Opini  

Belajar Tidak Berhenti di Ruang Kelas

Opini oleh Aloysia Juniati Danto (Mahasiswi UNIKA Santu Paulus Ruteng)

MANGGARAI,PENA1NTT.COM – Selama ini, keberhasilan pendidikan sering diukur dari nilai rapor, peringkat, dan ijazah. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu sempit. Sekolah seharusnya membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, berkarakter, dan siap menghadapi persoalan hidup.

Jika hanya mengejar angka, sekolah akan menghasilkan lulusan yang pandai menghafal, tetapi gagap ketika berhadapan dengan masalah nyata.

Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas pada 2025 sebesar 9,41 tahun, setara lulus SMP.

Namun, kesenjangan antarwilayah masih lebar. DKI Jakarta menjadi yang tertinggi dengan 11,58 tahun, hampir setara lulus SMA, sedangkan Papua Pegunungan terendah. Angka ini menunjukkan bahwa kesempatan belajar belum dinikmati secara merata.

Persoalan pertama terletak pada cara belajar yang masih berpusat pada guru. Siswa datang, duduk, mencatat, lalu diuji. Kesempatan untuk bertanya, berdebat, dan mencoba hal baru sangat terbatas. Akibatnya, rasa ingin tahu siswa perlahan padam. Mereka belajar demi ujian, bukan demi memahami dunia.

Persoalan kedua adalah anggapan bahwa belajar hanya terjadi di sekolah. Padahal, banyak pelajaran penting justru muncul di luar ruang kelas. Anak belajar bertanggung jawab saat membantu orang tua di rumah.

Remaja belajar bekerja sama melalui kegiatan gereja, organisasi, atau kerja bakti. Mahasiswa belajar berpikir kritis ketika menulis opini dan menyampaikannya kepada publik. Pengalaman semacam ini membentuk karakter yang tidak dapat diajarkan lewat buku saja.

Di banyak desa di Flores, misalnya, anak-anak belajar menghitung dan mengukur saat membantu orang tua di kebun, belajar menyimak dan bercerita dari tuturan adat di kampung, serta belajar bekerja sama lewat gotong royong membangun rumah atau jalan desa.

Kemampuan ini nyata dan berguna, tetapi sering tidak dihargai dalam penilaian sekolah. Sekolah seharusnya menghubungkan pengalaman itu dengan materi pelajaran, bukan menganggapnya sebagai dunia yang terpisah.

Karena itu, pendidikan perlu diubah menjadi proses yang lebih hidup:

Pertama, guru dan dosen sebaiknya berperan sebagai fasilitator. Peserta didik diajak mengamati masalah di sekitarnya, berdiskusi, lalu mencari solusi bersama.

Kedua, keluarga harus menjadi mitra sekolah, bukan sekadar penonton. Orang tua dapat menumbuhkan kebiasaan membaca dan bercerita di rumah.

Ketiga, pemerintah wajib memeratakan fasilitas pendidikan, terutama di daerah terpencil yang masih kekurangan guru, buku, dan akses internet.

Tentu ada yang berpendapat bahwa pembelajaran di luar kelas sulit diukur dan berisiko menurunkan disiplin. Kekhawatiran itu patut dipertimbangkan.

Namun, pembelajaran yang kontekstual dapat tetap terarah apabila tujuan, kegiatan, dan penilaiannya dirancang dengan jelas. Dengan begitu, kebebasan belajar tidak berubah menjadi kebebasan untuk lalai.

Pada akhirnya, pendidikan bukan lomba mengumpulkan nilai tertinggi. Pendidikan adalah proses menjadi manusia yang utuh. Ruang kelas hanyalah salah satu tempatnya. Selebihnya, belajar tumbuh di rumah, di tengah masyarakat, dan dalam kebiasaan untuk terus ingin tahu sepanjang hidup.

Jika kita memahami hal ini, sekolah tidak lagi menjadi tempat belajar satu-satunya, melainkan titik awal perjalanan belajar yang panjang.

 

Editor: Nana Patris Agat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *