PENDIDIKAN PANCASILA: MEMBENTUK KARAKTER, BUKAN SEKADAR HAFALAN

Efrem Djordyan Narang, Mahasiswa PBSI Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng

Oleh: Efrem Djordyan Narang, Mahasiswa PBSI Universitas Katolik Indonesia St Paulus Ruteng 

 

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Pendidikan Pancasila sering dipahami sebagai mata pelajaran yang menuntut siswamenghafal sila-sila dan mengingat sejarah lahirnya dasar negara. Padahal, maknapendidikan Pancasila jauh lebih luas. Pendidikan ini seharusnya membantu pesertadidik memahami nilai-nilai kebangsaan, berpikir kritis, menghargai perbedaan, danmenerapkan sikap bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya informasi di media sosial,generasi muda berhadapan dengan berbagai tantangan, seperti penyebaran hoaks,perundungan digital, ujaran kebencian, serta sikap tidak menghargai perbedaan.Menghafal Pancasila saja tidak cukup untuk menghadapi persoalan tersebut. Pesertadidik perlu belajar menilai informasi secara kritis, berdialog dengan santun, danmempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain.

Karena itu, pembelajaran Pancasila perlu lebih dekat dengan pengalaman nyata. Guru dapat mengajak siswa membahas kasus intoleransi, menyusun kegiatan gotongroyong, bermusyawarah untuk menyelesaikan konflik, atau membuat kampanye digitaltentang etika bermedia sosial. Dengan cara ini, nilai-nilai Pancasila tidak berhentisebagai teori di buku, tetapi menjadi kebiasaan yang dipraktikkan.

Namun, tanggung jawab membumikan Pancasila tidak hanya berada di tangansekolah. Keluarga, masyarakat, dan pemerintah juga perlu memberikan teladan. Akansulit meminta anak bersikap jujur jika orang dewasa membenarkan kecurangan, ataumengajarkan toleransi jika perbedaan justru dijadikan alasan untuk merendahkan oranglain. Pendidikan karakter akan lebih bermakna ketika ucapan sejalan dengan tindakan.

Penilaian pembelajaran pun sebaiknya tidak hanya berfokus pada ujian hafalan. Sikap kerja sama, kemampuan menyampaikan pendapat dengan alasan yang masukakal, kesediaan mendengarkan orang lain, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial dapatmenjadi bagian dari proses belajar.

Penilaian semacam ini perlu dilakukan secara adildan reflektif, bukan untuk memberi label kepada peserta didik, melainkan untukmembantu mereka berkembang.

Pendidikan Pancasila bukan sekadar upaya mewariskan lima sila dari satu generasike generasi berikutnya. Pendidikan ini merupakan proses membangun warga negarayang berintegritas, terbuka, dan peduli terhadap sesama. Jika sekolah mampumenghubungkan nilai dengan tindakan nyata, Pancasila tidak hanya diucapkan saatupacara, tetapi hadir dalam keputusan kecil sehari-hari: berkata jujur, menghormatiperbedaan, menolak perundungan, dan bekerja bersama demi kepentingan umum.

Penulis: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *