Berita  

Ketua DPD PSI Mabar Charles Ang Dinilai Selalu Gagal Pimpin Rapat, PSI Terancam di Pemilu Mendatang

Labuan Bajo, pena1ntt.com — Konflik internal kembali mengguncang Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kali ini datang dari tubuh DPD PSI Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah kader secara terbuka menuding Ketua DPD PSI Manggarai Barat, Charles Angliwarman, melakukan tindakan sepihak dengan mengubah dan menghapus nama sejumlah pengurus dari struktur resmi partai tanpa mekanisme organisasi yang semestinya.

Ketegangan ini mencuat ketika tim KPU dan Bawaslu setempat melakukan kunjungan ke kantor DPD PSI pada Senin, 1 Desember 2025. Pada kesempatan tersebut, Charles memperkenalkan susunan pengurus baru yang ternyata berbeda dengan struktur resmi yang telah disahkan internal partai.

Sejumlah kader mengaku terkejut karena mendapati nama mereka hilang tanpa pemberitahuan, rapat, maupun evaluasi. Langkah Charles dinilai bukan hanya bentuk maladministrasi, tetapi juga pengkhianatan terhadap prinsip demokrasi yang selama ini menjadi identitas PSI.

“Seharusnya orang seperti Charles Angliwarman paham bahwa PSI berdiri atas dasar transparansi, partisipasi, dan keterbukaan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya,” ujar kader PSI, Paul Ganur, Rabu (03/12/2025) malam.

Paul menegaskan bahwa mekanisme perubahan struktur di PSI telah diatur jelas dan tidak dapat diputuskan sepihak. Ia menilai tindakan ketua DPD tersebut menunjukkan lemahnya pemahaman terhadap tata organisasi partai.

“Dalam beberapa peristiwa yang telah berlangsung selama ini ketua DPD PSI Mabar ini tidak tahu memimpin rapat saat ada pertemuan partai. Dan di saat para kader memberi masukan tidak diterima. Hal yang menyebabkan keputusan di tingkat partai tidak terencana, terukur dan terstruktur dengan baik,” ungkapnya.

Paul juga menilai langkah Charles telah mengabaikan nilai budaya lokal.

“Di Manggarai itu ada prinsip lonto leok — musyawarah mufakat. Tapi Charles bertindak seperti pemilik partai, bukan pengurus organisasi,” tegasnya.

Nada serupa disampaikan kader lainnya, Ricky Morgan. Ia menilai penghapusan nama kader dari struktur tanpa proses organisasi adalah tindakan sepihak yang tidak dapat dibenarkan.

“Kami baru mengetahui nama kami hilang saat KPUD datang. Tidak ada rapat, tidak ada pemberitahuan. Ini bukan partai keluarga. Ketua tidak bisa merasa punya kuasa mutlak,” ujarnya.

Ricky juga menyoroti persoalan komunikasi internal yang disebutnya berjalan buruk. Menurutnya, selama kepemimpinan Charles, koordinasi jarang dilakukan dan sebagian besar pengurus hanya menjadi pelengkap.

“Semua diputuskan sendiri. Ada lingkaran kecil yang mengendalikan semuanya. Ini jauh dari semangat PSI yang katanya modern dan transparan,” tambahnya.

Saat ini, para kader tengah menyiapkan surat keberatan resmi kepada DPW PSI NTT dan DPP PSI di Jakarta. Mereka mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Charles, bahkan tidak menutup kemungkinan meminta pembekuan kepengurusannya. Jika tuntutan itu tak ditanggapi, mereka mengancam melakukan pengunduran diri secara massal.

“Kalau praktik politiknya seperti ini, apa bedanya PSI dengan partai lama yang penuh intrik kekuasaan? Kami bergabung karena ingin perubahan, bukan diatur seperti bawahan pribad. ini bukan organisasi keluarga atau barang dagang,” tegas Ricky.

Hingga berita ini diturunkan, Charles Angliwarman belum memberikan klarifikasi. Ketika dihubungi salah satu jurnalis melalui pesan singkat, Charles justru mengirimkan video lagu “Kegagalan Cinta” milik Rhoma Irama, tanpa penjelasan apa pun.

Kisruh ini muncul di tengah upaya PSI memperkuat konsolidasi menjelang agenda politik nasional. Pengamat menilai bahwa jika konflik internal seperti ini tidak segera ditangani, performa PSI di wilayah Manggarai Barat—bahkan secara nasional—berpotensi tergerus menjelang Pemilu mendatang.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: RickyEditor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *