Opini oleh Ernestus E. Gego (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Korupsi di Indonesia telah bertransformasi menjadi masalah sistemik yang terjadi di kalangan remaja bahkan terpengaruh terhadap perkembangan bangsa dan negara.
Korupsi menjadi masalah besar bagi perkembangan bangsa dan negara dikarenakan tindakan tersebut menghambat pembangunan, merusak tantagan sosial, melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, serta menghambat terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial.
Mirisnya, masalah korupsi di kalangan remaja umumnya terjadi dalam linkungan sekolah, kampus, bahkan di linkungan sosial.
Masalah korupsi yang terjadi di sekolah misalnya tindakan seperti menyontek saat ujian, manipulasi data tugas atau plagiat hingga menggunakan uang kas kelas tanpa di ketahui oleh bendahara kelas, masalah ini di akibatkan oleh kurangnya pengawasan dari pihak sekolah.
Munculnya tindakan korupsi di lingkungan kampus diakibatkan oleh lemahnya pengawasan, kurangnya transparansi, nepotisme, mark-up anggaran, serta gratifikas yang di buat oleh institusi.
Sedangkan banyaknya faktor terjadinya korupsi di lingkungan sosial antara lain, lemahnya ekonomi, tekanan linkungan, kesenjangan sosial dan kerisis kepercayaan.
Menurut pandangan para ahli berkaitan korupsi yang terjadi di kalangan remaja sebagai perilaku koruptif yang berakar dari pembiasaan sejak dini dan pengaruh linkungan sosial.
Korupsi pada remaja serinkali mewujud dalam penyimpangan norma demi keuntungan peribadi.
Menurut (Donald R. Cressey): mengatakan bahwa remaja melakukan Tindakan korupsi karena adanya tekanan tuntutan nilai atau gaya hidup. Sedangkan Menurut (Jack Bologne): korupsi dipicu oleh keserakahan (Greed) dan kesempatan.
Dan menurut (Robert Merton): menyatakan bahwa korupsi terjadi akibat tekanan sosial untuk mencapai tujuan seperti kesuksesan akedemis atau materi, melalui cara-cara yang melanggar norma karena keterbatasan akses.
Berikut ini upaya yang di tawarkan oleh penulis dalam mengatasi Tindakan korupsi pada kalangan remaja, untuk mengatasi korupsi di kalangan remaja perlu berfokus pada pendekatan preventif melalui pendidikan karaker dan penguatan emosional integritas di sekolah.
Pertama: Pendidikan karakter dan anti-korupsi di sekolah; mengintegrasi kejujuran dalam tindakan,disiplin waktu, dan jujur dalam mengelola uang kas kelas.
Pendidikan karakter sangat relevan dalam membantu pencegahan korupsi yang terjadi di kalangan remaja, selain membentuk karakter seseorang, pendidikan karakter juga memberikan pemahaman tentangan akan bahayanya tindakan korupsi di usia remaja dan akibat dari tindakan korupsi.
Kedua: Pencegahan korupsi paling efektif bagi remaja adalah penanaman nilai integritas (jujur,mandiri,tanggung jawab,) secara kosisten di sekolah dan rumah, dikombinasikan dengan edukasi berbasis media sosial yang interaktif.
Kejujuran merupakan fondasi utama dari integritas yang harus diinternalisasi untuk menutut mata rantai perilaku koruptif. Tanpa nilai kejujuran yang kuat, seseorang dapat dengan mudah dimanipulasi oleh oknum untuk kepentingan pribadi.
Sebagaimana ditegaskan oleh LASE & HALAWA (2022) dalam studinya mengenai nilai-nilai inti anti-korupsi, penanaman kejujuran adalah investasi moral jangka panjang yang paling efektif untuk membangun remaja yang memiliki kendali diri terhadap godaan penyalahgunaan wewenang.
Masalah yang kerap terjadi di kalangan remaja adalah ketidakjujuran. dampak atau masalah yang menyebapkan ketidakjujuran adalah tekanan sosial yang semakin tinggi.
Dalam survei yang dilakukan oleh UNICEF, anak mudah di indonesia menyatakan bahwa mereka merasakan tekanan yang lebih besar untuk sukses di bandinkan generasi sebelumnya.
Tekanan ini seringkali mendorong mereka untuk mengambil jalan pintas, termasuk berbohong, untuk mencapai tujuan mereka.
Pengaruh media sosial juga telah mempengaruhi pandangan kaum remaja terhadap kejujuran, di mana pencitraan diri yang positif sering kali lebih diutamakan daripada integritas(UNICEF).
Kurangnya kejujuran bukan hanya sekedar masalah moral bagi remaja, tetapi juga dapat menimbulkan dampak yang lebih luas. Misalnya mempengaruhi kesehatan mental.
Menurut pendidikan karakter sering berbohong cenderung mengalami ganguan piskologos seperti depresi (tirto.id). Dalam konteks yang lebih luas,kurangnya kejujuran dapat mempengaruhi ekonomi dan pemerintah.
Hasil penelitian yang mengukur tingkat kejujuran di kalangan remaja di berbagai negara menujukan bahwa indonesia berada diposisi yang cukup rendah.
Dalam eksperimen yang di lakukan di 40 negara, indonesia menempati 33 dalam hal pengembalian dompet yang hilang. Hanya sekitar 40% orang indonesia yang mengembalikan damprt yang di temukan meskipun dompet tersebut berisi uang(tito.id).
Upaya membangun karakter jujur di kalangan remaja. Membangun kembali karakter jujur di kalangan remaja di indonesia memerlukan pendekatan yang komprehensif.
Pendidikan karakter di sekolah dan keluarga harus diperkuat, dengan memberikan contoh yang konkrit berkaitan pentingnya kejujuran dalam kehidupan remaja selain itu, perlu adanya peningkatan kesadaran akan dampak negatif dari ketidakjujuran, baik bagi kalangan remaja maupun bangsa dan negara.
Maka dengan demikian pentingnya upaya menanamkan kejujuran dalam kalangan remaja sangat krusial bagi remaja untuk membangun karakter berintergritas,meninkatkan kepercayaan diri, dan menciptakan hubungan sosial yang sehat serta positif.
Manfaat kejujuran juga berpengaruh terhadap perilaku korupsi karena merupakan fondasi utama dari nilai antikorupsi yang membangun rasa kesadaran akan bahayanya tindakan korupsi di kalangan remaja.













