Rumah Hancur Diterjang Gempa, Lansia Penderita Stroke 14 Tahun di Reok Bertahan di Gubuk Darurat

Rumah Hancur Diterjang Gempa, Lansia Penderita Stroke 14 Tahun di Reok Bertahan di Gubuk Darurat (PENA1NTT.COM)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di tengah upaya pemulihan pascagempa 7,7 magnitudo yang mengguncang Manggarai pada 15 Agustus 2026 lalu, kisah pilu datang dari Kampung Barangkolong, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.

Seorang lansia bernama Bonifasius Maku (62), harus bertahan hidup dengan kondisi memprihatinkan. Selama 14 tahun menderita stroke, ia hanya menggunakan tongkat dari bambu untuk beraktivitas. Kini, penderitaannya bertambah setelah rumahnya hancur akibat gempa.

Kisah Bapak Bony viral setelah diunggah akun TikTok @rutenginfo.official. Dalam video tersebut, putrinya *Theresia Maria Rosari’menceritakan kondisi sang ayah.

“Nama saya Theresia Maria Rosari. Bapak saya Bonifasius Maku usianya 62 tahun, sekarang sedang menderita stroke selama 14 tahun,” ujar Theresia dalam video tersebut.

Ia mengungkapkan, saat gempa terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 05.00 WITA, sang ayah yang pertama kali merasakannya. Meski dalam kondisi stroke, Bapak Bony berteriak membangunkan seluruh keluarga untuk keluar menyelamatkan diri.

“Trauma kami masih terasa sampai dalam, karena pada saat gempa itu kami semua masih tidur,” kata Theresia.

Pantauan http://PENA1NTT.COM dari video tersebut, rumah Bapak Bony yang terbuat dari batako mengalami kerusakan parah. Dinding retak dan jebol, atap terancam ambruk. Rumah tersebut sudah tidak layak huni. Keluarga kini terpaksa mengungsi dan berlindung di sebuah gubuk darurat berdinding bambu dengan lantai tanah.

Hanya Dapat Beras 1 Kg dan Telur 4 Butir

Kondisi kesehatan Bapak Bony semakin memprihatinkan. Untuk berjalan, ia harus dipapah dan berpegangan pada tongkat bambu yang dibuat sendiri.

“Kami sangat membutuhkan kursi roda ataupun tongkat yang layak. Selama ini memang bapak pakai tongkat dari bambu,” ungkap Theresia.

Ia juga menambahkan bahwa bantuan pascagempa baru mereka terima 4 hari setelah kejadian, itupun hanya berupa beras 1 kilogram, mie instan, dan telur 4 butir.

“Tapi itu pun munculnya berminggu-minggu berlalu di rumah ini. Berlindung di tempat ini tidak aman. Fasilitas kami memang rusak,” lanjutnya.

Konfirmasi Lurah Mata Air: Belum Bisa Pastikan Bantuan Lanjutan

http://PENA1NTT.COM pada Selasa malam (07/10/2026) melakukan konfirmasi langsung kepada Lurah Mata Air terkait keluhan warganya tersebut.

Dalam konfirmasi via WhatsApp pukul 21.54 WITA, Lurah Mata Air memberikan pernyataan resmi sebagai berikut:

“Mat malam, om ninonk. Nanti kalau ada bantuanx saya usahakan. Karena saya belum bisa pastikan kapan ada bantuanx lagi. Karena mekanisme saya di Kelurahan Mata Air semua Logistik masuk ke Kelurahan saya hadirkan semua RT baru di distribusikan. Mksh”*

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa penyaluran bantuan logistik masih menunggu mekanisme pengumpulan data dari masing-masing RT.

Saat redaksi http://PENA1NTT.COM menanyakan lebih lanjut, “Kesimpulannya kaka, berarti beliau yang ada dalam video tida ada dalam daftar penerima bantuan ka kaka…?”, Lurah Mata Air belum memberikan jawaban tegas apakah Bapak Bony masuk dalam daftar penerima atau tidak.

Redaksi juga telah meminta daftar penerima bantuan logistik di Kelurahan Mata Air demi asas transparansi publik. Hal ini berkaca dari kasus di wilayah Pota di mana ada nama penerima bantuan tapi diduga disalahgunakan oknum yang tidak punya hati.

“Saya hanya minta daftar penerima bantuan kae kalau memang tida bisa kae tinggal jawab saja tida bisa, kalau bisa mungkin bisa di kirim. Biar ada transparansi dalam pembagian bantuan paska gempa kamrin kae, tida lebi,” tulis http://PENA1NTT.COM kepada Lurah.

Hingga berita ini diterbitkan, daftar tersebut belum diberikan.

Janji Temui Langsung di RT 14

Setelah dikonfirmasi, Lurah Mata Air merespons dengan mengajak awak media untuk bertemu langsung di rumah Bapak Bony.

“Bisa besok kita ketemu langsung di rumahx Bonifasius maku (di video tadi) di RT 14,” tulis Lurah Mata Air pada Selasa (07/10) pukul 22.07 WITA.

Pihak keluarga berharap ada uluran tangan dari orang-orang baik dan perhatian serius dari pemerintah.

“Jadi harapan saya, semoga ada bantuan hunian yang layak karena kami selama ini berlindung di sini. Musibah sakit, musibah gempa, semua kami rasakan sekaligus,” kata Theresia sambil menahan tangis.

http://PENA1NTT.COM akan terus mengawal kasus ini hingga Bapak Bony mendapatkan kursi roda dan hunian yang layak.

 

Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *