PENA1NTT – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah terus menuai pro dan kontra di ruang publik. Di tengah kritik soal efektivitas dan efisiensi anggaran, pengalaman langsung di lapangan justru menunjukkan dampak positif, terutama terhadap kedisiplinan dan perkembangan psikomotorik siswa.
Hal ini terungkap dari kunjungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lokoboko di SMPK St. Antonius Ndona dan SMAK Negeri St. Thomas Morus Ende, Sabtu (18/4/2026). Guru dan siswa yang ditemui memberikan perspektif berbeda dari narasi yang berkembang di media sosial.
Guru Bimbingan dan Konseling SMPK St. Antonius Ndona, Yohana Oktaviana Nua (26), menilai program MBG membawa perubahan signifikan dalam kebiasaan dan kehadiran siswa di sekolah.
“Program ini berdampak positif. Guru mendampingi siswa saat makan sekaligus mengajarkan pola hidup sehat seperti mencuci tangan sebelum makan. Antusiasme siswa sangat terlihat, bahkan kehadiran mereka meningkat dari Senin hingga Jumat,” ujarnya.
Namun, ia juga mencatat fenomena menarik. Ketika MBG tidak diberikan pada hari Sabtu, tingkat kehadiran siswa cenderung menurun. “Banyak siswa yang alpa atau tidak hadir tanpa keterangan,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan Thomas Emanuel Naga (14), siswa SMPK St. Antonius Ndona. Ia mengaku kehadiran MBG membuat siswa lebih rajin datang ke sekolah.
“Kami senang karena makanan yang diberikan sudah terukur gizinya. Tidak semua dari kami sarapan di rumah, jadi MBG sangat membantu. Sekarang kami lebih semangat ke sekolah,” katanya.
Di tingkat SMA, guru SMAK Negeri St. Thomas Morus Ende, Antonia Imu Sedho, S.Pd., juga mengakui manfaat program ini. Menurutnya, MBG tidak hanya membantu pemenuhan gizi siswa, tetapi juga memengaruhi kedisiplinan waktu.
“Siswa yang tinggal di kos atau asrama jadi lebih tepat waktu karena pembagian MBG dilakukan saat istirahat pertama. Ini membantu mereka mengatur pola makan, baik sebagai sarapan maupun makan siang,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua OSIS SMAK Negeri St. Thomas Morus Ende, Prisila Toja (17), menyoroti dampak sosial dari program tersebut. Ia menilai MBG tidak hanya soal makanan, tetapi juga membangun kebersamaan di lingkungan sekolah.
“Program ini memberi nutrisi sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan. Kami berharap program ini tetap dilanjutkan dan menjadi warisan bagi pemimpin berikutnya,” ujarnya.
Di tengah perdebatan publik, temuan di lapangan menunjukkan bahwa MBG tidak sekadar program bantuan pangan, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kehadiran, kedisiplinan, serta membentuk kebiasaan hidup sehat siswa.
Program ini kini menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung kualitas pendidikan, khususnya dalam aspek kesehatan dan perkembangan psikomotorik anak.***













