MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Cita-cita menjadikan Ruteng sebagai “Kota Molas” atau kota yang cantik dan bersih kini diwujudkan melalui aksi nyata dari lingkungan keluarga.
Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Karot menginisiasi Gerakan SAKTI (Satu Kantong Sampah Plastik Tiap Hari) sebagai langkah strategis menanamkan kepedulian lingkungan bagi generasi muda di Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Keuskupan Ruteng.
Gerakan kolaboratif ini menyasar berbagai lembaga pendidikan, mulai dari tingkat SDI, SDK, hingga SMK Elanus.
Para siswa dilatih secara rutin untuk bertanggung jawab terhadap limbah plastik yang mereka hasilkan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.

Pengurus WKRI Cabang Karot, Dien Sena, menegaskan gerakan ini lahir dari keprihatinan atas tingginya volume sampah plastik di pemukiman warga dan sekolah.
Ia menekankan keberhasilan program ini bertumpu pada sinergi antara guru, orang tua, dan siswa sebagai fondasi utama perubahan.
“Kami ingin memastikan setiap sekolah di wilayah Paroki Karot menjadi pelopor kebersihan. Melalui Gerakan SAKTI, siswa tidak hanya diajak membersihkan lingkungan, mereka belajar tidak membuang sampah sembarangan mulai dari pola pikir mereka sendiri,” ujar Dien.
Senada dengan itu, anggota WKRI Cabang Karot, Yustin Romas, menyebut pendekatan yang digunakan adalah pembiasaan tanpa unsur paksaan.
Penjadwalan setiap Rabu dan Sabtu merupakan strategi agar siswa terbiasa memilah limbah rumah tangga, terutama kemasan saset yang sulit terurai, untuk dibawa dan dikumpulkan di sekolah.
“Kami ingin ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sebuah budaya harian. Jika gerakan ini meluas ke seluruh sekolah di Ruteng, mimpi kita melihat Ruteng sebagai ‘Kota Molas’ yang bersih akan segera nyata,” kata Yustin optimis.

Gerakan positif ini mendapat dukungan dari pengurus Paroki. Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, RP. Bonivantura Y. Lelo, OFM menilai aksi ini sebagai langkah konkret membentuk habitus baru.
Baginya, pendidikan lingkungan harus mewujud dalam tindakan nyata, bukan sebatas teori di dalam kelas.
“Gerakan SAKTI bukan program sesaat. Ini upaya membangun kebiasaan hidup baru agar anak-anak sadar sejak dini persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama. Nilai tanggung jawab ini akan mereka pegang hingga dewasa nanti,” tegas Imama yang akrab disapa Pater Bovan ini saat ditemui, Rabu (29/4/2026).
Pater Bovan juga mengapresiasi dukungan teknis dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manggarai dalam pengangkutan sampah secara rutin.
Ke depan, ia memproyeksikan gerakan ini bertransformasi menjadi bank sampah sistematis yang mampu memberikan nilai ekonomis bagi warga sekolah.
Sebagai bentuk penguatan, setiap wali kelas kini menyertakan keterlibatan siswa dalam aksi ini ke dalam format penilaian karakter.
Langkah ini memastikan nilai kepedulian lingkungan terintegrasi langsung dalam rapor kedisiplinan dan moral siswa secara berkelanjutan.













