MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Peringatan Jumat Agung tahun ini terasa sangat berbeda dan istimewa bagi umat Katolik di Stasi Paje, Paroki Orong, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat.
Kehadiran para mahasiswa Universitas Katolik (UNIKA) Santu Paulus Ruteng yang sedang menjalani tugas Asistensi Paskah sukses menyentuh hati warga setempat.
Selain menyumbangkan suara merdu sebagai petugas liturgi koor, kelompok mahasiswa ini juga mempersembahkan Tablo atau drama Jalan Salib yang mengharukan pada ibadat Jumat Agung, (3/4/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan guna membantu umat agar lebih dalam meresapi kisah sengsara Yesus Kristus.
Drama Jalan Salib ini disiapkan dengan sangat matang oleh para mahasiswa. Prosesi dimulai sejak pagi hari dengan mengambil titik awal di Lapangan KBG Ogo.
Di lokasi tersebut, adegan saat Yesus diadili oleh Pontius Pilatus diperagakan secara hidup dan dramatis. Setelah itu, rombongan bergerak menyusuri rute menuju titik akhir di halaman Gereja Stasi Paje.
Melewati rute yang menanjak dan berdebu, para mahasiswa tetap semangat dan menjiwai setiap adegan perhentian Jalan Salib.
Suara cambukan, bentakan prajurit Romawi, hingga tangisan perempuan Yerusalem terdengar sangat nyata, membuat ratusan umat yang mengikuti prosesi tak kuasa menahan haru.
Banyak umat terlihat berlutut dan terisak menyaksikan adegan Yesus yang terjatuh berulang kali akibat memikul salib kayu yang berat, hingga puncaknya saat adegan penyaliban di pelataran Gereja.
Sosok utama yang menjadi sorotan dalam pementasan ini adalah Petrus Ernes, mahasiswa yang dipercaya memerankan tokoh Yesus Kristus.
Dengan penuh totalitas, ia membawakan peran tersebut menggunakan beban salib asli dan riasan luka yang tampak nyata.
Usai pementasan, Petrus membagikan refleksi spiritualnya yang mendalam. Diakuinya, bahwa dalam setiap langkah, ia mencoba menghidupi makna pengorbanan, kebenaran, dan keadilan.
Bagi Petrus, pengalaman ini bukan tentang eksistensi di atas panggung, tetapi juga upaya merasakan dan memahami arti pengorbanan yang sesungguhnya.
“Saat berperan sebagai Yesus, saya tidak sekadar berakting, tetapi mencoba menghidupi makna pengorbanan, kebenaran, dan keadilan. Pengalaman ini bukan tentang siapa saya di atas panggung, tetapi bagaimana saya belajar merasakan arti pengorbanan yang sesungguhnya. Ini sangat luar biasa,” ungkap Petrus dengan nada bergetar.
Ketua Dewan Stasi Paje menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada para mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng.
Menurutnya, visualisasi kisah sengsara ini sangat membantu umat dalam meresapi makna penebusan dosa pada hari Jumat Agung.
Kegiatan Asistensi Paskah ini merupakan komitmen mahasiswa yang tidak hanya fokus pada pendidikan akademik di kampus, tetapi juga mampu mengabdi secara langsung kepada masyarakat sebagai wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Karya pelayanan di Paroki Orong ini pun dipastikan akan membekas dalam ingatan warga Stasi Paje.
Kontributor: Paskalis Farly Tofen













