Manggarai-Pena1-Ntt.com-
Pasca-bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ancaman krisis sanitasi dan kelumpuhan akses air bersih membayangi kehidupan warga terdampak akibat rusaknya jaringan infrastruktur publik.
Di tengah kondisi krisis tersebut, aksi tanggap darurat PT Pertamina (Persero) yang hadir membangun titik-titik sumur bor gratis di Kecamatan Reo diakui menjadi angin segar dan patut mendapat apresiasi tinggi sebagai penyelamat akses air bersih warga.
Apresiasi atas langkah cepat BUMN tersebut disampaikan oleh Sekretaris DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) NTT sekaligus Ketua Fraksi PSI DPRD NTT, Junaidin Mahasan. Menurut Anggota DPRD Provinsi NTT dari Daerah Pemilihan (Dapil) NTT 4 / Manggarai Raya (Kab. Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur) ini, respons Pertamina sangat tepat dan berdampak langsung bagi warga.
”Sebagai anggota DPRD NTT dari Dapil Manggarai Raya, saya mengapresiasi langkah Pertamina yang hadir membantu kebutuhan air bersih masyarakat Reo pascagempa. Dalam situasi bencana, air bersih bukan kebutuhan tambahan, tetapi kebutuhan dasar yang harus segera dipenuhi,” ujar Junaidin Mahasan.
Mendorong Evaluasi dan Kajian Geologi Pasca-Gempa
Namun, agar bantuan tersebut aman dalam jangka panjang, Junaidin mendorong Pertamina bersama instansi teknis untuk melakukan evaluasi dan pemetaan geokonservasi. Kecamatan Reo dikenal sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas pemanfaatan air tanah paling masif di Kabupaten Manggarai. Penambahan titik pengeboran baru pasca-guncangan gempa M 7,7—tanpa disertai pemetaan yang presisi dikhawatirkan dapat memicu risiko geologi seperti penurunan muka tanah (subsidence) hingga potensi amblesnya rongga bawah tanah.
”Bantuan yang baik harus dipastikan aman dan berkelanjutan. Karena itu, saya mendorong agar pembangunan sumur bor bantuan di Reo tidak hanya berdasarkan kebutuhan hari ini, tetapi juga berdasarkan kajian geologi dan hidrogeologi yang memadai. Kita perlu mengetahui di mana sumber air tanah yang aman, berapa kapasitas akuifernya, bagaimana kondisi tanah pascagempa, apakah ada potensi likuefaksi, dan bagaimana menjaga agar pengambilan air tanah tidak berlebihan,” tegas Junaidin.
Desak Kolaborasi Lintas Sektor
Guna memastikan standar keselamatan lingkungan, Fraksi PSI DPRD NTT mendorong Pertamina untuk duduk bersama dengan Pemkab Manggarai, BMKG, Badan Geologi, dan akademisi guna memetakan koordinat pengeboran berbasis analisis geolistrik dan penggunaan teknologi konstruksi sumur yang adaptif bencana.
”Kalau memang sumur bor menjadi solusi, mari tentukan titiknya berdasarkan data dan ilmu pengetahuan, bukan sekadar berdasarkan perkiraan. Reo membutuhkan air bersih hari ini, tetapi Reo juga membutuhkan jaminan keselamatan lingkungan untuk puluhan tahun ke depan,” pungkas Junaidin.
Catatan Redaksi: Terkait rincian teknis penentuan titik sumur bor serta rencana penggunaan analisis geolistrik pada sumur bantuan di wilayah Reo, awak media telah berupaya mengonfirmasi Fuel Terminal (FT) Manager Reo, Mumu Najmudin, melalui pesan tertulis via WhatsApp. Namun, hingga rilis ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan resmi.













