“Setengah Mati Mau Istirahat”: Perjuangan Ibu Merawat Anak Disabilitas di Tengah Krisis Air dan Biaya Hidup

Perjuangan Ibu Merawat Anak Disabilitas di Tengah Krisis Air dan Biaya Hidup (Foto: Innong)

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM– Di tengah keterbatasan ekonomi dan minimnya akses layanan dasar, seorang ibu di Desa Pong Ruan harus berjuang sendiri merawat anak disabilitasnya. Fransiskus Ciano Mekang (4 tahun 6 bulan), warga RT Dalo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, sejak kecil menjalani perawatan intensif dengan kondisi keluarga yang serba terbatas.

Ibunya, Lidia Nartiana Susanti, menuturkan bahwa perjuangan merawat Fransiskus semakin berat sejak anaknya menjalani perawatan di Kupang pada tahun 2022.

“Biaya paling berat itu susu dan pampers. Dia tidak makan nasi,” ungkap Lidia dengan nada lirih, Selasa (03/3/2026).

Menurut Lidia, sejak bayi Fransiskus tidak pernah mengonsumsi ASI dan hanya mengandalkan susu yang dibeli di toko. Kondisi ini membuat pengeluaran keluarga terus meningkat, sementara penghasilan sangat terbatas.

Ibu Lidia bersama Anaknya Fransiskus Ciano

“Anak saya dari kecil tidak pernah minum ASI, hanya susu beli di toko,” tuturnya.

Ia juga mengaku, sepanjang tahun 2025 baru satu kali menerima bantuan kesejahteraan sosial. Bantuan tersebut dinilai belum mampu menutupi seluruh kebutuhan perawatan anaknya.

Selain persoalan biaya, keterbatasan air bersih menjadi masalah serius yang dihadapi keluarga. Sumur bor bantuan dari Menteri Sosial di wilayah tersebut hanya berfungsi saat musim hujan.

“Kalau kemarau tidak berfungsi. Tunggu musim hujan baru jalan,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, kebutuhan air rumah tangga sering kali tidak terpenuhi. Hal ini semakin menyulitkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, termasuk untuk perawatan Fransiskus.

Beban fisik dan mental juga dirasakan Lidia setiap hari. Ia mengaku hampir tidak pernah tidur nyenyak karena harus menjaga anaknya sepanjang malam.

“Kalau malam susah tidur. Setengah mati mau istirahat,” tuturnya.

Sebagai ibu dari dua orang anak, Lidia harus membagi perhatian dan tenaga di tengah kondisi yang serba terbatas. Aktivitas Fransiskus pun lebih banyak dilakukan di rumah karena keterbatasan fisik yang dialaminya.

Sementara itu, suaminya kini merantau di Kalimantan demi mencari penghasilan tambahan. Selama ini, keluarga hanya mengandalkan bantuan pemerintah desa berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan dukungan seadanya.

Namun, menurut Lidia, bantuan tersebut belum cukup untuk menutupi kebutuhan susu, pampers, serta biaya perawatan medis anaknya.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih kepada keluarga mereka, baik melalui bantuan rutin, dukungan kesehatan, maupun perbaikan fasilitas dasar seperti air bersih.

“Kalau ada bantuan rutin dan air bersih yang lancar, tentu sangat membantu kami,” harapnya.

Kisah Fransiskus menjadi potret nyata perjuangan keluarga kecil di pelosok daerah yang harus bertahan di tengah keterbatasan ekonomi, krisis air bersih, dan kebutuhan khusus anak disabilitas. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perhatian berkelanjutan dari pemerintah dan seluruh pihak demi menjamin tumbuh kembang anak-anak dengan kebutuhan khusus di daerah terpencil.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *