Opini oleh Kardianus Sakung (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Dalam era zaman sekarang ini, pendidikan karakter sangat berperan penting dalam dunia pendidikan karena itu orang tua harus berperan penting dalam membina karakter dari anaknya.
Karna itu membentuk peserta didik yang berkarakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Kerja sama yang erat antara lembaga pendidikan dan orang tua adalah kunci utama agar nilai yang di ajarkan tidak hanya dipahami,tetapi juga diperhatikan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Didalam lembaga pendidikan melalui kebijakan sepert (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Repubelik Indonesia), pendidikan karakter telah menjadi bagian penting dalam kurikulum.
Dalam lembaga pendidikan guru itu tidak hanya sebagai mengajar, tetapi guru juga sebagai pendidik dan juga sebagai fasilitator dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar didalam kelas.
Kerja sama antara orangtua dan guru tau memastikan bahwah nilai-nilai positif yang diajarkan disekolah tidak bertentangan dengan kehidupan seorng siswa.
Membangun kemitraan antara keluarga dan sekolah adalah fundasi utama dalam membina karakter seorang peserta didik. Anak tidak hanya belajar dalam ruangan kelas, tetapi juga dirumah dan dilingkungan sekitarnya.
Karena itu,konsistensi nila antara sekola dan keluarga sangat menentukan keberhasilan pembentukan karakter. Keluarga adalah lingkungan pertama dan utamadalam dunia pendidikan.
Karna itu dari rumah kita suda membentuk karakter yang baik dan benar sebelum memasuki di lembaga pendidikan, peran orangtua sangat penting dalam membina karakter dari seorang anak.
Kerja sama antara antara sekolah dan orang tua dapat diwujutkan melalui komunikasi ruti antara orangtua dan guru,keterlibatan orangtua dalam kegiatan yang di laksanakan dilingkungn sekolah, serta kesepahaman tentang aturan dan nilai yang ingin dibangun bersab lembaga pendidikan dan keluarga.
Ketika sekolah dan keluarga memiliki visi yang sama, peserta didikakan mendapat kan pesan moral yang selaras sehingga tidak mengalami kebingungan nilai moral.
Kebijakan nilai moral pada anak bukan hanya hal yang dapat disampaikan, karena dapat berdampak jangka panjang perkembangan dari mereka.
Misalnya, didalam lingkungan sekola peserta diajarakan untuk jujur bahkan membantu ketika membentuk kesalahan, tetapi di rumah orang tua justru menunjukan atau memberikan anak berbohong untuk menghindari masalah.
Hal ini membentuk anak bingung apakah kejujuran benar benar penting atau tidak. Misalnya dalam lingkungan di sekolah guru menunjukan sikap sabar dan menghargai pandangan orang lain, tetapi di rumah orang tua sering menunjukan sikap marah dan tidak menghargai pendapat anak, anak mengalami kesulitan dalam menentukan pola prilaku yang tepat untuk ditiru.
Sekolah mungkin berfokus pada pada pengembang nilai kerja sama keluarga lebi menekankan pada kompetisi individu. Akibatanya anak tidak harus lebih mengutamakan kolaborasi antara sesama dalam kehidupan sehari hari.
Di era digital saat ini juga terpadu berbagai nilai dari media sosial teman sebaya atau konten daring. Jika sekolah dan keluarga tidak hanya memberikan landasan nilai yang kuat dan konsisten, maka anak akan lebih mudah terpengaruh oleh nilai-nilai yang tidak sesuai kehidupan moral, maka anak tersebut akan mengalami kebingungan.
Menjaga keselarasan nilai moral setelah kolaborasi terbentuk sangat krusial untuk memastikan etik kerja tetap terjaga dan tujuan bersama terciptanya tanpa konflik nilai.
Upaya yang dapat dilakukan penguatan komunikasi, penerapan budaya, saling menghormati, serta evaluasi berkala.
Komunikasi terbuka dan jelas dalam membangun saluran komunikasi yang teransparan memungkinkan setiap anggota tim menyampaikan aspirasi,ide, /kekewatiran terkait dengan etika, sehingga potensi pelanggaran moral dapat dihindari lebi awal.
Orang tua aktif membentuk perilaku anak di rumah berdasarkan laporan guru dan sebaliknya, guru menerima masukan mengenai perkembangan perilaku anak dari orang tua.
Pendidik dan orang tua menjadi panutan dalam perilaku moral.Anak belajar dari apa yang mereka lihat,sehingga keseluruhan perilaku di kedua lingkungan sangat penting.
Pada ahirnya pendidikan karakter adalah fundasi utama dalam lembaga pendidikan makadari dari itu sekolah dan keluarga arus bekerja sama dalam membina karakter dari peserta didik.
Orang tua harus membina karakter dari anaknya supaya anaknya menjadi orang yang bail, baik dalam dalam lembaga pendidikan, ditenga keluarga ataupun dalam kehidupan bermasar akat.
Dan didalam lembaga pendidikan harus ada pendidikan karakter supaya peserta didik mampu memahami perbuatan yang baik dan benar, baik dalam lembaga pendidikan maupum dalam kehidupan sehari-harinya.













