Catatan Awal Tahun: Yohanes Oci dan Ingatan tentang Desa, Pendidikan, dan Negara

Manggarai-Pena1-Ntt.com-
Awal tahun selalu memberi ruang bagi jurnalis untuk berhenti sejenak, melihat ke belakang sekaligus menimbang arah ke depan. Di tengah hiruk-pikuk politik, kebijakan, dan angka-angka pembangunan yang terus diperdebatkan, nama Yohanes Oci kembali mengemuka dalam ingatan saya sebagai sosok akademisi yang lahir dari desa, namun berpikir melampaui sekat geografis. Ia bukan figur yang sering tampil dengan sensasi, tetapi pemikirannya konsisten dan berakar kuat pada pengalaman sosial yang nyata.

Yohanes Oci berasal dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Latar belakangnya sebagai anak petani bukan sekadar cerita biografis, melainkan fondasi yang membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan dan peran negara. Dari desa dengan akses pendidikan terbatas itu, ia mengenal sejak dini apa arti ketimpangan, keterlambatan kebijakan, dan absennya negara dalam kehidupan sehari-hari warga. Pengalaman tersebut tidak membuatnya apatis, justru menjadi titik berangkat bagi perjalanan intelektualnya.

Menapaki dunia pendidikan dalam keterbatasan, Yohanes menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan, bukan sekadar mobilitas sosial pribadi. Ketika kemudian memilih jalur akademik, orientasi pemikirannya jelas bahwa kebijakan publik itu harus dibaca dari bawah, dari desa, dari masyarakat yang selama ini hanya menjadi objek pembangunan. Dalam kajian-kajiannya, ia kerap mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak berangkat dari realitas lokal hanya akan melahirkan angka statistik, tetapi meninggalkan luka sosial yang panjang.

Sebagai akademisi, Yohanes Oci konsisten mengaitkan teori dengan pengalaman empirik. Ia menulis, meneliti, dan terlibat dalam diskursus kebijakan dengan fokus pada tata kelola pemerintahan daerah, relasi pusat dan daerah, serta ketimpangan pembangunan di kawasan timur Indonesia. Baginya, kebijakan nasional sering kali gagal bukan karena kekurangan anggaran, melainkan karena miskin pemahaman konteks. Perspektif ini membuatnya kerap diperhitungkan dalam diskusi pembangunan NTT dan Manggarai Raya.

Yang menarik, Yohanes tidak pernah memosisikan dirinya sebagai intelektual yang berjarak dari realitas sosial. Identitasnya sebagai anak petani justru menjadi kompas moral dalam kerja akademiknya. Ia berulang kali menegaskan bahwa keberhasilan intelektual tidak boleh memutus tanggung jawab sosial terhadap daerah asal. Pendidikan dalam pandangannya harus melahirkan keberpihakan pada masyarakat desa dan kelompok rentan, bukan sekadar menghasilkan gelar dan publikasi.

Di awal tahun ini, memandang sosok seperti Yohanes Oci memberi kita refleksi penting tentang makna pendidikan dan ketokohan. Di tengah kecenderungan menjadikan pendidikan sebagai komoditas dan kebijakan sebagai proyek administratif, Yohanes menghadirkan ingatan bahwa negara seharusnya hadir secara substantif, terutama bagi mereka yang hidup di pinggiran. Dari desa terpencil di Manggarai Timur, ia membawa suara yang jujur tentang keadilan, keberpihakan, dan tanggung jawab intelektual.

Catatan awal tahun ini bukan sekadar tentang satu nama, melainkan tentang harapan. Harapan bahwa pendidikan masih bisa melahirkan akademisi yang berakar pada realitas sosialnya, dan bahwa dari desa-desa yang kerap dilupakan, Indonesia masih memiliki pemikir yang layak didengar ketika kita berbicara tentang masa depan pembangunan yang lebih adil dan manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *