Opini oleh Florentina Aldiniman (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Banyak orang masih berpikir bahwa peran anak muda di dalam gereja hanya sebatas penerus atau pewaris.
Artinya, tugas kita dianggap hanya menjaga apa yang sudah ada, melanjutkan apa yang sudah dilakukan para pendahulu, dan memastikan nilai-nilai iman tetap terjaga agar tidak hilang di masa depan.
Memang benar, kita adalah pewaris iman yang berharga itu. Namun, berhenti di situ saja tentu belum cukup; bahkan itu adalah pemikiran yang terlalu sempit dan meremehkan potensi besar yang kita miliki.
Menurut pandangan saya sebagai anak muda, definisi kita jauh lebih besar dari sekadar pewaris. Kita harus menyadari bahwa jika pewaris itu hanya bertugas menjaga, maka seorang pembangun sejati akan bergerak untuk menciptakan dan memperluas.
Oleh karena itu, kita bukan hanya orang yang menerima warisan, melainkan kita adalah pembangun gereja itu sendiri.
Kalau kita hanya disebut pewaris, maknanya terasa pasif. Seolah tugas kita hanya duduk diam, menjaga warisan supaya tidak rusak atau hilang.
Padahal, gereja itu bukan bangunan mati, bukan sekadar tradisi, dan bukan museum sejarah. Gereja itu tubuh Kristus yang hidup, yang harus terus bertumbuh, bergerak, dan menjawab tantangan zaman.
Sebagai pembangun, kita tidak hanya menerima apa yang ada, tetapi juga harus berani menambahkan, memperindah, dan memperluasnya.
Pendahulu kita sudah meletakkan pondasi yang kokoh. Sekarang, tugas kita bukan lagi duduk santai di atas pondasi itu, melainkan membangun gedung yang lebih megah, lebih kokoh, dan lebih mampu menjangkau banyak orang.
Kita dituntut membawa ide baru, cara baru, serta semangat baru, agar pesan iman yang sama bisa dipahami dan dirasakan oleh generasi sekarang dengan cara yang relevan.
Perubahan ini penting karena jika pewaris cenderung memegang erat masa lalu, seorang pembangun justru melangkah untuk mengubah masa depan.
Apalagi saat ini dunia berubah sangat cepat. Cara orang berkomunikasi, cara orang berpikir, dan tantangan hidup zaman sekarang sangat berbeda dengan masa lalu.
Kalau anak muda hanya berperan sebagai pewaris yang kaku mengikuti cara lama, gereja akan tertinggal, menjadi kaku, dan perlahan ditinggalkan oleh dunia.
Di sinilah letak peran krusial kita sebagai pembangun. Kita adalah pihak yang paling paham bagaimana cara berbicara dengan teman-teman sebaya; kita yang mengerti bahasa zaman, teknologi, dan masalah yang sedang dihadapi anak muda sekarang.
Kita hadir bukan hanya untuk melestarikan iman, melainkan membawa iman itu masuk ke dalam kehidupan nyata—ke dalam media sosial, lingkungan sekolah, dunia kerja, hingga ke tengah masyarakat.
Kita membangun jembatan agar pesan kasih Tuhan tetap sampai ke hati generasi ini, yang semakin hari tantangannya semakin sulit disentuh. Itulah tugas nyata seorang pembangun, bukan sekadar penjaga warisan.
Perbedaan mendasar lainnya adalah bahwa pewaris sering kali bertindak sebagai penerima, sementara pembangun adalah seorang pelaku.
Menjadi pewaris berarti kita menikmati hasil kerja keras orang lain, tetapi menjadi pembangun berarti kita juga harus meninggalkan jejak serta hasil kerja keras kita bagi generasi setelah kita.
Kita memang sering dibilang, “Masih muda, belum paham, belum bisa apa-apa.” Padahal, Alkitab sendiri banyak mencatat pemimpin-pemimpin hebat yang masih muda, yang dipakai Tuhan untuk membangun umat-Nya.
Tuhan tidak menunggu kita tua dulu untuk bisa berkarya. Justru semangat, kreativitas, keberanian, dan tenaga muda kita inilah yang menjadi bahan baku utama untuk pembangunan gereja masa kini.
Kita semua bisa mengambil peran menjadi pemimpin, pelayan, pengajar, pelopor pelayanan, maupun pembawa damai.
Setiap pelayanan kecil yang kita lakukan dan setiap hati yang kita sentuh, pada hakikatnya adalah batu bata yang sedang kita tumpuk untuk membangun gereja yang jauh lebih kuat.













