Opini  

Pendidikan di Persimpangan Teknologi: Jangan Biarkan Murid Pintar AI, tapi Miskin Nalar

Opini oleh Alexandrio Harja Pangka (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, kita menyambut kecerdasan buatan yang memudahkan akses ilmu. Di sisi lain, kita menghadapi kenyataan pahit bahwa kemampuan literasi dan nalar kritis peserta didik masih tertinggal.

Kehadiran ChatGPT, Gemini, dan berbagai platform AI generatif mengubah cara belajar. Tugas yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam riset di perpustakaan kini selesai dalam hitungan detik.

Namun, kemudahan ini menyimpan bahaya laten. Banyak siswa mengumpulkan tugas tanpa membaca, menjawab soal tanpa memahami, dan lulus ujian tanpa berpikir.

Inilah paradoks pendidikan kita. Kita berhasil menciptakan generasi yang mahir teknologi, tetapi belum tentu cakap bernalar. Kita menghasilkan siswa yang cepat menjawab, tetapi lambat mempertanyakan.

Akar masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri. Teknologi bersifat netral. Akar masalahnya terletak pada orientasi pendidikan yang masih menekankan hafalan, bukan pemahaman.

Sistem penilaian kita masih mengejar angka, bukan makna. Selama sekolah mengukur keberhasilan hanya dari nilai akhir, bukan dari proses berpikir, selama itu pula siswa akan mencari jalan pintas.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pertama, guru harus bertransformasi dari sumber informasi menjadi fasilitator nalar. Di era ketika informasi melimpah, tugas guru bukan lagi mendiktekan fakta, melainkan melatih cara memverifikasi fakta.

Pertanyaan terbuka, debat kelas, dan proyek berbasis masalah jauh lebih relevan daripada sekadar mencatat dari papan tulis.

Kedua, kurikulum perlu memberi ruang bagi literasi mendalam. Literasi bukan sekadar mampu membaca. Literasi adalah kemampuan memahami konteks, menganalisis argumen, dan membedakan opini dari fakta.

Gerakan literasi harus masuk ke dalam setiap mata pelajaran, bukan hanya pelajaran Bahasa Indonesia.

Ketiga, orang tua dan masyarakat perlu mengubah cara pandang. Pendidikan bukan perlombaan siapa yang paling cepat selesai, melainkan perjalanan siapa yang paling dalam memahami.

Memberi ruang bagi anak untuk salah, bertanya, dan berpikir lambat jauh lebih berharga daripada memaksa anak selalu terlihat pintar.

Teknologi tidak akan menggantikan guru. Namun, guru yang tidak beradaptasi dengan teknologi akan digantikan. Hal yang sama berlaku bagi siswa.

AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI dengan nalar kritis akan menggantikan manusia yang tidak mampu berpikir.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan mencetak generasi yang bisa menjawab semua pertanyaan oleh AI.

Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang tetap mampu mengajukan pertanyaan penting ketika semua jawaban sudah tersedia. Itulah esensi pendidikan yang sesungguhnya.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *