Opini  

Redefinisi Makna Kegagalan dalam Sistem Pendidikan Indonesia

Opini oleh Yasinta Jianuari Jedaut (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Sadar atau tidak, ruang-ruang kelas di negeri ini kerap bekerja menyerupai pabrik pencetak keseragaman.

Sejak usia amat belia, anak-anak kita diperkenalkan pada satu doktrin implisit yang tertanam kuat di alam bawah sadar mereka: salah itu mahal harganya.

Di bangku Sekolah Dasar, angka merah di atas kertas ujian atau jawaban yang tak selaras dengan kunci jawaban resmi kerap diperlakukan sebagai dosa akademik.

Kesalahan diperlakukan bagai cela yang harus dihindari, bukan sebagai tangga menuju pemahaman yang lebih dalam. Tanpa disadari, sistem evaluasi semacam ini membentuk kondisi psikologis anak.

Mereka secara bertahap belajar bahwa pilihan paling aman untuk bertahan hidup di sekolah adalah diam, patuh, dan mengulang pola yang telah ditentukan, alih-alih mengeksplorasi rasa ingin tahu atau mengajukan pertanyaan yang memicu diskusi.

Dampak dari pengkondisian ini bersifat jangka panjang dan masif. Ketika lulus dan memasuki dunia nyata, kita mendapati generasi baru yang andal menjalankan instruksi baku, namun mendadak gagap saat dihadapkan pada ketidakpastian.

Kita memproduksi pencetak skor ujian yang baik, tetapi miskin pemikir kritis; para pemegang ijazah yang mahir menuruti aturan atasan, namun lumpuh ketika diminta menciptakan solusi atas persoalan kompleks yang tidak memiliki “kunci jawaban” di buku teks.

Padahal, sejarah mencatat bahwa setiap inovasi besar dan lompatan peradaban lahir dari eksperimen yang berulang kali menemui kegagalan.

Ketika pendidikan mengubah kegagalan menjadi sesuatu yang menakutkan, kita sebenarnya sedang meredam potensi kreatif dan daya kritis bangsa kita sendiri.

Pendidikan yang ideal seharusnya tidak hanya diukur dari sejauh mana peserta didik mampu menghafal dan mencocokkan jawaban saat ujian nasional atau tes formal.

Lebih jauh dari itu, institusi pendidikan bertugas membina keberanian berpikir kritis, memfasilitasi kebebasan menyampaikan gagasan yang menentang arus, serta melatih daya tangkap dalam merumuskan solusi atas krisis riil di masyarakat.

Sudah saatnya kita meredefinisi cara pandang terhadap “kesalahan” di ruang kelas. Menghargai proses berfikir dan keberanian berpendapat jauh lebih penting daripada sekadar menuntut kesempurnaan di atas lembar jawaban.

Jika kita tetap memelihara kultur pendidikan berbasis ketakutan, kita harus bersiap menjadi bangsa penonton yang hanya mampu mengonsumsi inovasi orang lain—sebab anak-anak kita telah dilatih untuk takut mencoba.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *