MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM – Di tengah keluhan petani yang kerap menghadapi fluktuasi harga dan permainan rantai distribusi yang panjang, seorang pengusaha asal Labuan Bajo yang akrab disapa Ninonk memilih terjun langsung ke sektor pertanian. Langkah ini disebut sebagai upaya menciptakan keseimbangan pasar sekaligus memperkuat posisi tawar petani yang selama ini dinilai kerap menjadi pihak yang paling dirugikan.
Menurut Ninonk, keputusannya memasuki dunia pertanian bukan semata-mata untuk mencari keuntungan bisnis, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi petani yang sering kali harus menerima harga jual hasil panen yang tidak sebanding dengan kerja keras dan biaya produksi yang mereka keluarkan.
“Yang pasti saya hadir di dunia pertanian supaya bisa menjadi penyeimbang. Saya melihat situasi petani yang terus makan angin akibat ulah makelar,” ujar Ninonk.
Salah satu usaha yang kini digelutinya adalah perdagangan bawang merah. Berbeda dengan pola yang lazim terjadi, ia mengaku membeli hasil panen langsung dari petani dengan harga yang dianggap layak dan menguntungkan petani. Setelah itu, bawang dipasarkan kembali kepada konsumen dengan harga yang tetap kompetitif.
“Saya turun langsung ke kebun untuk membeli bawang dari petani. Saya datang membawa timbangan dan uang tunai, sehingga transaksi bisa dilakukan saat itu juga. Dengan cara ini, petani tidak perlu menunggu lama atau bergantung pada tengkulak. Hasil panen mereka bisa langsung terjual dengan harga yang lebih layak,” ujar Ninonk.
Selain memberikan manfaat bagi petani, usaha tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar, khususnya kaum ibu. Ninonk mengatakan bahwa proses pascapanen, seperti pembersihan dan penyortiran bawang, akan melibatkan ibu-ibu rumah tangga sehingga mereka dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga.
“Selain membantu petani, kita juga bisa mempekerjakan ibu-ibu untuk membersihkan dan menyortir bawang. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan dan ikut merasakan manfaat dari usaha pertanian ini,” katanya.
Menurutnya, selama ini persoalan utama yang dihadapi petani bukan terletak pada rendahnya produktivitas, melainkan pada sistem pemasaran yang membuat keuntungan terbesar justru dinikmati oleh pihak-pihak yang tidak terlibat dalam proses produksi.
Ia menilai praktik sejumlah tengkulak atau makelar yang memainkan isu pasar sering kali berdampak pada jatuhnya harga di tingkat petani. Akibatnya, petani terpaksa menjual hasil panen dengan harga murah karena khawatir produknya tidak terserap pasar.
“Petani harus mendapatkan keuntungan dari jerih payah yang sudah mereka kerjakan selama berbulan-bulan. Jangan sampai mereka yang menanam, merawat, dan menanggung risiko gagal panen, tetapi keuntungan terbesar justru dinikmati oleh pihak yang hanya bermain informasi dan spekulasi harga,” tegasnya.
Fenomena panjangnya rantai distribusi hasil pertanian memang menjadi persoalan klasik di berbagai daerah di Indonesia. Ketika informasi harga tidak sepenuhnya dikuasai petani, ruang bagi praktik spekulasi semakin terbuka. Dalam kondisi tersebut, petani sering berada pada posisi lemah dan tidak memiliki banyak pilihan selain menjual hasil panen dengan harga yang ditentukan pasar atau perantara.
Kehadiran pelaku usaha yang membeli langsung dari petani dinilai dapat menjadi alternatif untuk memutus mata rantai distribusi yang terlalu panjang. Selain memberi kepastian pasar bagi petani, pola tersebut juga berpotensi menciptakan harga yang lebih adil bagi konsumen.
Ninonk berharap semakin banyak pihak yang berani masuk ke sektor pertanian dengan pendekatan yang berpihak kepada petani. Menurutnya, pertanian tidak boleh terus-menerus menjadi sektor yang menghasilkan keuntungan besar bagi para perantara, sementara petani sebagai pelaku utama justru tetap berada dalam lingkaran ketidakpastian ekonomi.
“Kalau petani sejahtera, maka sektor pertanian akan tumbuh. Tetapi jika yang terus menikmati hasil adalah para pemain di luar lahan pertanian, maka petani akan semakin kehilangan semangat untuk bertanam,” katanya.
Langkah yang dilakukan Ninonk menjadi sinyal bahwa sektor pertanian membutuhkan lebih banyak inovasi dalam tata niaga dan distribusi. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi petani, keberpihakan terhadap produsen menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan sistem pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan. Di saat yang sama, keterlibatan masyarakat sekitar, termasuk kaum ibu melalui kegiatan pascapanen, dapat menciptakan efek ekonomi yang lebih luas dan memberi manfaat langsung bagi keluarga-keluarga petani di pedesaan.













