MENJERIT DI BAWAH POHON: Mama-Mama Gongger Satar Punda Barat Tak Berdaya di Depan Buku Tagihan PNM Mekar, Ekonomi Hancur Akibat Gempa

SATAR PUNDA BARAT//PENA1NTT.COM – Hati siapa yang tidak teriris melihat foto ini?

Di bawah terik matahari Gongger, Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda utara, Manggarai Timur, lima orang mama-mama harus duduk lesehan di tanah kering berdebu. Di hadapan mereka, seorang petugas PNM Mekar dengan tenang duduk di kursi plastik merah, membuka buku tagihan.

Video berdurasi 3 menit 31 detik yang diterima redaksi http://PENA1NTT.COM ini menggambarkan betapa perihnya perjuangan warga kecil hari ini.

Mereka bukan tidak mau membayar. Mereka belum bisa membayar.

Suami Pulang Karena Gempa, Dapur Tak Ngebul

Dengan suara bergetar, salah satu mama mengungkap fakta pilu di balik keterlambatan angsuran.

“Kemarin kita punya suami pergi kerja. Dengan karena gempa akhirnya kita punya suami pulang,” ucapnya lirih.

Gempa yang mengguncang Manggarai beberapa waktu lalu tidak hanya meretakkan rumah mereka, tapi juga meretakkan ekonomi mereka. Sumber pendapatan hilang. Untuk makan sehari-hari saja mereka susah, apalagi untuk angsuran.

Fakta yang paling menyakitkan, kelompok ini ternyata sudah berterus terang sejak awal. Saat Ibu Fani petugas pertama datang, mereka sudah bilang hanya mampu mulai mengangsur pada tanggal 10 Oktober 2026.

Kesepakatan itu sudah ada. Janji itu sudah diucapkan.

Namun, mengapa sebelum tanggal 10 Oktober, penagihan tetap datang?

Diancam dan Ditantang Saat Merekam

Puncak keharuan sekaligus kemarahan terjadi saat warga mencoba merekam kejadian ini sebagai bukti.

Bukannya mendapat empati, warga justru mendapat tantangan.

“Kalau mama mau bawa ke kantor polisi, mending mama sekalian pergi panggil saja… Mama pergi bisa pergi panggil polisi sekarang saja,” terdengar suara petugas dalam video.

Bagi mama-mama di kampung, kantor polisi adalah tempat yang menakutkan. Mereka hanya ingin didengar, bukan ditantang.

Kami Butuh Keringanan, Bukan Tekanan

Kisah mama-mama Gongger ini bukan satu-satunya. Ribuan nasabah PNM Mekar di Flores adalah ibu-ibu tangguh yang ingin bangkit dari kemiskinan.

PNM Mekar seharusnya hadir sebagai pembina, bukan penekan. Sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nasabah yang terdampak bencana alam berhak mendapatkan relaksasi, restrukturisasi, dan penundaan angsuran tanpa bunga dan tanpa intimidasi.

Hari ini, mama-mama Gongger hanya meminta satu hal: Waktu.

Waktu untuk menata rumah yang retak.
Waktu untuk menunggu suami dapat kerja lagi.

Apakah itu terlalu berat?

Redaksi PENA1NTT.COM mendesak:

1. Pimpinan PNM Cabang Reo untuk turun langsung ke Gongger melihat kondisi riil warga, bukan hanya melihat angka di buku tagihan.
2. OJK NTT untuk memastikan aturan perlindungan nasabah korban bencana dijalankan.
3. Pemerintah Desa Satar untuk mendampingi warganya.

Jangan biarkan mama-mama di kampung menangis sendirian di bawah pohon hanya karena belum bisa membayar Rp 50 ribu.

 

Penulis: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *