Berita  

Crossway Wae Musur di Nangalanang Roboh Diterjang Banjir, Akses Tiga Desa dan Jalur Lintas Selatan Terputus

Manggarai Timur, PENA1NTT.COM – Crossway Wae Musur yang berada di Nangalanang, Desa Bea Ngencung, Kabupaten Manggarai Timur, roboh akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Tingginya debit air sungai akibat kiriman dari hulu menyebabkan bangunan penghubung ini tidak mampu menahan derasnya arus banjir.

Pantauan di lokasi menunjukkan struktur crossway ambles dan tergerus air. Sejumlah warga terlihat nekat menyeberang dengan berjalan kaki sambil menuntun kendaraan, meski kondisi tersebut sangat berbahaya dan berisiko menimbulkan korban.

Warga setempat, Gunantara, menjelaskan bahwa crossway Wae Musur merupakan akses vital yang setiap hari digunakan masyarakat dari tiga desa di seberang Sungai Wae Musur, yakni Desa Bea Ngencung, Desa Lidi, dan Desa Satar Lenda.

“Sejak roboh, aktivitas masyarakat dari tiga desa lumpuh total. Ini satu-satunya jalur penghubung. Aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga akses layanan kesehatan terganggu,” ungkap Gunantara

Lebih lanjut, crossway Wae Musur juga merupakan bagian dari akses jalan lintas selatan yang menghubungkan wilayah Kabupaten Manggarai Timur dengan Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Terputusnya jalur ini tidak hanya berdampak pada warga lokal, tetapi juga menghambat mobilitas antarwilayah serta distribusi barang dan jasa.

Respon Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Manggarai Timur

Sebagai tindak lanjut awal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Timur telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan pendataan dampak kerusakan.

Sekretaris BPBD Manggarai Timur, Sil Agung Selamat, mengatakan pihaknya masih melakukan pemantauan di lapangan.

“Tabe leso ite. Pegawai dari BPBD masih berada di lokasi. Saya masih menunggu hasil pantauan dari teman-teman di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa proses administrasi juga sedang berjalan.

“Teman-teman kantor masih berada di kantor desa menunggu laporan tertulis dari kepala desa. Kami ke lapangan karena ada informasi dari masyarakat. Tabe,” tambahnya.

Warga berharap kehadiran pemerintah daerah melalui BPBD segera diikuti dengan langkah darurat dan solusi konkret, baik jangka pendek maupun jangka panjang, seperti pembangunan jembatan sementara atau perbaikan permanen yang lebih kokoh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kami berharap pemerintah tidak tinggal diam. Ini bukan sekadar jembatan desa, tetapi jalur strategis yang menghubungkan dua kabupaten,” tegasnya.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *