
Manggarai Timur, pena1ntt.com – Di ujung timur Kabupaten Manggarai Timur, tepat di batas yang memisahkan wilayah ini dengan Kabupaten Ngada, terhampar Desa Mosi Ngaran, sebuah desa kecil yang seolah terlewat dari peta pembangunan. Di balik hamparan hijau perbukitan Elar Selatan, warga desa ini masih bergelut dengan jalan berlumpur, air bersih yang tak menentu, dan malam gelap tanpa listrik.

Sudah bertahun-tahun, kehidupan di Mosi Ngaran berjalan dalam keterbatasan. Sementara desa lain telah menikmati jalan beraspal dan jaringan listrik, warga di sini masih berjuang dengan alat sederhana untuk sekadar menerangi rumah dan mengalirkan air.
“Kami seperti tinggal di dunia lain. Kalau malam, semua gelap. Air kadang keluar, kadang mati. Jalan pun rusak parah. Kami ini warga Manggarai Timur juga, tapi seperti tak dianggap,” ujar Mikael, tokoh masyarakat setempat, Kamis (9/10/2025).
Jalan Rusak, Warga Terjebak di Tengah Isolasi
Akses utama menuju Mosi Ngaran hanya berupa jalan tanah yang penuh batu dan lumpur. Ketika hujan turun, jalur itu berubah menjadi jebakan lumpur panjang yang sulit dilalui kendaraan. Sering kali, warga memilih berjalan kaki menembus hutan demi mencapai pasar atau fasilitas kesehatan di desa tetangga.

“Kami tanam kopi dan kemiri, tapi hasilnya susah dijual. Mobil tak bisa masuk, jadi hasil kebun sering busuk di rumah,” tutur Maria, seorang ibu petani di dusun Mosi Ngaran.
Kerusakan jalan itu juga berdampak pada pendidikan. Anak-anak sering tidak bisa ke sekolah ketika hujan deras, dan guru yang hendak mengajar pun kerap tertahan di perjalanan. Begitu pula dengan warga sakit yang harus digotong berjam-jam menuju puskesmas di Elar Selatan.
Janji Pembangunan Pemerintah Manggarai Timur Tak Kunjung Datang
Menurut warga, keluhan mengenai infrastruktur sudah disampaikan berulang kali dalam forum musyawarah desa dan kecamatan, bahkan sampai tingkat kabupaten. Namun, belum ada tindakan nyata.
“Sudah sering kami sampaikan, tapi tidak ada hasil. Karena kami di ujung wilayah, seolah tidak penting,” ujar Mikael kecewa.
Ketiadaan perhatian itu membuat masyarakat mempertanyakan keadilan pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur. Sementara desa lain menikmati listrik dan jalan beraspal, Mosi Ngaran masih berjuang untuk kebutuhan dasar.
Warga Tetap Bertahan dan Gotong Royong
Meski kecewa, semangat warga Mosi Ngaran tidak padam. Mereka tetap berupaya memperbaiki jalan secara swadaya menggunakan batu dan cangkul seadanya. Beberapa warga memasang panel surya kecil untuk penerangan malam, dan kelompok lain membuat saluran air darurat dari pipa bekas.
“Kami tidak minta belas kasihan. Kami hanya ingin keadilan pembangunan, sama seperti desa-desa lain,” tegas Maria.














