Opini  

Literasi: Fondasi yang Terlupakan dalam Pendidikan Kita

Opini oleh Marianus Frederic Nazarani (Mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Pendidikan sering dipandang sebatas urusan nilai, ijazah, dan peringkat. Orang tua bangga ketika anaknya juara kelas, sekolah berlomba mengejar akreditasi, dan pemerintah menunjuk angka kelulusan sebagai bukti keberhasilan. Padahal, mutu pendidikan tidak diukur dari angka di atas kertas, tetapi dari kemampuan peserta didik berpikir kritis dan menyampaikan gagasan dengan jelas. Di sinilah literasi memegang peran penting, tetapi masih kerap diabaikan.

Literasi kerap disempitkan menjadi kemampuan membaca dan menulis. Padahal, cakupannya jauh lebih luas. Literasi mencakup kemampuan memahami isi bacaan, menafsirkan data, menilai sumber informasi, dan mengungkapkan pikiran secara runtut, baik lisan maupun tulisan. Seseorang yang melek huruf belum tentu melek literasi. Ia bisa mengeja kalimat, tetapi gagal membedakan fakta dari opini, atau berita benar dari berita bohong.

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) berulang kali menempatkan Indonesia pada peringkat bawah dalam kemampuan membaca. Kondisi ini mengkhawatirkan. Siswa mungkin dapat membaca teks, tetapi belum tentu memahami makna, menilai kebenaran informasi, atau menarik kesimpulan yang logis. Di tengah banjir informasi dan berita bohong, kelemahan ini berbahaya. Pembaca yang tidak kritis mudah termakan hoaks, mudah terprovokasi, dan mudah dimanipulasi.

Salah satu penyebabnya adalah pembelajaran yang terlalu berfokus pada hafalan. Siswa dibiasakan mengingat, bukan menalar. Akibatnya, mereka kesulitan ketika dihadapkan pada soal yang menuntut analisis. Ujian yang menekankan pilihan ganda pun kurang melatih siswa menyusun argumen. Padahal, kemampuan menulis uraian dan menjelaskan alasan merupakan latihan berpikir yang sangat berharga.

Selain itu, kebiasaan membaca belum tumbuh kuat, baik di sekolah maupun di rumah. Perpustakaan sekolah sering sepi, sedangkan gawai lebih banyak digunakan untuk hiburan daripada untuk belajar. Membaca pun lebih sering dianggap tugas yang membosankan ketimbang kegiatan yang menyenangkan. Waktu luang anak lebih banyak tersita oleh media sosial dan video pendek yang menuntut perhatian singkat, sehingga daya konsentrasi untuk membaca teks panjang kian menurun.

Faktor lain adalah kesenjangan akses. Di kota besar, siswa mudah menemukan buku dan sumber belajar daring. Di daerah terpencil, banyak sekolah hanya memiliki koleksi buku seadanya, sebagian sudah usang. Ketimpangan ini membuat kemampuan literasi antarwilayah timpang pula. Bagaimana kita menuntut siswa gemar membaca jika bahan bacaan saja sulit dijangkau? Di sisi lain, tidak semua guru memperoleh pelatihan yang memadai untuk mengajarkan literasi secara menarik dan bermakna.

Dampak lemahnya literasi tidak berhenti di ruang kelas. Lulusan yang kurang terlatih membaca dan menulis akan kesulitan memahami kontrak kerja, menyusun laporan, atau menyampaikan pendapat secara santun dan runtut. Dunia kerja saat ini membutuhkan orang yang mampu memecahkan masalah dan berkomunikasi dengan baik, bukan sekadar menghafal. Dalam kehidupan bermasyarakat, rendahnya literasi turut menyuburkan perdebatan tanpa dasar dan penyebaran informasi keliru. Dengan kata lain, literasi menentukan kualitas demokrasi dan daya saing bangsa.

Meski demikian, persoalan ini bukan tanpa jalan keluar. Pertama, guru perlu mengubah pola mengajar dari ceramah satu arah menjadi diskusi yang melatih siswa bertanya dan berargumen. Setiap mata pelajaran, bukan hanya Bahasa Indonesia, dapat dijadikan ruang melatih membaca dan menulis. Guru Matematika dapat meminta siswa menjelaskan cara menyelesaikan soal dengan kalimat sendiri, sedangkan guru sains dapat meminta siswa menulis laporan percobaan.

Kedua, sekolah harus menyediakan bahan bacaan yang menarik dan sesuai dengan minat siswa, mulai dari novel, majalah, hingga buku sains populer. Program membaca lima belas menit sebelum pelajaran dimulai, pojok baca di setiap kelas, dan klub menulis dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Sekolah juga dapat menggandeng penulis atau jurnalis setempat untuk berbagi pengalaman, sehingga siswa melihat bahwa membaca dan menulis adalah keterampilan yang hidup dan bermanfaat.

Ketiga, orang tua perlu memberi contoh, misalnya dengan membaca bersama anak setiap hari. Anak lebih mudah meniru daripada diperintah. Rumah yang memiliki rak buku, meskipun kecil, dan orang tua yang gemar membaca akan menumbuhkan kebiasaan yang sama pada anak. Mendongeng sebelum tidur, mengajak anak berdiskusi tentang isi buku, atau sekadar mengunjungi perpustakaan umum pada akhir pekan merupakan kebiasaan sederhana yang terbukti menumbuhkan minat baca.

Keempat, pemerintah harus memastikan pemerataan buku dan akses perpustakaan, terutama di daerah terpencil, serta meningkatkan kompetensi guru dalam mengajarkan literasi. Anggaran pendidikan yang besar sebaiknya diarahkan pula untuk pengadaan buku bermutu dan pelatihan guru, bukan hanya untuk pembangunan fisik. Pemerintah daerah dapat pula mendorong perpustakaan keliling dan taman bacaan masyarakat agar buku hadir di tengah warga.

Kelima, teknologi dapat dimanfaatkan secara positif. Perpustakaan digital dan aplikasi baca gratis mampu menjangkau siswa yang jauh dari toko buku, asalkan disertai pendampingan agar gawai tidak sekadar menjadi sarana hiburan. Siswa juga perlu dibekali literasi digital, yaitu kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan tidak sembarangan membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya.

Tentu, perubahan ini tidak dapat terjadi dalam semalam. Budaya literasi tumbuh melalui kebiasaan yang dijaga secara konsisten selama bertahun-tahun. Karena itu, dibutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kerja sama berbagai pihak. Program literasi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial yang ramai saat peluncuran, tetapi sepi saat pelaksanaan. Evaluasi yang jujur dan berkelanjutan diperlukan agar setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan siswa.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan bekal untuk memahami dunia dan mengambil keputusan yang bijak. Jika fondasi ini rapuh, sebaik apa pun kurikulum yang dirancang, hasilnya tidak akan maksimal. Sudah saatnya semua pihak, yakni guru, sekolah, keluarga, dan pemerintah, menjadikan literasi sebagai prioritas, bukan sekadar slogan. Dari kebiasaan membaca yang kuat, lahirlah generasi yang cerdas, kritis, dan siap menghadapi masa depan.

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *