(Foto: Fuel Terminal Reo / Akun Facebook Ettok Little Marley)
Manggarai-Pena1-Ntt.com— Pasca-bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi prioritas utama. Di tengah maraknya pemanfaatan dan penyedotan air bor secara mandiri oleh warga yang menjadikan Kecamatan Reok sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas pengambilan air tanah paling masif di Kabupaten Manggarai, aksi tanggap darurat dari PT Pertamina (Persero) turut hadir guna mempercepat pemulihan sanitasi masyarakat terdampak.
Langkah PT Pertamina (Persero) membangun titik-titik sumur bantuan gratis di wilayah Reo mendapat apresiasi luas dari warga lokal karena berhasil menyediakan akses air bersih secara cepat di tengah rusaknya jaringan pipa air warga.
Namun, tingginya pemanfaatan air bor warga yang sudah berlangsung lama, ditambah penambahan titik pengeboran baru pasca-gempa besar, memicu perhatian khusus dari para ahli geosains. Penambahan titik bor tanpa pemetaan geokonservasi terpadu dikhawatirkan dapat memicu risiko geologi jangka panjang, seperti penurunan muka tanah (subsidence) akibat pengosongan rongga bawah tanah.
Urgensi Analisis Geosains dalam Pembangunan Sumur Bantuan
Para pakar geologi dari Badan Geologi Kementerian ESDM maupun Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menggarisbawahi bahwa kawasan Reo berada dalam jalur geologi aktif yang kompleks.
Pasca-guncangan gempa M 7,7, kondisi lapisan batuan dan cadangan air di bawah tanah berada dalam fase sangat sensitif dan rentan mengalami pergeseran.
Pengambilan air bor yang makin padat tanpa pemetaan presisi riskan merusak struktur aliran air alami di bawah tanah. Oleh karena itu, penentuan koordinat titik pengeboran bantuan baru disarankan wajib mengintegrasikan analisis geolistrik untuk:
1. Memetakan keberadaan zona sesar atau patahan aktif di sekitar tapak sumur.
2. Mengidentifikasi tingkat kerentanan tanah terhadap potensi likuifaksi (pencairan tanah).
3. Menentukan kedalaman akuifer yang aman agar pengambilan air bor tidak merusak kestabilan tanah di kawasan padat pemukiman
Selain itu, pemanfaatan pipa selubung (casing) yang fleksibel dan adaptif terhadap pergeseran tanah minor sangat direkomendasikan agar konstruksi sumur bantuan tersebut tahan terhadap guncangan gempa susulan.
Edukasi Penggunaan Air Bor Bagi Warga Reo
Demi meminimalkan risiko geologi dan menjaga kestabilan tanah di kawasan yang padat dengan aktivitas pengeboran ini, masyarakat penerima manfaat diimbau untuk memperhatikan tata cara pemanfaatan air bor:
– Bijak Memompa Air Bor (Hindari Over-pumping):
Hindari menyalakan mesin pompa secara terus-menerus tanpa jeda. Pengambilan air bor secara berlebihan dalam waktu singkat dapat membuat rongga tanah kehilangan tekanan dan memicu tanah ambles.
– Jarak Sanitasi yang Aman: Mengingat padatnya pemukiman di Reo, pastikan jarak minimal 10–12 meter antara lokasi air bor dengan fasilitas sanitasi (septic tank) untuk mencegah pencemaran air pasca-gempa.
– Menjaga Area Resapan: Merawat lingkungan sekitar tapak sumur agar air hujan dapat meresap kembali untuk mengisi ulang cadangan air bor di bawah tanah.
Melalui sinergi antara aksi tanggap darurat humanis dari Pertamina dan pendekatan sains geologi yang tepat, pemulihan kawasan Reo pasca-gempa diharapkan tidak hanya menyelesaikan krisis air bersih saat ini, tetapi juga menjaga kestabilan tanah bagi keselamatan warga di masa depan.
Konfirmasi Media
Mengenai rincian teknis penentuan titik sumur bor serta rencana penerapan analisis geolistrik dalam pembangunan bantuan air bersih di wilayah Reo, awak media telah berupaya mengonfirmasi Fuel Terminal (FT) Manager Reo, Mumu Najmudin, melalui pesan tertulis via WhatsApp. Namun, hingga berita ini diturunkan, Mumu Najmudin belum memberikan respons atau keterangan resmi terkait konfirmasi tersebut.













