Buka Tahun Ajaran Baru, Paroki Karot Serukan Kolaborasi dan Pembenahan Ekosistem Pendidikan

Misa Pembukaan Tahun Ajaran Baru tingkat Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Keuskupan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT.

MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Lembaga-lembaga pendidikan di wilayah Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Keuskupan Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menyepakati komitmen penguatan kolaborasi antarsekolah.

Inisiatif bersama ini hadir sebagai langkah strategis untuk merespons krisis panggilan serta ancaman ego sektoral yang kian merambah dunia pendidikan saat ini.

Soroti Krisis Panggilan dan Sikap Formalisme

Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Pater Bonivantura Y. Lelo, OFM, menggarisbawahi pentingnya introspeksi mendalam atas hakikat profesi pendidik.

Ia menyoroti fenomena pergeseran nilai ketika orientasi imbalan materi kerap mendominasi ketimbang pelayanan tulus, sehingga mengikis ruh pengabdian seorang guru.

“Perayaan hari ini kiranya dimaknai juga sebagai sebuah momentum introspeksi. Fundasi introspeksinya adalah tentang tugas dan profesi kita sebagai sebuah panggilan. Pada zaman ini, jamak terjadi, di mana kita lebih memikirkan upah yang tinggi dan menguntungkan daripada memberi diri untuk sebuah pelayanan yang tulus. Akhirnya, kita jatuh pada formalisme, larut dalam rutinitas, dan mengabaikan tanggung jawab kita yang sebenarnya,” tegas Imam yang akrab disapa Pater Bovan ini saat memimpin perayaan ekaristi mengawali Tahun Ajaran Baru 2026/2027 pada Sabtu (08/08/2026).

Pater Bovan menekankan krisis ini sebagai ancaman serius yang tidak boleh dianggap sepele.

Menurutnya, tanggung jawab untuk menjalankan panggilan pengabdian berada di pundak setiap insan kependidikan yang dipercayakan menuntun masa depan generasi muda.

“Peran mulia tersebut tidak hanya milik para rohaniwan, suster, atau biarawan, akan tetapi melekat pada seluruh pendidik,” tambahnya.

Pastor Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Pater Bonivantura Y. Lelo, OFM

Mengikis Ego Sektoral Melalui Keteladanan Guru Sejati

Lebih lanjut, Pater Bovan menyampaikan bahwa tema perayaan yang menempatkan Yesus sebagai Guru Sejati mengandung ajakan mendasar untuk mendengarkan suara, belajar dan berjalan bersama Kristus.

Kesepakatan untuk mengandalkan satu Guru Sejati dinilainya secara otomatis menuntut setiap lembaga pendidikan mengesampingkan keangkuhan kelompok dan bersatu dalam satu visi pelayanan.

Ia mengimbau seluruh pihak untuk segera keluar dari penyanderaan ego sektoral yang selama ini membuat tiap sekolah berjalan sendiri-sendiri.

Selain itu, Pater Bovan mengajak para pendidik untuk mengevaluasi serta menjaga kesetiaan iman, dengan keyakinan bahwa penyertaan Tuhan selalu hadir di tengah gelombang tantangan hidup sebagaimana Ia menyertai Petrus di tengah badai.

“Melalui semangat perjalanan bersama, lembaga-lembaga pendidikan diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang saling belajar, saling menolong, dan menopang demi kemajuan pendidikan kita,” pungkasnya.

Komitmen Bersama Pembangunan Manusia dan Gereja

Senada dengan seruan pastoral tersebut, perwakilan panitia, Leo Cardis, menyampaikan apresiasi atas terwujudnya sinergi antarlembaga pendidikan pada pembukaan tahun ajaran baru ini.

Peristiwa ini dinilainya sebagai titik awal yang penting untuk menumbuhkan komitmen perjalanan bersama dalam mengawali tugas serta panggilan sebagai pendidik dan pelayan.

Sinergi berkelanjutan ini diharapkan memberi kontribusi nyata bagi pembangunan manusia dan Gereja di waktu mendatang.

Kebersamaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan resepsi, yang menjadi ruang ekspresi bagi para siswa untuk menampilkan bakat seni mereka melalui lagu dan tarian sebagai cerminan dari dedikasi para guru yang disalurkan kepada peserta didik.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *