MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai menyiapkan enam program prioritas yang terpadu dan berkelanjutan dalam rencana aksi masa pemulihan pascabencana.
Langkah strategis ini diambil untuk memulihkan pelayanan kesehatan, menjamin keberlanjutan layanan bagi warga terdampak, serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan daerah.
Juru Bicara Posko Health Emergency Operation Center (HEOC), Andi Jemahu, menyampaikan bahwa peralihan dari fase tanggap darurat menuju pemulihan merupakan tahapan krusial.
Strategi transisi ini difokuskan pada pemulihan kesehatan masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan.
“Pemerintah memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan, khususnya mereka yang berada di wilayah terdampak dan mengalami keterbatasan akses. Tidak boleh ada satu pun warga terdampak yang tertinggal,” ujar Andi melalui rilis yang diterima media ini, Senin (28/09/2026).
Rencana aksi ini mengintegrasikan peran 25 Puskesmas, RSUD, RS Pratama, tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga mitra relawan yang berjejaring selama masa tanggap darurat.
Berikut adalah enam program prioritas transisi kesehatan yang disiapkan:
1. Pemulihan Pelayanan Kesehatan Dasar
Dinkes Manggarai melakukan pemetaan menyeluruh terhadap kondisi fisik bangunan, ketersediaan obat dan alat kesehatan, listrik, air bersih, tenaga medis, hingga akses jalan menuju Puskesmas.
Pemetaan ini menentukan status operasional fasilitas—apakah dapat berfungsi normal, memerlukan dukungan logistik, atau membutuhkan pos pelayanan sementara.
Layanan rutin seperti kesehatan ibu dan anak, imunisasi, KB, pengobatan penyakit kronis (TB dan HIV), serta gawat darurat kembali diaktifkan, didukung layanan keliling untuk wilayah yang terisolasi.
2. Penguatan Pelayanan Kesehatan Berbasis Komunitas (Peluk Sehat Mobile)
Melalui program Peluk Sehat Mobile, jangkauan layanan diperluas langsung ke tengah masyarakat melalui kunjungan rumah (home visit).
Layanan ini diprioritaskan bagi pasien stroke, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil berisiko tinggi, dan penderita penyakit kronis yang membutuhkan pemantauan berkala.
Tim medis juga mendata warga yang memerlukan tindakan rehabilitasi, pasokan obat rutin, maupun rujukan ke fasilitas rujukan.
3. Pemulihan Kesehatan Jiwa dan Dukungan Psikososial
Untuk mengatasi trauma, kecemasan, dan gangguan tidur pascabencana, layanan dukungan psikososial dibuka di lokasi pengungsian, sekolah, desa, dan Puskesmas.
Tenaga kesehatan dibekali pelatihan Psychological First Aid (PFA) untuk melakukan skrining awal serta penanganan trauma.
Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan—anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, keluarga korban jiwa, serta Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) agar pendampingan dan konsumsi obat mereka tidak terputus.
4. Surveilans Penyakit dan Kesehatan Lingkungan
Guna mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB), Dinkes mengintensifkan pemantauan penyakit mingguan di seluruh Puskesmas, terutama di area pengungsian dan permukiman padat.
Pengawasan difokuskan pada penyakit Diare, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kegiatan ini dibarengi dengan inspeksi sanitasi, uji kualitas air bersih, pengawasan keamanan makanan, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
5. Perlindungan Kesehatan Ibu dan Anak
Dinkes mendorong pendataan ulang ibu hamil, ibu nifas, bayi, dan balita yang sempat kehilangan akses layanan selama bencana.
Kegiatan Posyandu dan imunisasi rutin kembali digalakkan, disertai pemantauan status gizi balita.
Penanganan persalinan aman, rujukan maternal-neonatal, dan layanan kesehatan reproduksi tetap dijamin berjalan normal guna mencegah dampak kesehatan jangka panjang.
6. Rehabilitasi Fasilitas dan Penguatan Sistem Kesehatan
Dinkes melakukan penilaian kerusakan dan kebutuhan sektor kesehatan sebagai dasar penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kesehatan (R3P).
Pemulihan diprioritaskan pada fasilitas dengan kerusakan berat dan fungsi pelayanan kritis, seperti RSUD, RS Pratama, dan Puskesmas.
Selain perbaikan fisik, kapasitas tanggap darurat diperkuat melalui penyusunan rencana kontingensi, penataan sistem rujukan, komunikasi darurat, serta keterjaminan logistik medis.
Lebih lanjut, Andi berharap enam langkah strategis ini mampu mengawal masa transisi kesehatan di Kabupaten Manggarai secara terstruktur dan terintegrasi dengan pelayanan rutin.
Baginya, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari beroperasinya kembali fasilitas medis, tetapi dari kemudahan masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan.
Masa transisi ini sekaligus menjadi pembuktian komitmen Pemerintah untuk tetap hadir mendampingi warga, bahkan saat perhatian terhadap situasi darurat mulai berangsur surut.
“Melalui semangat Peluk Sehat: Memeluk dengan Hati, Dinkes Manggarai berkomitmen hadir di tengah masyarakat untuk memastikan pelayanan yang aman, mudah dijangkau, dan berkelanjutan,” pungkasnya.













