Opini oleh Agustinus Marlandino Gabur (Mahasiswa UNIKA St. Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan sering disebut sebagai kunci kemajuan bangsa. Namun, pernyataan tersebut akan kehilangan makna apabila tidak diikuti dengan upaya nyata untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.
Salah satu fondasi yang kerap terabaikan dalam upaya itu adalah literasi, yaitu kemampuan membaca, memahami, dan menggunakan informasi secara kritis.
Di banyak daerah, kemampuan literasi peserta didik masih menjadi tantangan. Keterbatasan buku bacaan, minimnya akses perpustakaan, dan kebiasaan membaca yang belum terbentuk menyebabkan peserta didik kesulitan memahami materi pelajaran.
Akibatnya, kesulitan itu tidak hanya terlihat pada mata pelajaran bahasa, tetapi juga pada matematika dan ilmu pengetahuan alam, karena soal-soal di dalamnya menuntut kemampuan memahami bacaan.
Pada saat yang sama, perkembangan teknologi menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Peserta didik kini dapat mengakses beragam sumber belajar hanya melalui telepon pintar.
Meskipun demikian, kemudahan tersebut tidak otomatis meningkatkan kualitas belajar. Tanpa kemampuan menyaring informasi, peserta didik mudah terpapar kabar bohong dan lebih tertarik pada hiburan daripada pengetahuan.
Oleh karena itu, literasi digital perlu diajarkan bersama dengan literasi dasar.
Guru memegang peran yang sangat penting dalam persoalan ini. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus menjadi teladan dalam membaca dan menulis.
Pembelajaran yang mengajak peserta didik berdiskusi, menyimpulkan bacaan, dan menyampaikan pendapat secara tertulis akan melatih daya nalar mereka.
Pemerintah daerah perlu mendukung upaya tersebut dengan memperbanyak pelatihan guru dan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas.
Keluarga dan masyarakat pun tidak boleh berdiam diri. Kebiasaan membaca tumbuh dari lingkungan terdekat.
Orang tua dapat memulainya dengan menyediakan waktu membaca bersama anak setiap hari, sedangkan komunitas dapat mengembangkan taman bacaan yang mudah dijangkau.
Gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang besar bagi masa depan generasi muda.
Dengan demikian, peningkatan mutu pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbaiki gedung sekolah atau mengganti kurikulum.
Penguatan literasi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Apabila kebiasaan membaca dan berpikir kritis telah menjadi budaya, pendidikan akan benar-benar mampu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945.













