Opini  

Media Sosial dan Pergeseran Wajah Sosial Manggarai

Opini oleh Aurelia Saputri (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Di Manggarai, perubahan sosial tidak lagi hanya terjadi di compang, mbaru gendang, atau ruang-ruang adat. Kini, sebagian besar perubahan itu justru berlangsung di layar ponsel di Facebook, grup WhatsApp, dan platform digital lainnya.

Sebagai orang Manggarai yang tumbuh dengan budaya sambut, dodo, dan komunikasi tatap muka, saya merasakan betul bagaimana media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi, berpikir, dan mengambil keputusan. Perubahan ini membawa manfaat, tetapi juga tantangan yang tidak kecil.

Ruang Demokrasi Baru yang Belum Matang

Salah satu penelitian penting datang dari Ferdinandus Jehalut (UGM, 2023), yang meneliti budaya demokrasi masyarakat Manggarai di grup Facebook “Manggarai Bebas Berpendapat”.

Ia menemukan bahwa media sosial memang membuka ruang baru bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat, tetapi ruang itu belum sepenuhnya sehat. Jehalut menulis bahwa diskusi di ruang digital Manggarai “sering diwarnai konflik, polarisasi, dan minimnya etika berdialog.”

Saya melihat sendiri bagaimana perdebatan politik lokal di Facebook bisa berubah menjadi saling serang yang tidak produktif.

Isu adat, tanah, atau politik sering dibahas tanpa verifikasi, dan hoaks mudah menyebar. Media sosial mempercepat informasi, tetapi tidak selalu mempercepat pemahaman.

Ekonomi Digital: Peluang Besar, Risiko Besar

Di sisi lain, media sosial membuka peluang ekonomi yang belum pernah ada sebelumnya. Banyak anak muda Manggarai mempromosikan kopi lokal, tenun, madu hutan, dan usaha kecil lainnya melalui Facebook.

Ini adalah perkembangan positif. Namun, penelitian Bonefasius Berdi (2024) menunjukkan bahwa meskipun Manggarai mulai beradaptasi dengan ekonomi digital, kesiapan masyarakat menghadapi ancaman digital masih lemah.

Ia menulis bahwa “Kabupaten Manggarai termasuk daerah yang beradaptasi dalam mendigitalisasi perekonomian, tetapi belum sepenuhnya siap mengantisipasi dampak dan ancaman ekonomi digital.”

Saya melihat ketimpangan itu di lapangan: sebagian masyarakat sudah sangat aktif berjualan online, sementara sebagian lainnya bahkan belum memiliki akses internet stabil. Ketimpangan digital ini bisa memperlebar jurang sosial.

Perubahan Pola Komunikasi: Dari Sambut ke Status Facebook

Penelitian lain di Manggarai Timur (2020) menunjukkan betapa kuatnya peran komunikasi tradisional dalam menjaga budaya lokal.

Dalam penelitian itu, komunikasi adat seperti upacara Penti menjadi media penting untuk menyampaikan pesan sosial dan budaya.

Peneliti mencatat bahwa “komunikasi tradisional masih menjadi sarana utama dalam menjaga nilai budaya dan solidaritas masyarakat.”

Namun kini, sebagian besar komunikasi masyarakat—terutama generasi muda—berpindah ke media sosial. Informasi tentang pesta adat, duka cita, atau kegiatan gereja sering kali lebih cepat muncul di Facebook daripada lewat jalur adat.

Perubahan ini tidak salah, tetapi perlu diwaspadai. Jangan sampai media sosial mengikis nilai-nilai komunikasi Manggarai yang penuh hormat, empati, dan kedekatan emosional.

Dampak Sosial: Antara Solidaritas dan Penyimpangan

Media sosial memang memperkuat solidaritas. Ketika ada warga sakit atau mengalami musibah, informasi cepat menyebar dan bantuan pun mengalir. Ini adalah sisi terbaik dari digitalisasi.

Namun, ada juga sisi gelapnya. Beberapa analisis sosial menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di Manggarai berkontribusi pada meningkatnya konflik keluarga, perselingkuhan, perundungan, dan gaya hidup konsumtif.

Masyarakat semakin rentan terhadap sindrom FOMO (fear of missing out), takut ketinggalan tren yang mendorong perilaku konsumtif dan pencitraan berlebihan.

Saya sendiri melihat bagaimana unggahan di Facebook bisa memicu kecemburuan sosial, salah paham, bahkan pertengkaran antarwarga.

Saatnya Manggarai Menentukan Arah

Media sosial bukan musuh. Ia hanya alat. Yang menentukan baik atau buruknya adalah bagaimana kita menggunakannya. Karena itu, menurut saya, Manggarai membutuhkan:

  • Gerakan literasi digital di sekolah, gereja, dan komunitas OMK
  • Pendidikan etika berdiskusi di ruang digital
  • Pelatihan UMKM digital agar masyarakat bisa memanfaatkan peluang ekonomi
  • Penguatan nilai budaya Manggarai agar identitas kita tidak larut dalam arus digital
  • Pemerataan akses internet agar tidak ada yang tertinggal

Kita tidak bisa menolak perubahan, tetapi kita bisa mengarahkannya. Media sosial telah mengubah wajah sosial Manggarai, baik dan buruknya.

Kini tinggal kita memilih, apakah kita membiarkan perubahan ini menggerus nilai-nilai kita, atau kita mengarahkan perubahan ini agar menjadi kekuatan yang memperkuat komunitas.

Saya percaya Manggarai mampu. Kita hanya perlu lebih bijak, lebih kritis, dan lebih sadar bahwa apa yang kita tulis di layar bisa berdampak besar pada kehidupan nyata.

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *