Opini oleh: Felsianus Gol (Aktivis PMKRI Cabang Ruteng Santu Agustinus)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Dalam ilmu bahasa Indonesia, awalan Maha bukanlah kata yang murah. Ia mengandung bobot eksistensial yang teramat berat.
Benar apa yang ada di dalam gagasan filosofis bahwa di dunia ini, atribut Maha secara substantif hanya disematkan pada dua entitas: Tuhan Yang Maha Esa sebagai puncak spiritualitas, dan Mahasiswa sebagai puncak intelektual manusia awam.
Ketika seseorang beralih dari Siswa menjadi Mahasiswa, ia bukan sekadar berpindah gedung sekolah atau mengganti seragam. Ia sedang mengalami baptisan intelektual.
Dari yang semula merupakan konsumen ilmu yang pasif, ia dituntut bertransformasi menjadi penguji, pengritik, bahkan produsen kebenaran ilmiah.
Namun, realitas di bangku kuliah hari ini—khususnya refleksi kritis atas dinamika di kampus—menunjukkan paradoks yang mencemaskan: statusnya memang Mahasiswa, namun mentalitasnya masih Siswa.
Ironi Ketakutan Intelektual di Lingkup Kampus
Mengapa mahasiswa memilih menjadi siswa yang penurut? Alasan utamanya adalah absennya keberanian untuk mengkritik apa yang disampaikan oleh dosen.
Ketakutan ini bukanlah ketakutan bawaan lahir, tetapi ketakutan yang dikondisikan oleh lingkungan.
Ketika mahasiswa duduk di kelas hanya untuk mencatat, menghafal, dan mengangguk demi mengamankan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), di saat itulah esensi kemahasiswaannya runtuh.
Mahasiswa terjebak dalam apa yang disebut Paulo Freire sebagai Pendidikan Gaya Bank (Banking Concept of Education), di mana dosen mentransfer informasi ke dalam kepala mahasiswa yang kosong tanpa ada ruang untuk menggugat atau mendebat informasi tersebut.
Kalaupun ada niat untuk menggugat, mahasiswa diliputi rasa takut nilai IPK-nya turun atau tidak lulus mata kuliah.
Jika mahasiswa takut bersuara hanya karena khawatir nilainya dijatuhkan atau dicap pembangkang, maka kampus tidak sedang mencetak para pemikir, tetapi sedang memproduksi buruh-buruh konformis yang patuh pada otoritas.
Hegemoni Otoritas: Ketika Dosen Meminta Disembah, Bukan Didebat
Sisi lain dari koin kemunduran ini adalah sikap mental sebagian pengajar. Ada indikasi kuat bahwa kultur akademik kita masih terjangkit sindrom feodalisme.
Banyak dosen yang merasa diri mereka berada di puncak hierarki sosial kampus yang harus dihargai secara mutlak dan searah.
Menghargai di dalam dunia akademik telah mengalami distorsi makna yang parah. Menghargai diartikan sebagai kepatuhan buta.
Jika ada mahasiswa yang mengajukan argumen berbeda, hal itu sering kali dianggap sebagai serangan personal terhadap wibawa dosen, bukan sebagai gairah intelektual yang sehat.
Dosen yang feodal akan selalu menuntut rasa hormat berbasis jabatan dan gelar, bukan berbasis ketajaman berpikir.
Ketika dosen memposisikan diri sebagai pemilik tunggal kebenaran, mereka secara tidak langsung memaksa mahasiswa untuk menurunkan derajatnya sendiri kembali menjadi siswa sekolah dasar yang pasif.
Mengembalikan Maha ke Tangan Mahasiswa
Refleksi ini merupakan otokritik yang sangat mendasar. Kampus harus sadar bahwa ukuran keberhasilan sebuah universitas bukanlah kelas yang tenang dan mahasiswa yang penurut, namun kelas yang bising oleh perdebatan ide dan argumen ilmiah.
Bagi Dosen: Saatnya turun dari menara gading feodalisme. Dosen harus berubah peran dari penguasa mimbar menjadi fasilitator dialektika.
Menghargai seorang dosen yang sejati adalah dengan cara mendebat pikirannya secara ilmiah, bukan dengan menyetujui semua perkataannya karena takut.
Bagi Mahasiswa: Berhentilah bermental sekadar penikmat kuota kuliah. Atribut Maha menuntut tanggung jawab untuk bersikap kritis.
Jika mahasiswa tetap diam melihat kekeliruan atau ruang diskusi yang mati, maka mereka sedang melanggengkan posisi mereka sebagai Siswa.
Jika relasi kuasa yang timpang ini terus dipelihara, maka universitas hanya akan menjadi pabrik stempel ijazah formalitas.
Kebebasan mimbar akademik harus dikembalikan: dosen harus berani didebat, dan mahasiswa harus berani meruntuhkan ketakutannya untuk bersuara.













