Berita  

Bupati Manggarai Timur Wajibkan Topi Adat Rongga di Upacara 17 Agustus 2026, Dorong Budaya dan UMKM Lokal

Bupati Manggarai Timur Wajibkan Topi Adat Rongga di Upacara 17 Agustus 2026, Dorong Budaya dan UMKM Lokal(PENA1NTT/Ril Minggu)

PENA1NTT – Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas kembali menegaskan komitmennya dalam pelestarian budaya lokal yang terintegrasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dalam arahannya saat membuka Expo Pendidikan ke-5 di Lapangan Fernandes Borong, Selasa (28/4/2026), Agas mewajibkan seluruh peserta apel peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 untuk mengenakan topi adat khas Suku Rongga.

Kebijakan ini berlaku menyeluruh bagi seluruh elemen di Kabupaten Manggarai Timur, mulai dari jajaran pemerintah daerah, aparatur kecamatan dan desa, hingga tenaga pendidik dari jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA.

“Saya sampaikan kepada seluruh jajaran, mulai dari pemerintah daerah hingga seluruh guru di Manggarai Timur, bahwa apel 17 Agustus 2026 mendatang semua peserta apel wajib mengenakan topi adat Suku Rongga Kecamatan Kota Komba,” tegas Agas dalam sambutannya.

Tak hanya menonjolkan aspek pelestarian budaya, kebijakan ini juga diarahkan untuk memperkuat sektor ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Agas secara khusus mengajak para perajin topi adat Rongga untuk mempersiapkan produksi dalam jumlah besar guna memenuhi kebutuhan yang diperkirakan mencapai lebih dari seribu unit.

“Pada momen ini, saya sampaikan kepada pelaku UMKM Suku Rongga yang giat menenun topi adat Rongga agar siap produksi sekiranya seribu lebih topi,” ujarnya.

Langkah tersebut dinilai sebagai strategi konkret dalam mengintegrasikan nilai budaya dengan pertumbuhan ekonomi lokal. Peningkatan permintaan diharapkan mampu memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan para pengrajin sekaligus memperluas eksistensi warisan budaya Manggarai Timur.

Kebijakan ini pun mendapat perhatian luas sebagai inovasi dalam perayaan kemerdekaan yang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi juga sarat makna budaya dan keberpihakan terhadap ekonomi masyarakat lokal.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *