Dirilis oleh: Elvanto Richardo Dede
SIKKA, PENA1NTT.COM – Paroki Santo Ignatius Loyola di Sikka, yang merupakan pusat kehidupan rohani bagi umat Katolik setempat, memiliki akar sejarah yang kuat dan mendalam.
Berawal dari kedatangan misionaris Katolik—kemungkinan Yesuit atau Fransiskan—sejak abad ke-17 atau bahkan lebih awal. Wilayah Sikka, termasuk Desa Sikka Natar, telah lama terpengaruh oleh kehadiran Portugis dan Katolik.
Kehadiran awal gereja di Sikka ditandai dengan tibanya Pastor Isco Damato sekitar tahun 1629.
Pastor yang kemungkinan Yesuit atau setidaknya pengikut semangat Ignasian ini membawa sebuah meriam kuno yang kini menjadi artefak sejarah penting.
Meriam kuno ini menjadi penanda awal mula penyebaran agama Katolik dan kehadiran spiritual di wilayah tersebut.
Paroki ini kemudian mengambil nama Santo Ignatius Loyola—pendiri Serikat Yesus (Yesuit)—sebagai pelindungnya.
Pemilihan nama ini menunjukkan adanya hubungan kuat dengan spiritualitas Ignasian, semangat misioner, serta pengaruh Ordo Yesuit dalam perkembangan gereja di Nusantara.
Seiring berjalannya waktu, Paroki Santo Ignatius Loyola berkembang dari pos misi menjadi paroki definitif.
Paroki ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat yang melayani kebutuhan spiritual dan sosial komunitas Katolik lokal, yang sebagian besar merupakan keturunan masyarakat Sikka dan para pendatang.
Kisah Paroki Santo Ignatius Loyola di Sikka mencerminkan sejarah panjang Katolik di daerah tersebut, yang berjalan beriringan dengan sejarah Kerajaan Sikka, menampilkan akulturasi budaya dan iman yang harmonis.
Intinya, paroki ini merupakan hasil dari misi evangelisasi yang telah lama dimulai di wilayah Sikka, dengan warisan spiritual Santo Ignatius dari Loyola yang terus menjadi panduan imannya hingga kini.














