Refleksi kritis ini ditulis oleh Arnoldus Liano Candra (Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng St. AgustinusPeriode 2026-2027)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Momentum Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober bukan sekadar lembaran sejarah untuk dikenang dalam upacara seremoni tahunan. Lebih dari itu, ia adalah warisan perjuangan yang menuntut keberanian, persatuan, dan komitmen nyata dalam menjawab berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat hari ini.
Sebagai generasi muda dan mahasiswa, kita perlu mengajukan pertanyaan mendasar pada diri sendiri: Apa artinya kita mengaku sebagai pemuda apabila memilih diam ketika rakyat menghadapi ketidakadilan? Apa artinya status mahasiswa apabila pengetahuan yang dimiliki tak pernah digunakan untuk membela kepentingan masyarakat? Dan apa makna sebuah organisasi jika keberadaannya hanya dirasakan oleh anggotanya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah sekadar retorika pembuka kata, tetapi gugatan terhadap kesadaran, integritas, dan tanggung jawab moral kita sebagai pilar perubahan.
Realitas Sosial di Tanah Manggarai Raya
Ketika berbicara tentang tanggung jawab pemuda, kita tidak bisa melepaskan diri dari realitas sosial di tanah Manggarai Raya. Wilayah ini diganjar kekayaan sumber daya alam, tradisi budaya yang luhur, serta potensi pertanian yang amat besar. Namun, potensi melimpah tersebut belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan masyarakat secara merata.
Persoalan mendasar seperti terbatasnya akses pendidikan, kesulitan hidup para petani, ketidakpastian harga hasil bumi, hingga ancaman terhadap ruang hidup dan kelestarian lingkungan masih menjadi persoalan nyata di lapangan.
Persoalan daerah ini tentu sejalan dengan kondisi Indonesia secara lebih luas. Pembangunan nasional tidak boleh hanya diukur berdasarkan besarnya angka investasi, pertumbuhan ekonomi di atas kertas, atau megahnya megaproyek fisik semata.
Pembangunan sejati harus dinilai dari kemampuannya melindungi hak-hak masyarakat lokal, menjamin keadilan sosial, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Ketika muncul dugaan penyimpangan atau kebijakan yang merugikan rakyat, masyarakat berhak memperoleh informasi yang transparan dan pertanggungjawaban yang jelas dari pemangku kebijakan.
Mengikis Ego Organisasi dan Zona Nyaman
Di tengah tantangan tersebut, kita patut mengkritisi pola gerakan kepemudaan hari ini. Jangan sampai kita terjebak dalam kebanggaan identitas yang kosong—bangga menyebut diri sebagai pemuda dan mahasiswa Manggarai, namun tumpul kepedulian terhadap penderitaan masyarakat di sekitar kita.
Terlalu sering energi organisasi habis untuk agenda internal, konflik kepengurusan, atau perebutan panggung kelompok. Padahal, organisasi seharusnya menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis, penguatan kapasitas intelektual, dan konsolidasi gerakan sosial.
Ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak ditentukan oleh seberapa besar namanya atau seberapa ramai acaranya, tetapi seberapa luas manfaat nyata yang dirasakan oleh rakyat.
Tantangan terbesar lainnya adalah kecenderungan untuk terjebak dalam zona nyaman. Kita kerap aktif mengkritik ketidakadilan di media sosial, namun kritik tersebut sering berhenti sebatas komentar dan unggahan digital. Kepedulian jarang diwujudkan menjadi tindakan nyata di lapangan.
Padahal dalam sistem demokrasi, mahasiswa dan pemuda memiliki fungsi historis sebagai penyeimbang kekuasaan (check and balances), pengawas kebijakan publik, serta pelindung nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Arah Gerakan Pemuda Manggarai Raya
Tema besar perjuangan pemuda hari ini harus ditopang oleh tiga pilar utama:
- Pemuda Bersatu: Mampu melampaui sekat-sekat organisasi, perbedaan ideologi, dan kepentingan kelompok demi tujuan sosial yang jauh lebih besar.
- Karakter Kokoh: Memiliki integritas, kejujuran, dan konsistensi. Tidak mudah tergoda oleh kepentingan pragmatis sesaat atau mengorbankan idealisme demi keuntungan pribadi.
- Bangkit Mengawal Masa Depan: Keluar dari sikap pasif menuju aksi nyata melalui kajian kritis berbasis data, pendampingan masyarakat, advokasi kebijakan, dan penguatan literasi.
Gerakan pemuda di Manggarai Raya harus dibangun secara terarah dan berkelanjutan. Kita perlu memperkuat tradisi intelektual yang menghasilkan solusi konkret bagi sektor pendidikan, pertanian, dan lingkungan, sehingga organisasi kepemudaan mampu menjembatani aspirasi rakyat dengan para pembuat kebijakan.
Bergerak Bersama untuk Perubahan
Masa depan daerah dan bangsa bukan hanya urusan mereka yang sedang memegang tampuk kekuasaan, tetapi tanggung jawab seluruh warga negara, khususnya generasi muda. Dari tanah Manggarai Raya, pemuda harus menegaskan posisinya: tidak boleh sekadar menjadi penonton di tengah penderitaan rakyat.
Pemuda harus hadir sebagai tiga kekuatan sekaligus: kekuatan intelektual yang mampu mengurai persoalan, kekuatan moral yang berani mempertahankan kebenaran, serta kekuatan sosial yang mampu menggerakkan perubahan di tengah masyarakat.
Sumpah Pemuda harus dibuktikan melalui pikiran yang kritis, sikap yang berintegritas, dan tindakan yang berpihak penuh kepada kepentingan rakyat.
Pemuda Bersatu, Karakter Kokoh, Bangkit Mengawal Masa Depan Bangsa!













