Opini Oleh Valentino Setiadi (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Pendidikan sering disebut kunci kemajuan bangsa. Namun, kita lebih sering membicarakan gagasan besar, sedangkan masalah di ruang kelas kurang diperhatikan. Padahal, mutu pendidikan ditentukan oleh hal-hal yang terjadi setiap hari: cara guru mengajar, cara siswa belajar, dan cara sekolah membiasakan siswa berpikir.
Salah satu masalahnya adalah budaya belajar yang terlalu menekankan hafalan. Siswa dinilai dari seberapa banyak yang mereka ingat, bukan dari seberapa dalam mereka memahami dan bernalar. Akibatnya, banyak siswa pandai menjawab soal pilihan ganda, tetapi sulit menyampaikan pendapat secara runtut, baik secara lisan maupun tulisan.
Kemampuan berbahasa adalah contoh yang jelas. Siswa belajar bahasa Indonesia selama bertahun-tahun, tetapi belum tentu mampu menyusun kalimat yang jelas. Kalimat efektif, yaitu kalimat yang tepat, hemat, dan logis, seharusnya menjadi kebiasaan, bukan sekadar bahan ujian. Pikiran yang jernih tampak dalam tulisan yang jernih.
Guru memegang peran yang sangat penting. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga perlu mengajak siswa bertanya, berdiskusi, dan menulis. Sayangnya, tugas administrasi yang berat sering menyita waktu guru. Karena itu, pemerintah dan sekolah perlu menyederhanakan urusan administrasi agar guru dapat fokus mengajar dan mengembangkan kemampuannya.
Selain itu, kesenjangan mutu pendidikan antardaerah masih perlu mendapat perhatian serius. Sekolah di kota besar lebih mudah memperoleh buku, pelatihan, dan teknologi daripada sekolah di daerah terpencil. Pemerataan sarana, prasarana, dan mutu guru diperlukan agar setiap anak mendapat kesempatan belajar yang adil.
Perkembangan teknologi digital juga menuntut cara belajar yang baru. Informasi kini mudah didapat, tetapi tidak semuanya benar. Karena itu, siswa perlu belajar memilah informasi, membandingkan sumber, dan menyimpulkan secara kritis. Teknologi bermanfaat jika dipakai untuk memperdalam pemahaman, bukan untuk menggantikan proses berpikir.
Orang tua dan masyarakat juga berperan. Pendidikan tidak berhenti di gerbang sekolah. Kebiasaan membaca di rumah, percakapan yang sehat dalam keluarga, dan lingkungan yang menghargai perbedaan pendapat akan memperkuat pelajaran di kelas.
Jadi, memperbaiki pendidikan berarti membenahi hal-hal mendasar: mengubah hafalan menjadi penalaran, memberdayakan guru, meratakan kesempatan belajar, dan melibatkan keluarga. Langkah-langkah ini tampak sederhana, tetapi dampaknya panjang. Bangsa yang cerdas tidak lahir dari slogan, melainkan dari ruang kelas yang hidup dan siswa yang terbiasa berpikir kritis.













