Oleh: Yohanes Darmansi
Mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng
Ketika Lingkaran Tradisi Kehilangan Isinya
Kebudayaan Manggarai hari ini sedang menghadapi tantangan eksistensial yang sunyi namun mematikan. Di satu sisi, kita masih menyaksikan kemegahan upacara adat di rumah gendang atau riuh rendah festival budaya yang digagas secara seremonial. Namun di sisi lain, ada sebuah ruang intim yang perlahan-lahan runtuh dan sepi: ruang ketertarikan generasi muda pada akar budayanya sendiri.
Lonto leok falsafah luhur duduk melingkar untuk bermusyawarah, merekatkan persaudaraan, dan mewariskan petuah leluhurkini ibarat lingkaran kosong yang kesepian.
Generasi baru kita, yang lahir di tengah derasnya arus globalisasi, perlahan-lahan memilih keluar dari lingkaran tersebut.
Kondisi ini semestinya menjadi kecemasan kolektif. Sebab, kebudayaan bukanlah ornamen masa lalu yang sekadar dipajang saat pesta adat, melainkan sebuah identitas hidup (batu tana) yang tak akan pernah bisa digantikan oleh imitasi budaya luar.
Tergantikan oleh “Lingkaran Virtual” Gawai
Mengapa lonto leok kita mulai kesepian? Jawabannya ada pada pergeseran ruang berteduh generasi muda. Penetrasi teknologi dan algoritma media sosial telah melahirkan “ruang kumpul baru” yang visual, instan, dan melintasi batas negara. Anak muda hari ini jauh lebih fasih mendiskusikan tren viral global di layar gawai mereka ketimbang mengenali ritus, sastra lisan (torok), atau kesenian tradisional yang lahir dari tanah tempat mereka berpijak.
Mengadopsi hal baru dan menjadi modern tentu bukan sebuah kesalahan. Namun, ia bertransformasi menjadi petaka kebudayaan ketika pemuda Manggarai mulai gagap melafalkan bahasa daerahnya, canggung berada dalam ritual adat, dan mengasingkan nilai gotong royong demi gaya hidup yang individualis.
Kita sedang menukar kehangatan sebuah lingkaran komunitas dengan dinginnya layar kaca. Ketika identitas ini terkikis, nilai mbolot te bolot (menyelesaikan masalah bersama) digantikan oleh egoisme modernitas.
Merevitalisasi Ruang: Menghidupkan Kembali ‘Lonto Leok’
Menyelamatkan budaya Manggarai tidak akan cukup jika hanya mengandalkan perayaan formalitas tahunan atau sekadar menjadikannya komoditas pariwisata. Kita butuh langkah konkret untuk membawa kembali anak muda ke dalam lingkaran:
1. Sinergi Akademis di Sekolah: Institusi pendidikan, terutama di Manggarai, harus menjadi pelopor utama. Budaya lokal harus diintegrasikan secara organik—bukan sebagai muatan lokal yang membosankan, melainkan melalui ruang ekstrakurikuler interaktif dan pembelajaran kontekstual yang memantik rasa bangga.
2. Redesain Ruang Budaya oleh Pemuda: Generasi muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai penonton pasif dalam ritus adat. Mereka harus dilibatkan, diberi panggung, dan diajak berdialog agar memahami filosofi terdalam di balik setiap simbol kebudayaan.
3. Keberpihakan Kebijakan Pemerintah: Pemerintah daerah perlu hadir dengan kebijakan kebudayaan yang visioner dan berkelanjutan. Investasi pada ruang-ruang kreatif berbasis kebudayaan lokal bagi anak muda harus diprioritaskan sebelum tradisi-tradisi ini benar-benar punah ditelan zaman.
Kesimpulan: Pulang ke Rumah Gendang
Pada akhirnya, masa depan kebudayaan Manggarai tidak ditentukan oleh seberapa megah rumah adat kita berdiri, melainkan oleh seberapa besar rasa bangga yang mengalir di darah generasinya.
Merawat budaya bukan berarti kita menolak kemajuan zaman atau menutup diri dari dunia luar. Menjaga budaya adalah tentang menjaga kompas batin.
Sejauh apa pun kaki generasi muda Manggarai melangkah menantang dunia, mereka harus tahu ke mana jalan untuk pulang. Jangan biarkan lonto leok kita menjadi artefak yang mati dan kesepian. Menjaga identitas ini adalah bentuk penghormatan paling luhur kepada leluhur, sekaligus cara terbaik bagi kita untuk tetap menjadi manusia Manggarai yang utuh di era modern.













