Opini  

Menatap Masa Depan Pendidikan: Antara Digitalisasi dan Karakter Manusia

Opini oleh Yohanes Agusto Lagut (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Perkembangan teknologi yang begitu masif telah mengubah lanskap pendidikan global, termasuk di Indonesia. Di satu sisi, kehadiran platform digital dan kecerdasan buatan menawarkan peluang emas untuk memperluas akses serta meningkatkan efisiensi pembelajaran.

Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana teknologi mampu menjawab tantangan kualitas pendidikan tanpa mengikis hakikat utama pembentukan karakter manusia? Untuk menjawab persoalan tersebut, terdapat beberapa aspek krusial yang perlu kita cermati bersama.

Tantangan dan Peluang di Era Digital

Dunia pendidikan Indonesia sedang mengalami perubahan pesat seiring dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Transformasi ini mengharuskan lebih dari 3,3 juta pendidik dan 50 juta peserta didik untuk beradaptasi secara cepat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 89,2% anak usia sekolah di Indonesia telah terhubung dengan internet. Namun, sekitar 92,4% di antaranya memanfaatkan internet untuk media sosial serta hiburan, sedangkan yang memanfaatkannya khusus untuk pembelajaran mandiri hanya sekitar 33,1%. Data ini menunjukkan bahwa tingginya penetrasi internet belum sejalan dengan pemanfaatannya secara produktif untuk kegiatan akademis.

Peran Vital Guru yang Tak Tergantikan

Teknologi seharusnya bertindak sebagai alat bantu pembelajaran, bukan menggantikan peran vital guru. Hasil pemetaan kompetensi digital pendidik memperlihatkan bahwa baru sekitar 42% guru di Indonesia yang memiliki tingkat literasi digital pada kategori menengah hingga mahir.

Kehadiran pendidik tetap menjadi kunci utama dalam memandu proses berpikir kritis, menanamkan nilai moral, serta membangun empati sosial murid. Interaksi tatap muka dan diskusi langsung membangun keterampilan sosial yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan. Oleh karena itu, program pelatihan digital bagi jutaan guru menjadi skala prioritas yang mendesak.

Penguatan Literasi dan Keterampilan Abad Ke-21

Kebutuhan akan perbaikan kualitas pembelajaran tecermin nyata dalam capaian kemampuan siswa. Berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis OECD, Indonesia berada di peringkat 68 dari 81 negara, dengan skor literasi membaca sebesar 359, literasi matematika 366, dan literasi sains 366.

Angka tersebut masih berada jauh di bawah rata-rata negara OECD yang berkisar di angka 470–490. Data ini menegaskan bahwa kurikulum nasional harus lebih berfokus pada penalaran, analisis pemecahan masalah, serta kemampuan memilah informasi yang valid di tengah maraknya disinformasi.. Pemerataan Akses sebagai Kunci Utama

Pemerataan Akses sebagai Kunci Utama

Persoalan infrastruktur fisik dan digital masih menjadi ganjalan utama dalam pemerataan kualitas pendidikan. Data Kementerian Pendidikan mencatat masih ada sekitar 12.000 satuan pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang belum memiliki akses internet memadai, serta ribuan sekolah yang belum terjangkau aliran listrik secara stabil.

Tanpa pemerataan jaringan dan sarana prasarana dasar di seluruh pelosok, digitalisasi pendidikan justru berpotensi memperlebar jurang ketimpangan antara wilayah perkotaan dan daerah terisolasi.

Sinergi untuk Masa Depan Pendidikan

Pendidikan yang berkualitas adalah investasi terbaik bagi masa depan bangsa. Penggabungan teknologi canggih dengan pendidikan karakter yang kokoh akan melahirkan generasi muda yang cerdas, adaptif, dan berintegritas tinggi.

Dengan pengalokasian anggaran pendidikan 20% dari APBN secara tepat sasaran, pemerintah, pendidik, dan masyarakat dapat bersama-sama menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, merata, dan relevan dengan tantangan zaman.

Kesimpulan

Digitalisasi pendidikan di Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperluas akses dan meningkatkan mutu pembelajaran. Keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada keseimbangan antara kemajuan teknologi dan penguatan karakter manusia.

Tanpa peran aktif guru yang kompeten, kurikulum yang berfokus pada literasi kritis, serta pemerataan infrastruktur hingga ke pelosok daerah, pemanfaatan teknologi tidak akan mencapai hasil yang optimal.

Oleh karena itu, sinergi yang kokoh antara pemerintah, pendidik, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan masa depan pendidikan Indonesia yang inklusif, berkualitas, dan berdaya saing global.

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *