MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM — Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Labuan Bajo Sanctus Fransiskus Asisi resmi memasuki babak baru kepengurusan organisasi.
Fransiska Heldiana Juita secara resmi dilantik sebagai Mandataris RUAC II/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PMKRI Cabang Labuan Bajo periode 2025–2026.
Fransiska dilantik secara langsung oleh Presidium Riset dan Teknologi Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas, Yohanes G. Karmon di Aula Gedung Pramuka SMIP Labuan Bajo, pada Sabtu (13/12/2025).
Acara kegiatan pelantikan ini mengusung tema: “Membangun Kembali Spirit Pergerakan: Dari Diam ke Gerak, Dari Lupa ke Sadar”.
Fokus Orientasi Gerakan: Isu Pariwisata dan Otonomi Cabang
Dalam pidato perdananya, Fransiska menegaskan momentum pelantikan ini sebagai panggilan moral untuk menguatkan kembali identitas dan aksi organisasi.
“Pelantikan ini bukan hanya seremoni, tetapi panggilan untuk kembali menghidupkan spirit pergerakan PMKRI, sebagaimana tema yang kita usung bersama,” tegasnya.
Ia secara eksplisit mengumumkan pergeseran fokus gerakan cabang ke isu yang paling relevan bagi Kabupaten Manggarai Barat.
“Fokus gerakan PMKRI Cabang Labuan Bajo ke depan akan diarahkan pada isu strategis lokal, khususnya pariwisata dan kewirausahaan,” ujar Fransiska.
Fransiska menambahkan, kader PMKRI wajib terlibat secara sadar dan kritis di tengah geliat pariwisata super prioritas, tanpa melupakan peran dasar mereka sebagai prajurit Gereja yang kritis.
Salah satu penekanan terkuat dalam kepemimpinan Fransiska adalah komitmen untuk menjaga Otonomi Cabang sebagai ruang kemandirian berpikir dan bergerak sesuai konteks lokal.
“Kami berkomitmen menjaga otonomi cabang sebagai ruang kemandirian berpikir dan bergerak sesuai realitas lokal, tanpa melepaskan diri dari nilai, konstitusi, dan ideologi PMKRI,” lanjutnya.
Komitmen ini disambut baik oleh Pengurus Pusat PMKRI. Yohanes G. Karmon dalam sambutannya memberikan dukungan penuh terhadap kemandirian Labuan Bajo.
“Setiap cabang memiliki otonominya sendiri. Cabang harus mandiri dalam menentukan arah geraknya. Saran dari senior dan alumni itu penting dan baik, tetapi keputusan akhirnya tetap berada di tangan pengurus cabang,” tegas Yohanes.
Yohanes juga mengingatkan peran strategis PMKRI Cabang Labuan Bajo dalam menyukseskan agenda Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) PMKRI Nasional pada tahun 2026 yang akan dilaksanakan di PMKRI Cabang Ruteng.
“Labuan Bajo adalah pintu masuk. Karena itu PMKRI Cabang Labuan Bajo harus kuat, solid, dan kaderisasinya berjalan baik agar siap menyambut agenda nasional ini,” tambahnya.
Yohanes juga menyampaikan harapan krusial agar kepengurusan baru dapat terus membenahi organisasi.
Menurutnya, poin terpenting adalah keberlanjutan kaderisasi. Ia mengingatkan, tanpa proses kaderisasi yang baik, PMKRI akan kehilangan roh atau spiritnya sebagai organisasi pergerakan.
Dukungan Alumni dan Cipayung Plus
Pelantikan ini turut dihadiri senior, alumni, serta organisasi kepemudaan Cipayung Plus, termasuk GMNI Kabupaten Manggarai Barat.
Kehadiran alumni dan mitra Cipayung menegaskan komitmen dan dukungan untuk keberlanjutan orientasi gerakan PMKRI Cabang Labuan Bajo.
Perwakilan senior dan alumni, Chelus Pahun, menyampaikan ucapan selamat dan menyoroti cepatnya jenjang karier pengurus baru.
Menurutnya, jajaran pengurus ini lahir dari ‘angkatan revolusi’, yang dituntut untuk menerjemahkan kata revolusi sebagai keberanian melakukan perubahan nyata.
Chelus juga menekankan pentingnya kader untuk menghidupi nilai spiritualitas dan membangun kembali fraternitas, yang berakar pada tiga benang merah PMKRI (Kristianitas, Fraternitas, Intelektualitas).
“Nilai Kristianitas harus sungguh dimaknai dan dihidupi. PMKRI Labuan Bajo harus mulai membangun kembali fraternitas, persaudaraan sejati antar kader,” pungkasnya.
Dengan resmi dilantiknya Fransiska dan jajaran DPC, PMKRI Cabang Labuan Bajo kini memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara otonomi lokal dan kepatuhan organisatoris.
Pengurus baru ditantang untuk segera menerjemahkan visi pergerakan ke dalam aksi nyata yang berdampak pada isu pariwisata dan kewirausahaan di Manggarai Barat.














