Opini oleh Teodosia Imuk (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Perkembangan teknologi telah mengubah cara kita belajar. Hari ini, jawaban atas hampir semua pertanyaan bisa ditemukan dalam hitungan detik lewat telepon genggam.
Buku tebal yang dulu harus dicari di perpustakaan kini bisa dibuka di layar kecil sambil berbaring. Namun, melimpahnya akses itu tidak otomatis membuat kita lebih cerdas.
Di lingkungan kampus, kita sering melihat hal yang ironis. Banyak mahasiswa memiliki gawai, tetapi lebih sering memakainya untuk hiburan daripada belajar.
Tugas yang seharusnya melatih nalar kerap diselesaikan dengan menyalin jawaban dari internet tanpa dibaca ulang.
Diskusi di kelas pun mulai sepi, sebab jawaban terasa selalu tersedia hanya dengan sekali mengetik. Informasi ada di genggaman, tetapi tidak sampai ke kepala.
Masalah pertama adalah budaya instan. Ketika semua jawaban tersedia cepat, proses berpikir yang lambat mulai ditinggalkan.
Padahal, memahami sebuah konsep menuntut kesabaran: membaca, bertanya, ragu, lalu menyimpulkan.
Tanpa proses itu, pengetahuan hanya menjadi hafalan sesaat yang hilang begitu ujian selesai. Kita terbiasa mencari tahu, tetapi lupa belajar memahami.
Masalah kedua adalah lemahnya kemampuan menyaring informasi. Di media sosial, kabar benar dan hoaks tampil dengan wajah yang sama.
Tanpa literasi digital yang memadai, kita mudah menelan dan menyebarkan apa saja yang viral, bahkan sebelum membaca isinya sampai habis.
Di daerah seperti Manggarai, ketika akses internet makin meluas sementara kebiasaan membaca kritis belum merata, risiko ini kian nyata. Satu pesan berantai yang keliru dapat menyebar ke banyak kelompok warga dalam hitungan jam.
Masalah ketiga adalah menurunnya minat membaca yang mendalam. Kita terbiasa menggulir layar, membaca judul, lalu berpindah ke unggahan berikutnya.
Berbagai hasil survei literasi internasional, termasuk PISA, berulang kali menunjukkan bahwa kemampuan membaca pelajar Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain.
Kehadiran teknologi seharusnya membantu memperbaiki keadaan itu, bukan membuat kita makin enggan membaca teks yang panjang dan menuntut konsentrasi.
Masalah keempat adalah kesenjangan. Tidak semua sekolah memiliki guru, buku, dan jaringan internet yang memadai. Di sebagian wilayah NTT, sinyal masih sulit dan perangkat belum dimiliki semua siswa.
Teknologi yang seharusnya meratakan kesempatan justru bisa melebarkan jarak antara mereka yang siap memanfaatkannya dan mereka yang tertinggal.
Meski begitu, teknologi bukan musuh. Ia hanyalah alat, dan hasilnya bergantung pada pemakainya. Kita bisa mengikuti kelas daring, membaca jurnal terbuka, mengakses perpustakaan digital, atau belajar keterampilan baru dari sumber yang bermutu.
Mahasiswa di daerah pun bisa menjangkau pengetahuan yang dulu hanya dapat dinikmati mereka yang tinggal di kota besar. Peluang itu nyata, asalkan dipakai dengan sadar.
Karena itu, sekolah dan kampus perlu menjadikan literasi digital bagian dari pembelajaran, bukan sekadar pelengkap.
Dosen dan guru dapat merancang tugas yang menuntut analisis, refleksi, dan argumen pribadi, bukan jawaban yang bisa disalin.
Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan gawai dan memberi contoh dengan ikut membaca.
Pemerintah daerah dapat memperkuat perpustakaan, taman baca, dan jaringan internet di wilayah yang masih tertinggal.
Kita sebagai mahasiswa pun harus memulai dari diri sendiri. Membaca sampai tuntas sebelum membagikan, memeriksa sumber sebelum percaya, membatasi waktu bermain gawai, dan berani menulis dengan bahasa sendiri adalah langkah kecil yang dampaknya besar.
Kebiasaan baik tidak lahir dari aturan semata, melainkan dari keputusan harian untuk tidak mengambil jalan pintas.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi hanya bermakna jika diiringi kemajuan cara berpikir. Informasi boleh melimpah, tetapi kebijaksanaan harus terus dilatih.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang paling cepat mendapat jawaban, tetapi paling jarang bertanya.













