa menganggap anak lebih berguna membantu bekerja di kebun daripada duduk di kelas. Pandangan ini wajar karena dilatarbelakangi kebutuhan ekonomi, tetapi perlu diluruskan secara perlahan.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang dapat memperbaiki kehidupan keluarga. Sekolah dan tokoh masyarakat perlu menjelaskan hal ini dengan pendekatan yang ramah, bukan dengan tekanan.

Karena itu, ada tiga langkah yang perlu diprioritaskan:

Pertama, pemerintah daerah perlu memperluas jaringan listrik dan internet ke sekolah-sekolah terpencil, sekaligus memperkuat perpustakaan agar siswa tetap memiliki bahan bacaan meskipun sinyal tidak tersedia.

Kedua, pemerintah perlu meningkatkan pelatihan dan kesejahteraan guru, terutama guru honorer di daerah sulit.

Ketiga, orang tua, tokoh adat, dan tokoh agama perlu terlibat aktif karena pendidikan tidak berhenti di gerbang sekolah. Kebiasaan membaca, berdiskusi, dan bersikap jujur dimulai dari rumah.

Pendidikan yang baik bukan tentang seberapa canggih alat yang kita miliki, melainkan seberapa adil kesempatan yang kita berikan kepada setiap anak. Anak di desa terpencil Manggarai berhak mendapat pendidikan sebaik anak di kota. Sudah saatnya kita memastikan hak itu untuk sampai pada mereka.

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *