Opini oleh Suwardi Aldidino (Mahasiswa UNIKA – Aktivis PMKRI Cabang Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Judi online atau judol telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Kemudahan menguasai dan mengakses berbagai situs serta aplikasi taruhan melalui ponsel pintar membuat siapa saja mudah terjerumus, termasuk kalangan mahasiswa. Awalnya, seseorang mungkin bertaruh sekadar memenuhi rasa penasaran atau tergiur cara cepat mendapatkan uang. Namun, kebiasaan ini dengan cepat berubah menjadi kecanduan yang merugikan diri sendiri dan keluarga.
Judi online bukan sekadar persoalan menang atau kalah. Di balik layar taruhan, ada persoalan yang jauh lebih besar, yaitu hilangnya rasa tanggung jawab, kejujuran, kepercayaan, dan masa depan. Ketika seorang mahasiswa nekat memakai uang kuliah untuk bertaruh, ia bukan hanya mempertaruhkan sejumlah uang, melainkan juga mengabaikan pengorbanan orang tua dan kesempatan menuntaskan pendidikan.
Mengkhianati Perhatian dan Pengorbanan Orang Tua
Banyak mahasiswa yang sebenarnya menghadapi tantangan berat, baik di lingkungan kampus maupun keluarga. Orang tua dan kerabat terus memberikan motivasi agar mereka tetap kuat menuntut ilmu. Sayangnya, ada mahasiswa yang justru menyalahgunakan perhatian dan kepercayaan tersebut. Tanpa sepengetahuan orang tua, mereka nekat memakai uang kiriman bulanan yang seharusnya untuk membayar biaya registrasi, membeli peralatan kuliah, serta mencukupi kebutuhan sehari-hari demi judi online.
Saat uang saku habis, mahasiswa pencandu judi akan memutar otak untuk mendapatkan modal baru. Mereka membohongi orang tua dengan dalih membutuhkan biaya fotokopi tugas atau kegiatan penelitian. Jika orang tua belum sempat mengirimkan uang, mereka berutang kepada teman dengan alasan menunggak uang semester.
Tindakan ini membuktikan bahwa judi online tidak hanya menguras harta, tetapi juga mendorong seseorang untuk terus berbohong dan melarikan diri dari tanggung jawab. Kebohongan kecil yang terus dipelihara akan melahirkan kebohongan baru. Akibatnya, utang kian menumpuk dan hubungan kekeluargaan maupun pertemanan menjadi rusak.
Ketika keluarga mulai menaruh curiga dan mengikis rasa percaya, mahasiswa tersebut sering kali merasa bingung. Mereka lupa bahwa kepercayaan tidak menghilang tanpa sebab, melainkan hancur akibat kebohongan yang berulang. Memulihkan kepercayaan keluarga jauh lebih sulit daripada mencari ganti uang yang hilang. Permintaan maaf semata tidak akan cukup tanpa adanya perubahan sikap yang nyata.
Orang tua bekerja keras, bahkan tetap memeras keringat saat sakit atau melakoni pekerjaan berisiko tinggi, bukan karena bergelimang harta, melainkan ingin melihat anaknya sukses. Setiap rupiah yang dikirimkan menyimpan tetesan keringat, rasa lelah, dan harapan besar agar anak mereka menyelesaikan kuliah. Menggunakan uang pendidikan untuk perjudian sama saja dengan melecehkan seluruh perjuangan orang tua.
Dari Harta Pribadi hingga Warisan Lintas Generasi
Dampak buruk perjudian tidak berhenti ketika uang semesteran habis. Pecandu judi online selalu terdorong untuk kembali bertaruh. Mereka menjual atau menggadaikan barang-barang pribadi, seperti ponsel, laptop, hingga kendaraan. Setelah aset pribadi habis, mereka mulai mempertaruhkan harta dan warisan keluarga.
Padahal, warisan keluarga, seperti tanah, rumah, atau kebun, bukan sebatas aset bernilai ekonomis. Semua itu menyimpan nilai sejarah dan ikatan emosional dari perjuangan para pendahulu yang bekerja keras puluhan tahun. Saat warisan mendadak tergadai atau terjual demi melunasi utang judi, keluarga tidak hanya kehilangan harta materi, tetapi juga kehilangan jejak perjuangan lintas generasi.
Judi online kerap memberikan ilusi palsu bahwa kemenangan berikutnya dapat menutup seluruh kerugian masa lalu. Pemain terus menaikkan nilai taruhan demi mengejar uang yang hilang. Padahal, semakin lama bertaruh, semakin dalam pula mereka tenggelam dalam pusaran utang.
Langkah Nyata Menuju Perubahan
Kuliah adalah momentum berharga untuk menimba ilmu, membentuk karakter, serta menyiapkan masa depan. Keberhasilan sejati memerlukan proses panjang, kedisiplinan, dan kerja keras, bukan jalan pintas instan melalui perjudian.
Untuk memutus rantai masalah ini, perguruan tinggi perlu mengambil peran aktif dengan mengedukasi mahasiswa mengenai bahaya judi online, memberikan literasi pengelolaan keuangan, serta menyediakan layanan konseling.
Di sisi lain, teman-teman di lingkungan kampus juga harus saling merangkul dan tegas tidak meminjamkan uang kepada rekan yang terindikasi menggunakan dana tersebut untuk bertaruh. Membantu sesama berarti menuntun mereka keluar dari jerat kecanduan, bukan menutup-nutupi kesalahan.
Bagi siapa pun yang telah terjerumus, pintu perbaikan selalu terbuka jika berani mengambil langkah nyata. Langkah pertama adalah bersikap jujur dan mengakui kesalahan kepada diri sendiri serta keluarga tanpa berbelit-belit, lalu mencatat seluruh utang secara transparan untuk diselesaikan bertahap.
Langkah selanjutnya adalah memutus akses terhadap perjudian dengan menghapus aplikasi judi, memblokir situs taruhan, dan membatasi akses ke rekening atau dompet digital. Untuk sementara waktu, pengelolaan keuangan kuliah dapat dialihkan kepada orang tua atau pihak yang tepercaya.
Selain itu, keberanian untuk meminta bantuan kepada dosen pembimbing, konselor kampus, tokoh agama, atau tenaga profesional merupakan bentuk tanggung jawab demi membenahi masa depan. Kepercayaan keluarga memang tidak akan kembali dalam sekejap, tetapi dapat dibangun ulang melalui tindakan konsisten: berkata jujur, mengelola uang dengan bijak, menyelesaikan utang, dan fokus menuntaskan studi. Pada akhirnya, bukti perubahan nyata jauh lebih bernilai daripada sekadar janji-janji manis semata.













