Berita dirilis oleh: Maria Prita Aurelia
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kota Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dijuluki sebagai ‘kota seribu gereja’.
Di tengah kekayaan arsitektur rohani tersebut, berdiri Gereja Katedral Santa Maria Diangkat Ke Surga dan Santo Yosep Ruteng, sebuah paroki yang bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan iman Katolik di seluruh wilayah Manggarai.
Salah satu yang paling menarik adalah gereja Katedral lama atau Gereja St. Yosep, yang memiliki gaya bangunan dengan atap runcing menjulang bergaya Eropa lama.
Banyaknya gereja di Ruteng ini tidak lepas dari riwayat penjajahan Portugis yang pernah menguasai daerah ini.
Awal Penanaman Benih Iman (1912-1920)
Meskipun pembaptisan perdana umat Manggarai telah dilakukan di Reo pada 17 Mei 1912 sebanyak enam orang, penanaman benih iman Katolik di Ruteng secara resmi diawali dengan pembaptisan perdana warga di Pitak pada 11 Desember 1914 oleh Mgr. Petrus Neijen SVD (Mgr. Petrus Carolus Noyen, SVD).
Benih iman yang ditabur itu terus berkembang dan membuahkan hasil, meskipun pemeliharaan iman awalnya belum mendapat perhatian yang intensif.
Kenyataan ini menggerakkan para misionaris perintis (yang pusatnya di Ende) untuk menjadikan Ruteng sebagai stasi induk dan pusat karya misi untuk wilayah Manggarai Tengah.
Pater Bernhard Glaneman SVD mulai menetap di Ruteng pada 23 September 1920, yang juga ditetapkan sebagai hari berdirinya misi di Manggarai. Paroki Ruteng mencakup seluruh wilayah Manggarai bagian Tengah, dan buku paroki mulai dicatat sejak tahun 1920.
Pusat Dekenat Hingga Lahirnya Keuskupan (1929-1961)
Banyak stasi dibuka dalam rentang waktu ini. Gereja paroki katedral Ruteng mulai dibangun antara tahun 1929-1939 di bawah masa tugas Pater Franc Dorn, SVD, yang menjabat sebagai pastor paroki pada tahun 1923-1939.
Gereja ini menjadi gereja paroki katedral Ruteng dengan nama pelindung Santa Maria Diangkat Ke Surga dan Santo Yosep.
Perkembangan kelembagaan gereja terus meningkat: wilayah gereja Katolik Manggarai ditetapkan sebagai Dekenat pada tanggal 29 September 1929, dengan Paroki Ruteng sebagai pusatnya, dan Pater Thomas Khoning, SVD, menjadi Deken pertama.
Status Dekenat Manggarai kemudian ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Ruteng pada tanggal 8 Maret 1951.
Gereja Paroki Ruteng yang terbesar di Manggarai menjadi gereja paroki katedral Ruteng, dan sejak saat itu cikal bakal nama paroki ‘katedral’ Ruteng mulai diukir.
Pater Wilhelmus Van Bekkum, SVD, menjadi Vikaris Apostolik pertama dan ditahbiskan menjadi uskup pada tanggal 13 Mei 1951.
Puncaknya, Vikariat Apostolik Ruteng ditingkatkan statusnya menjadi Keuskupan Ruteng pada tanggal 3 Januari 1961, di mana Mgr. Wilhelmus Van Bekkum, SVD, menjadi uskup pertama.
Peningkatan status ini merupakan pengakuan gereja universal bahwa wilayah Manggarai tidak lagi menjadi daerah misi, melainkan sudah menjadi gereja lokal.
Estafet Kepemimpinan dan Pemekaran Paroki
Paroki katedral Ruteng, yang masih meliputi seluruh kota Ruteng, menjadi titik sentral gereja lokal Keuskupan Ruteng.
Keberhasilan pelayanan ini memicu pemekaran beberapa paroki baru yang muncul dari Paroki Katedral Ruteng, di antaranya Paroki St. Michael Kumba (1962), Paroki St. Fransisikus Asisi Karot (1974), Paroki St. Vitalis Cewonikit (1984), dan Paroki Kristus Raja Mbaumuku (1984).
Pater Franc Dorn, SVD, (1923-1939) digantikan oleh Pater Frans Mensen, SVD (1939-1946). Selain itu, Pater Yohanes Bala Letor, SVD (1942-1946), Pater Nico Bot, SVD, yang dijuluki ‘pastor pemukul’, dan Pater Markus Malar, SVD (sekitar 1950-an) juga pernah berkarya di paroki ini.
Setelah itu, pelayanan dilanjutkan oleh Pater Hilarius Gudi, SVD (1967-1970), kemudian Pater Carolus Kale Bale, SVD, dan Pater Yosef Klizan, SVD (1970-1972).
Mgr. Wilhelmus Van Bekkum, SVD, berhenti dengan hormat sebagai uskup Ruteng pada 31 Januari 1972. Pater Vitalis Djebarus, SVD, diangkat sebagai Administrator Apostolik keuskupan Ruteng dan kemudian ditahbiskan menjadi uskup Ruteng yang kedua pada 5 Mei 1973.
Bersamaan dengan itu, Romo Max Nambu Pr. diangkat sebagai pastor paroki katedral Ruteng, mengemban tugas hingga tahun 2004.
Setelah Mgr. Vitalis Djebarus diangkat menjadi uskup pada 4 Januari 1981, Pater Gerardus Mazemberg, SVD, memimpin diosis sebagai vikaris kapitularis.
Romo Max Nambu, Pr, kemudian menjadi administrator Diosesanus pada 15 Desember 1983. Tahta Suci Vatikan mengangkat Pater Eduardus Sangsun, SVD, sebagai uskup Ruteng pada 3 Desember 1984.
Perencanaan pembangunan katedral baru dimulai pada tahun 1985 dan ditahbiskan pada 15 Agustus 2002. Sejarah ini memperlihatkan korelasi yang erat antara kehidupan Paroki Katedral dan kehidupan menggereja gereja lokal Keuskupan Ruteng.














