Berita  

Dibohongi Orang Dalam? Dino Karjon Dituding Gagal Tepati Janji kepada Keluarga Forlan

Borong, Pena1NTT.Com – Di balik euforia penyambutan petinju berdarah Manggarai Timur, Forlan Rivaldo, pada 25 Juni 2025 lalu, tersimpan kisah pilu yang mencoreng nama baik Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Keluarga besar Forlan mengaku menjadi korban janji manis seorang pria bernama Dino Karjon, yang disebut-sebut sebagai “orang dalam” Pemda sekaligus penghubung utama acara tersebut.

Alih-alih mendapat penghargaan, keluarga justru harus menanggung malu dan utang akibat ulah sang penghubung.

Ibunda Forlan, Maria Fransiska (42), mengaku kini hidup dalam tekanan sosial karena menjadi bahan pembicaraan warga kampung.

Tak hanya itu, ia juga harus menanggung utang yang digunakan untuk menyukseskan acara penjemputan putranya, mulai dari Borong hingga kampung halaman mereka di Mbapo, Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba.

“Kami keluarga besar sangat kecewa dengan Pemda Matim. Kami malu karena menjadi bahan pembicaraan orang di kampung. Ada yang menuding kami sudah menerima sesuatu dari Pemda, padahal sepeser pun tidak ada! Sekarang saya harus bekerja keras untuk menutup semua utang itu,” ujar Maria dengan mata berkaca-kaca saat ditemui wartawan, Senin (27/10/2025).

Awal Mula Komunikasi

Dikutip dari Suaraburuh.com, Maria menjelaskan awal mula keterlibatan Dino Karjon dalam rencana penjemputan tersebut.

Menurutnya, Dino pertama kali menghubungi Forlan melalui siaran langsung di media sosial. Dari perkenalan itu, keduanya bertukar nomor telepon dan mulai menjalin komunikasi intens.

“Anak saya sebenarnya hanya berencana pulang kampung untuk menghadiri acara keluarga. Tapi Pa Dino memaksa agar Forlan bersedia diterima secara adat oleh Pemda Matim. Forlan sempat menolak karena hanya diberi izin tiga hari oleh klubnya. Namun Pa Dino meyakinkan anak saya dengan banyak janji, termasuk akan dijemput dan diberi penghargaan oleh Pemda,” tutur Maria.

Masih menurut Maria, sang suami Kornelis Syukur sempat keberatan dengan rencana itu karena khawatir akan merepotkan Pemda.

Namun setelah banyak masukan dari warga, keluarga akhirnya setuju — dengan syarat seluruh biaya ditanggung oleh Pemda.

“Pa Dino menyanggupi semua itu. Katanya dia orang dalam dan bisa meyakinkan Bupati,” tambah Maria.

Janji Tak Terpenuhi

Pernyataan Maria dibenarkan oleh Itok Aman, pembawa acara dalam kegiatan penyambutan tersebut. Ia mengaku dihubungi langsung oleh Dino melalui panggilan video bersama Forlan.

“Saya diajak Pa Dino untuk membuat acara penyambutan. Karena saya fans berat Forlan, saya setuju tanpa meminta bayaran,” ungkap Itok.

Menurut Itok, Forlan sempat beberapa kali menolak rencana acara itu. Namun akhirnya luluh setelah Dino meyakinkannya bahwa Pemda Matim pernah memberikan apresiasi besar kepada atlet lain.

Sayangnya, kenyataan di lapangan jauh berbeda.

“Dino bilang akan ada tiga mobil dari Pemda menjemput di Labuan Bajo, dan puluhan motor akan menyambut di Wae Laku. Tapi saat tiba, tidak ada satu pun mobil. Anak saya harus menyewa mobil sendiri. Bahkan saya mengeluarkan uang Rp500 ribu untuk menyewa ojek agar bisa menjemput di Borong,” tutur Maria.

Penghargaan yang Tak Pernah Datang

Itok Aman menambahkan, janji pemberian penghargaan dari Pemda Matim pun tidak pernah terealisasi.

“Forlan menyerahkan sabuk juara kepada Pemda secara simbolis. Seharusnya saat itu Pemda juga memberikan penghargaan. Tapi yang saya lihat, Wakil Bupati Pa Tarsi Sjukur hanya mengalungkan topi dan selendang. Tidak ada penghargaan seperti yang dijanjikan,” katanya.

Acara penyambutan dilanjutkan di Kampung Mbapo, Desa Lembur, bersama rombongan pejabat Pemda Matim, termasuk Wakil Bupati Tarsisius Sjukur, Ketua DPRD Salesius Medi, dan sejumlah pejabat lainnya.

Namun, lagi-lagi janji yang disampaikan Dino Karjon tidak terbukti.

“Dino bilang ada dua ekor babi yang masing-masing disanggupi oleh Bupati dan Wakil Bupati, serta semua biaya bumbu akan diganti Pemda. Tapi sampai hari H, babi yang dijanjikan tidak pernah datang. Kami terpaksa berutang karena terdesak,” ucap Maria sambil meneteskan air mata.

Klarifikasi Dino Karjon dan Feliks Nabor

Masih dikutip dari Suaraburuh.com, Dino Karjon membantah telah menjanjikan sesuatu di luar acara penjemputan resmi Pemda Matim.

“Saya hanya menjembatani komunikasi antara Ase Forlan dan Pemda. Tidak pernah ada janji lain di luar itu,” tulis Dino melalui pesan WhatsApp.

Soal penghargaan yang disebut-sebut, Dino meminta agar wartawan menanyakan langsung kepada Feliks Nabor, yang diklaimnya sebagai ketua panitia kegiatan.

Namun, saat dikonfirmasi, Feliks justru memberikan pernyataan berbeda.

“Saya hanya bantu karena kami keluarga dekat. Soal janji penghargaan atau biaya akomodasi, semua itu urusannya Dino. Saya tidak tahu. Bahkan saya keluar uang sendiri untuk kegiatan itu,” ungkapnya.

IMG-20260217-WA0004
Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *