Berita  

Musisi dan Budayawan Manggarai Felix Edon Raih Piagam Pelestari Musik Tradisional di Anugerah Kebudayaan Indonesia 2025

PENA1NTT.COM – Pelaksanaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025 berlangsung sukses dan khidmat pada Selasa malam, 17 Desember 2025, di Ciputat, Jakarta. Ajang bergengsi ini menjadi puncak apresiasi pemerintah kepada para pelaku budaya dari seluruh Nusantara yang dinilai berjasa merawat, menjaga, dan memajukan kebudayaan nasional.

Salah satu penerima penghargaan pada AKI 2025 adalah seniman dan budayawan asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Felix Edon. Ia dianugerahi Piagam Penghargaan Kategori Pelestari Musik Tradisional Manggarai atas komitmen dan kontribusinya dalam upaya pemajuan kebudayaan Indonesia.

Anugerah Kebudayaan Indonesia sendiri merupakan bentuk penghargaan negara kepada para perawat kebudayaan yang secara konsisten menghasilkan karya dan dedikasi terbaik bagi keberlangsungan nilai-nilai budaya bangsa.

Felix Edon dikenal luas sebagai seniman musik—penyanyi, pencipta lagu, sekaligus musisi—yang mendedikasikan hidupnya untuk pelestarian budaya Manggarai. Ia tidak hanya menciptakan lagu-lagu daerah, tetapi juga merancang dan memainkan alat musik tradisional seperti kolintang, suling, dan cakatinding. Karya-karyanya lahir dari instrumen buatan sendiri dan kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat serta keagamaan, sebagai bentuk perlawanan terhadap arus modernisasi yang mengancam keberlangsungan budaya lokal.

Pada usia senja, penghargaan AKI 2025 menjadi momentum istimewa bagi Felix Edon, setelah rentang panjang perjalanan berkarya sejak tahun 1987 hingga kini.

Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan awak media di Labuan Bajo, Felix Edon menegaskan bahwa berkesenian adalah bentuk tanggung jawab budaya.

“Tetap berkesenian adalah upaya untuk merawat, menjaga, dan melestarikan kebudayaan daerah, sebab negara melindunginya melalui Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah milik pribadi semata.

“Capaian istimewa dan berharga ini adalah capaian seluruh masyarakat Manggarai Raya, awon Wae Mokel salen Selat Sape,” ujarnya.

Lebih lanjut, Felix Edon menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah bentuk keteladanan.

“Apa yang saya buat adalah memberi contoh untuk tetap konsisten dan menjadikan kebudayaan sebagai napas kehidupan. Namun, di kampung-kampung dan komunitas begitu banyak orang yang tetap menjaga dan merawat bahkan melestarikan budaya dengan caranya, yang tidak dilihat media,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Felix Edon juga menyampaikan ungkapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung perjalanan kebudayaannya, antara lain:

  1. Terpujilah Tuhan Langit dan Bumi dan para leluhur yang telah menciptakan danmewariskan kebudayaan yang mulia dari generasi ke generasi
  2. Terima kasih banyak Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
  3. Terima kasih Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
  4. Terima kasih Pemerintah Daerah Manggarai,Manggarai Barat dan Manggarai Timur.
  5. Terima kasih Dinas Pendidikan Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.
  6. Terima kasih banyak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.
  7. Terima kasih Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali.
  8. Terima kasih Balai Pelestarian Budaya Wil. XVI NTT.
  9. Terima kasih Gentra Lestari Budaya Indonesia.
  10. Terima kasih BPOLBF
  11. Terima kasih banyak Sanggar WelaRana Ruteng, WelaRana Komodo dan WelaRana Borong.
  12. Terima kasih Yayasan Pendidikan Astra Indonesia dan sekolah-sekolah Binaan di Borong Manggarai Timur.
  13. Terima kasih banyak keluargaku dan Keluarga Besarku.
  14. Terima kasih semua orang dan semua Pihak yang dengan caranya telah bergerak bersama dalam Menjaga Budaya Manggarai.

Menutup pernyataannya, Felix Edon menegaskan makna mendalam dari anugerah yang diterimanya.

“Rentang waktu berkarya sejak 1987 hingga kini adalah masa-masa yang mengukur kesetiaan dan kecintaan terhadap seni budaya tradisional Manggarai bersama saya. Dan inilah saat yang tepat kita memperoleh anugerah yang akan menjadi beban bersama dalam merawat, menjaga, dan melestarikan budaya,” katanya.

Ia pun mengakhiri dengan pesan penuh semangat:

“Dengan semangat bersama: Cinta Budaya, Cinta Kehidupan.”

IMG-20260217-WA0004
Penulis: RickyEditor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *