MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM – Komoditas kakao yang selama puluhan tahun menjadi penopang hidup ribuan petani kecil di Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kini berada dalam fase kritis.
Di tengah melemahnya produksi akibat usia pohon yang sudah tua, Anggota DPD RI asal NTT, dr. Maria Stevi Harman, hadir membawa solusi konkret melalui penyaluran bibit kakao okulasi.
Langkah ini menjadi jawaban atas keluhan para petani yang selama ini merasa kurang mendapatkan perhatian dan dukungan nyata dari otoritas terkait.
Ironi Tanaman Tua dan Pengabaian Sistemik
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan rakyat yang dikelola hampir seluruhnya oleh petani kecil di Manggarai Timur.
Hanya saja, potensi besar ini terancam sirna karena tanaman kakao di wilayah strategis seperti Kisol, Kelurahan Tanah Rata, sudah berusia lebih dari tiga dekade.
Tanaman yang ditanam sejak akhir 1980-an tersebut kini telah melewati masa produktif, sehingga daya tahannya terhadap serangan hama kian merosot dan hasil panen menurun tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menyadari bahwa semangat petani tidak akan cukup tanpa dukungan teknologi pertanian yang tepat, dr. Stevi Harman mendorong perubahan metode budidaya dari konvensional menuju teknik okulasi atau sambung pucuk.
Teknik ini dipandang sebagai solusi paling masuk akal karena menghasilkan bibit yang lebih kuat, lebih cepat berbuah, dan memiliki produktivitas lebih tinggi.
Dalam dialognya dengan petani pada Juli 2025 lalu, dr. Stevi menegaskan komitmennya untuk mengubah pola pikir petani agar tidak lagi bergantung pada pembibitan biji biasa.
“Kalau mau kakaonya tahan dari serangan penyakit, cepat berbuah dan buahnya lebih banyak, yah, coba saja menggunakan bibit okulasi atau sambung pucuk, jangan lagi pake koker biji saja,” ungkap dr. Stevi.
Inisiatif Percontohan dan Harapan Baru
Sebagai wujud aksi nyata, dr. Stevi menyalurkan bibit kakao hasil okulasi kepada kelompok Suka Tani sebagai proyek percontohan pada Jumat (23/01/2026).

Langkah ini diambil agar petani bisa melihat langsung efektivitas bibit unggul tersebut sebelum dikembangkan secara lebih luas.
“Kalau nanti hasilnya lebih bagus, kita akan coba kembangkan lagi di tempat lain,” ungkap putri Anggota DPR RI, Dr. Benny K Harman, itu.
Kehadiran bantuan ini disambut haru oleh para petani, termasuk Marson, Ketua Kelompok Tani Sahabat Tani Kisol.
Marson mengakui bahwa selama ini mereka berjuang dalam ketidakpastian hasil panen karena kondisi tanaman yang sudah tidak lagi prima.
“Sekarang sudah tidak produktif lagi, dan sedikit-sedikit kena penyakit. Daya tahannya sangat rendah. Kita membuat baru, rehabilitasi dengan penanaman bibit okulasi, untuk meningkatkan kembali hasil panen kakao kami,” jelasnya.
Marson menyampaikan rasa syukur mendalam yang merepresentasikan harapan besar para petani terhadap inisiatif tersebut.
Bagi kelompok Sahabat Tani, kehadiran bibit okulasi merupakan intervensi strategis guna memutus rantai keterpurukan ekonomi akibat kegagalan panen yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Ia menambahkan, penyaluran bibit unggul merupakan instrumen utama bagi petani untuk melepaskan diri dari jerat rendahnya produktivitas lahan.
“Atas nama kelompok Sahabat Tani, saya menyampaikan terima kasih kepada Ibu Dokter Stevi dan Bapak BKH. Sejujurnya, ini seperti emas mongko bagi kami,” tegas Marson.
Kolaborasi untuk Perubahan Berkelanjutan
Persoalan kakao di Manggarai Timur memang bersifat kompleks karena melibatkan berbagai faktor yang saling terpaut.
Rahmat Faisal Gunawan, Koordinator Pusat Pendampingan UMKM Yayasan Astra Cabang Manggarai Timur, menekankan bahwa intervensi yang dilakukan dr. Stevi Harman merupakan langkah vital untuk membedah tantangan serius yang dihadapi petani saat ini.
Ia mengidentifikasi bahwa persoalan mulai dari tanaman yang sudah tua, produksi yang belum stabil, krisis regenerasi petani, hingga serangan hama dan penyakit memerlukan penanganan yang terintegrasi.
Menurut Rahmat, perbaikan sektor kakao tidak dapat dilakukan secara instan maupun parsial, sehingga pendampingan harus berjalan beriringan dengan langkah peremajaan tanaman secara fisik.
“Berbagai upaya perbaikan telah dan sedang dilakukan secara bertahap, termasuk melalui pendampingan dan kolaborasi dengan instansi terkait,” jelasnya.
Ia menaruh harapan besar agar bibit kakao hasil okulasi sumbangan dr. Stevi mampu mendongkrak produktivitas serta kualitas tanaman di Kisol secara signifikan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Stevi atas bantuan bibit kakao hasil okulasi yang diberikan kepada petani binaan. Bantuan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas kakao melalui pengembangan tanaman unggul yang lebih cepat berbuah dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Sinergi ini diharapkan menjadi titik balik bagi kembalinya kejayaan kakao NTT sebagai komoditas yang mampu menyejahterakan petani kecil dalam jangka panjang.














