Opini oleh Maria Rosalinda (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kasih tanpa penghakiman adalah inti dari ajaran Kristiani. Dalam Alkitab, Yesus berulang kali menunjukkan bahwa kasih mendahului penilaian.
Ia tidak menjauh dari mereka yang di anggap “bermasalah” oleh masyarakat orang sakit, kerasukan, tersisih, bahkan yang dicap berdosa.
Sosok Yesus Kristus menghadirkan teladan bahwa kasih sejati tidak menunggu seseorang menjadi “baik-baik saja” terlebih dahulu.
Dalam konteks masa kini, gereja sering berhadapan dengan realitas kesehatan mental yang semakin kompleks. Depresi, kecemasan, trauma, gangguan bipolar, hingga skizofrenia bukanlahtanda kurang iman.
Namun sayangnya, masih ada kecenderungan di sebagian komunitas untuk mereduksi persoalan mental sebagai kelemahan rohani atau kurang doa.
Sikap seperti ini meski mungkin tidak disengaja dapat melukai dan menjauhkan mereka yang justru paling membutuhkan pelukan komunitas.
Kasih tanpa penghakiman berarti gereja berani menjadi ruang aman. Ruang di mana seseorang boleh berkata, “Saya tidak baik-baik saja,” tanpa takut dicap lemah atau kurang percaya.
Gereja di panggil bukan untuk menjadi ruang sidang, melainkan ruang pemulihan. Ketika seseorang mentalnya kurang stabil, yang ia butuhkan pertama-tama bukan nasihat panjang atau teguran rohani, tetapi empati, pendengaran yang tulus, dan penerimaan.
Peran gereja juga bukan menggantikan tenaga profesional, melainkan berjalan berdampingan. Mengarahkan jemaat kepada psikolog atau psikiater bukan berarti kurang rohani; justru itu bentuk tanggung jawab.
Kasih yang dewasa mengakui bahwa Tuhan juga bekerja melalui ilmu pengetahuan dan profesional kesehatan. Gereja dapat menjadi jembatan menyediakan dukungan doa, komunitas pendamping, dan edukasi tentang kesehatan mental agar stigma perlahan hilang.
Lebih jauh, merangkul mereka yang mentalnya kurang stabil adalah cerminan Injil itu sendiri. Jika gereja hanya nyaman dengan mereka yang terlihat “normal” dan “rapi”, maka gereja kehilangan denyut belas kasihnya.
Kasih tanpa penghakiman bukan berarti membenarkan semua perilaku, tetapi membedakan antara menerima pribadi dan menolongnya bertumbuh.
Pada akhirnya, gereja yang merangkul tanpa menghakimi adalah gereja yang menghadirkan wajah Kristus di dunia yang penuh tekanan ini.
Di tengah masyarakat yang cepat memberi label, gereja dipanggil untuk lambat menghakimi dan cepat mengasihi. Karena di sanalah orang yang rapuh menemukan harapan bukan sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai saudara yang di kasihi tanpa syarat.
Lebih dari itu, gereja perlu memulai lebih terbuka dan membahas kesehatan mental secara sederhana dan apa adanya. Tidak semua pergumulan bisa diselesaikan hanya dengan nasihat rohani singkat.
Ada kalanya seseorang hanya butuh ditemani, didengarkan, dan yakinkan bahwa ia tidak sendirian. Sikap seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar bagi mereka yang sedang berjuang.
Gereja juga bisa memulai dengan langkah-langkah sederhana, seperti mengurangi sigma dalam percakapan sehari-hari. Hindari memberi label, hindari membandingkan iman seseorang dengan kondisinya, dan belajar memahami bahwa setiap orang memiliki pergumulan yng berbeda.
Dengan begitu, gereja benar-benar menjadi tempat yang nyaman dan rumah untuk bertumbuh.
Pada akhirya, merangkul mereka yang mentalnya kurang stabil bukanlah tugas tambah, melainkan bagian dari panggilan gereja itu sendiri.
Ketiga gereja hadir dengan kasih yang tulus dan tanpa penghakiman, di situlah banyak orang menemukan kembali harapan kekuatan untuk melanjutkan hidupnya













