Opini oleh Yohana Antonia Novianita (Mahasiswi STIPAS st. Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Kecerdasan buatan (AI) telah menjadi salah satu inovasi terkemuka di era digital, yang mengubah berbagai aspek kehidupan termaksud dalam dunia pendidikan.
Dalam pandangan Gereja Katolik, perkembangan AI tidak dilihat sebagai sesuatu yang netral semata, melaikan sebagai alat yang memiliki potensi baik maupun buruk, tergantung pada bagaimana kita menggunakannya.
Berdasarkan ajaran Geraja, AI dapat berperan sebagai media edukasi yang sangat konstruktif, dengan ketentuan bahwa selalu diarahkan oleh nilai-nilai moral, martabat manusia sebagai citra Allah, dan tujuan pendidikan yang sesuai dengan ajaran iman.
Antiqua et Nova (Ancient and New): Note on the Relationship between Artificial Intelligence and Human Intelligence’’ (Januari 2025)
Menegaskan bahwa AI dapat menjadi sumber pendidikan yang berharga untuk meningkatkan akses, memberi personalisasi, dan umpan balik segera.
Namun, penggunaannya tidak boleh meggantikan hubungan penting antar guru dan siswa, karena kehadiran fisik guru menciptakan dinamika relasional yang tidak dapat direplikasikan oleh AI.
Selain itu, diperingatkan akan resiko ketergantungan pada teknologi, penyebaran imformasi biasa atau palsu, dan pentingnya transparansi serta pengawasan etis dalam penggunaanya.
Dokumen juga menyebut bahwa pendidkan harus mendorong kemampuan berpikir kritis dan mandiri, bukan hanya mengumpulkan imformasi, serta menekankan peran universalitas Katolik sebagai ‘’loboratorium harapan’’ dalam mengembangkan pendekatan lintas disiplin terhadap AI.
(Disediakan oleh Dikasteri Doktri iman dan Diksateri Kebudayaan dan Pendidkan, disetujui oleh Paus Fransiskus)
Peran Kecerdasan Buatan (AI) Sebagai Media Edukasi dalam Pandangan Gereja Katolik
1. AI Sebagai Alat Untuk Menigkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan
Menurut ajaran Gereja Katolik, pendidikan adalah hak dasar setiap manusia yang harus diperjuangkan ( seperti yang ditegaskan dalam Gravissimum Educationis, 1965).
Pesan Paus Fransiskus untuk hari perdamaian sedunia 2024 menyoroti pentingnya mendidik generasi muda untuk mampu mendiskusi data yang dihasilkan oleh AI, serta memahami aspek sosial dan etis dari pengembangan dan penggunaan teknologi.
Ini mendukung gagasan bahwa AI dalam pendidikan harus diarahkan untuk membentuk individu tang bertanggung jawab dan memiliki wawasan etis.
AI dapat berperan sebagai media edukasi yang memperluas akses pembelajaran bagi kelompok yang berdampak, seperti masyarakat di daerah terpencil, penyandang diabilitas, atau mereka yang memiliki kendala ekonomi.
Melalui platform pembelajaran berbasis AI, konten pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu, meningkatkan efektifitas pembelajaran dan membantu mewujudkan prinsip kesejehteraan dalam bidang pendidikan.
2. AI harus Diarahkan Oleh Nilai Moral Dan Mertabat Manusia
Gereja katolik menekankan bahwa setiap teknologi harus melayani martabat manusia, bukan sebaliknya.
Dalam konteks pendidkan berbasis AI, hal ini berarti sistem AI tidak boleh menggantikan peran manusia sebagai pendidik dan pembeimbing, karena pendidikan tidak hanya tentang transfer pengetahuan tetapi membentuk karakter dan nilai moral.
Ajaran Laudato si dan humanae vitae menggingatkan bahwa teknologi harus diarahkan untuk memperkuat hubungan antarmanusia, menghindari individualisme berlebihan, dan memastikan bahwa konten pendidikan sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan iman.
3. AI Sebagai Bantuan Untuk Mendorong Pembelajaran Yang Mendalam
AI dapat membantu pendidik dalam menganalisis kebutuhan dan kemampuan setiap peserta didik, menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif, seperti menyediakan sumber daya yang beragam.
Dalam pandangan Gereja, hal ini selaras dengan tujuan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi juga kapasitas untuk berpikir kristis, membuat keputusan yang betanggung jawab, dan menghargai kebenaran.
AI dapat menjadi alat yang membantu manusia mengeksplorasi pengetahuan lebih luas, asalkan tetap dijalankan dengan lebih luas dan mendalam.
4. Perlunya Pengawasan dan Tanggung Jawab dalam Penggunaan AI
Geraja Katolik juga mengingatkan akan resiko yang mungkin muncul dari penggunaan AI dalam pendidikan, seperti penyebaran informasi yang salah, manipulasi data, atau pemisahan sosial akibat ketergantungan pada teknologi digital.
Oleh karena itu, peran AI sebagai media edukasi harus selalu diimbangi dengan pengawasan yang ketat dari pihak yang berwenang, pendidik, dan komunitas, serta penanaman kesadaran tentang tangung jawab dalam menggunakan teknologi.
Gereja menekankan bahwa manusia harus tetap menjadi pengendali utama teknologi, bukan objek yang dikendali olehnaya.
Kesimpulan
Dalam perspektif Geraja Katolik, AI juga memiliki peran penting sebagai media edukasi yang dapat memberi manfaat besar bagi masyarakat, asalkan digunakan dengan prinsip moral yang benar.
AI harus berfungsi sebagai alat instrumen yang melayani kebutuhan manusia, meningkatkan akses pendidkan, mendukung pembentukan karakter, dan diarahkan untuk mewujudkan kabaikan bersama.
Dengan demikian, penggunaan AI dalam pendidikan dapat menjadi bagaian dari upaya untuk mengembangkan potensi diri dan berkontribusi pada kemajuan umat beriman yang sejalan dengan ajaran Gereja Katolik.













